Publikasi pada jurnal bereputasi international (SCOPUS, WOS, Copernicus, Thomson Reuters, DOAJ, dsb) maupun jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 dan 2 beberapa tahun terakhir ini tidak hanya menjadi bagian dari Tri dharma Perguruan Tinggi, namun juga menjadi sasaran sekaligus tanggungjawab yang melekat pada tugas dosen dan mahasiswa program pascasarjana. Ada pengalaman unik yang dapat saya bagikan ketika awal mula menulis article untuk jurnal international bereputasi. Pengalaman menulis pada jurnal international bereputasi berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya yang memang berusaha untuk aktif menulis pada forum-forum seminar international (Prosiding Seminar International) maupun jurnal nasional yang tidak terakreditasi. Tingkat persaingan yang sangat ketat dan juga sistem seleksi manuscript yang sangat ketat serta wajib memenuhi standarisasi dan gaya selingkung yang telah ditentukan oleh editor jurnal International, tidaklah semudah yang saya pikirkan sebelumnya.
Penolakan demi penolakan pernah saya alami ketika awal mula saya menulis article ilmiah untuk dipublikasikan ke jurnal international terindeks scopus. Dengan berbekal keyakinan saya beranikan diri mengirimkan manuscript saya pada ELSIVIER, dengan harapan yang sangat besar bahwa manuscript yang saya tulis bisa terbit pada jurnal international terindeks scopus Q1. Namun kenyataan berkata lain, setelah saya menunggu selama kurang lebih 3 bulan saya mendapatkan balasan dari editor jurnal melalui E-mail bahwasannya naskah article saya tidak dapat diterbitkan di jurnal tersebut. Hal ini tidak membuat saya patah semangat, saya masih yakin bahwa tulisan saya ini akan bisa terbit di jurnal international bereputasi. Beberapa kolega menyarankan untuk bisa mengirim article yang saya tulis ini pada SAGE OPEN journal. Setelah saya menunggu selama kurang lebih 4 bulan ternyata article saya juga tidak berjodoh untuk diterbitkan di SAGE OPEN. Dari kegagalan yang saya terima ini, saya belajar banyak hal melalui saran dan komentar yang diberikan oleh reviewer, ada beberapa point yang harus saya perbaiki termasuk ketajaman isi, perumusan masalah, temuan hasil penelitian, pembahasan serta teori yang digunakan sebgai pendukung yang relevan dengan topik yang di bahas dalam article dan juga tata bahasa Inggris yang harus benar dan mudah dipahami.
Dari kegagalan yang saya alami, saya menemukan ilmu baru yang saya gunakan untuk perbaikan article yang saya tulis. Masih dengan keyakinan yang kuat saya beranikan diri mengirimkan manuscript yang saya tulis tersebut ke IJAL (International Journal of Applied Lingusitics, Q2) tentunya article yang saya kirimkan juga sudah melalui proses perbaikan dari segi isi maupun tata bahasa. Selang 4 bulan kemudian saya mendapat kabar dari Tim Editor IJAL, untuk kali ini kabar gembira itu saya terima, keyakinan saya terbukti, article saya dapat diterima dan diterbitkan di IJAL namun dengan melakukan revisi yang cukup detail dan njlimet dibeberapa bagian dengan batas waktu tak kurang dari 2 minggu. Ya, setelah melampaui revisi yang cukup rumit, Alhamdulilah article saya bisa terbit pada jurnal International bereputasi terindeks SCOPUS Q2 tanpa biaya sepeser pun alias gratis. Namun saya tak berpuas diri sampai disitu, dengan terbitnya article saya pada jurnal international terindeks SCOPUS Q2 mampu memotivasi saya untuk selanjutnya bisa menerbitkan article-article yang sudah saya tulis dan sudah terbit pada jurnal international bereputasi lainya seperti IJET, Prosiding terindek scopus yang diterbitkan oleh IOP, jurnal international terindek scopus dan terakreditasi SINTA 1 (SIELE), jurnal terkareditasi SINTA 2 (LITERA), dan Jurnal nasional terakreditasi SINTA 2 JEFL.
Dr. Dwi Fita Heriyawati, M.Pd saat menerima Penghargaan DRPM DIKTI
Satu hal penting yang bisa saya ambil hikmahnya, jika kita mampu bersabar melewati kesulitan dan kendala yang ada, maka akan banyak hal yang bisa kita ambil hikmah dan menjadi pelajaran yang sangat berharga pada kehidupan kita di masa yang akan datang. Menulis menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi saya. Dengan menulis saya dapat berbagi sedikit informasi yang Allah titipkan pada saya untuk bisa dinikmati khalayak ramai. Selanjutnya untuk memudahkan mencari jurnal yang akan kita tuju untuk publikasi article yang sudah ditulis kita bisa menggunakan Journal Finder. Elsivier juga menyediakan menu Elsivier Journal Finder, penggunaanya pun sangat mudah dan sederhana, dengan memasukkan judul, abstrak dan kata kunci dari tulisan kita maka Journal finder akan mengarahkan pada journal yang cocok dan sesuai dengan topik dan ide yang kita tulis pada manuscript kita. Untuk jurnal yang terindek pada SINTA, kita bisa menggunakan laman http://sinta.ristekbrin.go.id/journals disini kita bisa menemukan jurnal-jurnal yang sesuai dengan bidang ilmu dan topik yang kita tulis, serta kitapun bisa memilih pemeringkatan akreditasi dari jurnal yang akan kita tuju.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian, dengan menulis kita bisa berbagi dengan siapa saja dimana saja dan kapan saja. Mulailah menulis sedikit demi sedikit dengan menyempatkan waktu dalam sehari untuk tetap menorehkan ide dan kalimat dalam bentuk tulisan yang indah yang dapat kita bagikan pada sekitar kita pada khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya. Pantang menyerah, semangat, tekad sekuat baja serta keyakinan disertai doa yang tiada henti yang akan membantu kita mewujudkan impian untuk dapat menulis pada jurnal international maupun national bereputasi. Pemikiran-pemikiran kecil kita akan mampu memberi kontribusi pada perubahan dunia pendidikan pada khususnya dan dunia secara global ke arah yang lebih baik lagi. “sharing is caring”, Keep motivated, and keep writing.
Penulis Dr. Dwi Fita Heriyawati, M.Pd adalah Kepala Pusat Publikasi Ilmiah dan Rumah Jurnal UNISMA Malang sekaligus Dosen FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA)
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Bu-vita.jpeg10231280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-21 03:00:002020-05-20 18:59:09Bersedekah melalui Publikasi Internasional: Oleh Dr. Dwi Fita Heriyawati, M.Pd Kepala Pusat Publikasi Ilmiah dan Rumah Jurnal UNISMA Malang
Sebelumnya saya sangat bersyukur karena mendapatkan kesempatan berharga dapat mengikuti program pemerintah yang sangat bergengsi, yaitu Program Transfer Kredit Luar Negeri yang diselenggarakan secara langsung oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI). Program Transfer Kredit Luar Negeri ini merupakan program Students Exchange antara Universitas Islam Malang (UNISMA) dan perguruan tinggi ternama di Taiwan, National Dong Hwa University (NDHU) yang berlangsung dari tanggal 2 September 2019 sampai 14 Januari 2020. Bisa dikatakan, satu semester belajar di NDHU, Taiwan bukanlah hal yang mudah dan juga tidak sulit, artinya dibutuhkan waktu, mental dan pengetahuan yang cukup untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat jauh berbeda dengan Indonesia.
Belajar di National Dong Hwa University (NDHU) memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga. Mulai dari profesionalitas dosen pengajar di sini, hampir beberapa dosen pengajar di fakultas bahasa Inggris yang ada di NDHU terkesan dengan keberadaan mahasiswa internasional dari Indonesia. Dikarenakan mahasiswa UNISMA merupakan mahasiswa pertama yang mengikuti program pertukaran mahasiswa di fakultas tersebut. Tetapi itu semua tidak menjadikan saya sebagai mahasiswa pilihan, artinya tidak ada perbedaan antara mahasiswa lokal dan internasional. Dosen pengajar menunjukkan profesionalitasnya dalan mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
Dengan mengikuti program Transfer Kredit Luar Negeri ini, saya mendapatkan banyak sekali manfaat, salah satunya adalah mendapatkan manfaat belajar bahasa asing, yaitu bahasa Mandarin dan budayanya secara langsung di negara ini. Mahasiswa di NDHU adalah mahasiswa dari berbagai negara di belahan dunia, sehingga akan mudah untuk menjalin jejaring antar mahasiswa internasional. Selain itu, kegiatan non-akademik juga saya ikuti, seperti menjadi volunteer dalam kegiatan bergengsi di Taiwan yaitu TICA (Taiwan International Cooperation Alliance) CUP yang diselenggarakan oleh ICDF (International Cooperation and Development Fund) setiap satu tahun sekali. Saya sangat beruntung bias menjadi bagian dari kegiatan besar tersebut yang kebetulan dilaksanakan di NDHU. Tidak hanya itu, saya juga mengikuti kegiatan sosial yang dilaksanakan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) NDHU dan kegiatan agamis yang dilaksanakan FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) TIMUR seperti rutinan kajian islam dan ngaji bersama. Kegiatan kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi saya untuk mengisi waktu luang, sehingga keberadaan saya di sana tidak rugi dengan kegiatan akademis saja.
Banyak hal yang saya dapatkan selama program transfer kredit luar negeri di Taiwan. Rasa syukur dan terimakasih saya sampaikan yang sebesar besarnya kepada UNISMA, KEMENRISTEKDIKTI, NDHU, PPI NDHU, FORMMIT TIMUR, teman, dan keluarga yang selalu mendukung secara positif dalam kegiatan ini. Harapan saya untuk mahasiswa yang belum mengikuti program ini adalah agar supaya berusaha dan belajar lebih giat lagi sehingga kesempatan emas seperti ini dapat menghampiri.
Penulis Andri Jamaul Rifiyani adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (UNISMA) peserta Program Credit Transfer di National Dong Hwa University, Taiwan
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Andri.jpg18571856OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-21 03:00:002020-05-21 12:26:17Credit Transfer di National Dong Hwa University (NDHU), Taiwan Oleh Andri Jamaul Rifiyani Mahasiswa FKIP UNISMA Malang
Ragam kuliner di setiap daerah tentunya memiliki ciri khas tersendiri. Mulai dari cita rasa yang bervariasi, hingga penampilan dan cara penyajian yang unik. Jika di Indonesia saja dapat kita temui ratusan jenis makanan khas, Taiwan pun memiliki banyak sekali makanan khas yang dapat kita temui dengan mudah di area keramaian kota maupun di pedesaan. Bagi pendatang baru atau turis (termasuk saya) mungkin akan menjadi rintangan berat untuk mencicipi beberapa makanan khas Taiwan ini karena dirasa sangat berbeda dengan cita rasa yang kita kenal di tanah air. Ada sentuhan rempah yang sulit untuk di deskripsikan namun itu menjadi aroma yang sebenarnya tidak pernah saya temui di Indonesia. Tak kaget rasanya jika makanan pun saya masukkan kedalam culture shock saya selama minggu pertama hidup di Taiwan.
Sama halnya dengan di Indonesia, sebagian besar penduduk di Taiwan tetap mengonsumsi nasi sebagai makanan utama dalam keseharian mereka. Namun beberapa dari mereka juga mengganti nasi dengan olahan mie dengan kuah maupun dumpling. Tak kaget jika ragam kuliner mie akan sangat mudah ditemui di pinggir jalan untuk menu lunch maupun dinner. Bedanya dengan mie ayam yang saya ketahui di Indonesia, mie di Taiwan akan sangat terasa rempah di bagian kuahnya, serta di hidangkan dengan berbagai lauk seperti fishball with yolk (bakso ikan dengan isian kuning telur), seafood, beef, dan ayam. Mungkin kalau di Indonesia, dumpling ini sangat mirip dengan siomay yang dibuat dari olahan daging ayam maupun sapi. Bedanya, hampir semua dumpling yang saya temui di Taiwan pasti berisi cincangan daging babi yang tidak bisa saya deskripsikan rasanya seperti apa karena saya tidak bisa mencobanya. Hidup di Taiwan selama satu semester membuat saya selalu dirundung rasa penasaran untuk mencoba membiasakan diri untuk mengonsumsi mie sebagai pengganti nasi karena pesimis rasanya untuk mencari dumpling dengan isian yang halal. Harganya pun bervariasi mulai dari NT$ 60 – NT$ 80 atau sekitar Rp. 30.000 sampai Rp. 40.000 tergantung kuantitas mie, jenis dan topping yang kita pilih. Untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya mungkin mengonsumsi mie bisa satu sampai dua kali dalam seminggu saja, karena akan tetap lebih hemat menu nasi dan ikan yang hanya berkisar Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000 an saja.
Selain mie dan dumpling, ada jenis makanan lain seperti stinky tofu, green onion pancake, sticky rice, dan uniknya adalahjika di Indonesia lalapan ayam yang di olah ala Kentucky akan sangat mudah kita temui, beda halnya di Taiwan. Selama hidup di negara ini saya tidak akan pernah menemukan menu ayam tepung ala Kentucky dengan mudah di warung atau restoran (kecuali di KFC). Karena cara mengolah ayam tepung di sini berbeda dengan yang sudah kita temui. Ayam ini dikenal dengan sebutan Shilin Crispy Chicken karena Shilin merupakan nama daerah di Taiwan dan pertama kali dipopulerkan disana. Namun juga banyak yang menyebutnya Taiwanese Crispy Chicken yang bisa kita temui hamper disemua warung makan atau restoran di Taiwan. Cara penyajiannya mirip sekali dengan chicken fillet dan dipotong memanjang. Saat ini Shilin Crispy Chicken pun mulai banyak dijual di Indonesia sebagai olahan khas Taiwan. Untuk harganya pun bervariasi mulai dari NT$ 30 – NT$ 70 jika dirupiahkan sekitar Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 35.000.
Apakah kalian tahu minuman apa yang benar benar khas berasal dari Taiwan? Minuman ini sudah sangat populer dijual di begbagai kedai atau kafe di Indonesia dengan berbagai brand dan varian, namun yang paling umum dicampur dengan varian milk tea dan brown sugar. Ya betul sekali. Boba atau tapioca balls. Beberapa orang di Taiwan juga menyebutnya sebagai pearls. Olahan ini terbuat dari tepung tapioka yang dicampur dengan sedikit gula tebu dan gula aren. Boba biasanya tidak hanya disajikan dengan milk tea atau the susu saja. Namun bisa diminum dengan susu coklat, taro, coffee milk, fresh milk dan varian minuman lainnya bahkan juga sering kali saya temukan boba ini di sajikan sebagai topping kue, pudding, isian permen, maupun varian rasa crackers di salah satu brand keripik di Taiwan. Tidak hanya populer di Taiwan di Indonesia saja, namun saat ini Boba sudah mulai terkenal di negara negara Eropa dan Amerika. Harganyapun bervariasi mulai dari NT$ 30 – NT$ 80 atau sekitar Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 40.000 tergantung varian minuman yang dipilih. Untuk boba saja (tanpa milk tea/tanpa minuman) bisa di bandrol mulai dari Rp. 10.000 sampai Rp. 20.000.
Jika di Indonesia dikenal dengan es campur karena isinya bisa campuran agar agar dan buah, di Taiwan pun memiliki makanan penutup yang hampir serupa dengan es campur ini. Populer dengan nama Hong Tang yang disajikan dengan mangkung yang berisi serutan es batu, kacang hijau, kacang merah, susu, bola bola ubi ungu dan kuning, jelly, dan boba di bagian atasnya. Tak lupa disirami susu atau brown sugar sebagai penambah cita rasa manis di dalam semangkung Hong Tang ini. harganya lumayan terjangkau dan cocok di kantong mahasiswa serta mudah ditemui di pinggir jalan manapun di Taiwan.
Selain makanan khas, Taiwan juga memiliki tempat wisata yang tak kalah apik dengan negara lainnya. Mulai dari pantai, gunung, sungai, pasar malam, taman, hingga pasar besar. Untuk mengunjungi satu tempat wisata ke tempat lainnya pun sangat mudah di akses, bisa menggunakan bus, kereta maupun MRT. Beruntung sekali selama satu semester di Taiwan saya dapat mengunjungi tempat wisata di Tipei seperti National Taiwan Museum, 101 Tower, Natinal Palace Museum, Songshan Cultural Park and Creative Park No, Tamsui river, Jianguo Jade and Flower Market, dan tempat wisata lainnya. Untuk bagian timur negara Taiwankhiususnya di kota yang saya tinggali di Hualien, sayapun berkesempatan mengunjungi tempat wisata seperti Taroko Gorge National Park yang menawarkan indahnya pemandangan tebing dan pegunungan Taiwan dan memandang indahnya Pantai Qixingtan yang menghadap langsung dengan samudera pasifik. Jika di Indonesia kita biasa berenang di pantai dan menyelam, akan sangat sulit rasanya jika ingin melakukan olah raga air di kawasan pantai di Taiwan karena sebagian besar pantainya yang menghadap langsung dengan samudera membuat ombak yang terlalu besar sehingga banyak timbul laragan keras dari pemerintah setempat untuk berenang ataupun menyelam. Di Taiwan, night market atau pasar malam tetap menjadi tujuan wisata yang paling populer yang sering dikunjugi oleh masyarakat maupun turis dari berbagai kalangan. Mulai dari Dongdaemun Night Market yang terletak di pusat koa Hualien, Ximending Night Market, Shilin Night Market di Taipei, dan masih banyak lagi. Pasar malam d Taiwan bukan hanya menyajikan ragam jajanan/snack dan kios baju saja,namun juga ada konser musik, pesta kembang api, lampion, taman dan tempat bermain anak anak yang sangat cocok dikunjungi untuk liburan bersama teman maupun keluarga.
Penulis Putri Saniatul Iklima adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (UNISMA) peserta Program Credit Transfer di National Dong Hwa University, Taiwan
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/20191110_115115-1-scaled.jpg11812560OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-20 18:08:192020-05-20 18:20:33Makanan Khas dan Pariwisata di Taiwan Oleh Putri Saniatul Iklima Mahasiswi UNISMA Malang Program Credit Transfer di NDHU Taiwan
Sejarah Gambia tidak cukup gelap seperti negara Afrika tetangga yang mengalami perang kekerasan. Negara ini dulunya merupakan pelabuhan dagang penting karena Sungai Gambia dan banyak kekuatan Eropa mencoba untuk mengontrol akses. Inggris yang menang, menjadikan Gambia sebagai protektorat Britania pada tahun 1820. Akibatnya, bahasa Inggris menjadi salah satu bahasa nasional negara, yang membuatnya menjadi tempat yang ramah untuk dikunjungi bagi orang asing.
Kekaisaran Ghana abad ke-11 dan ke-13 sampai abad ke-15 Kekaisaran Mali pernah membentuk wilayah yang saat ini dikenal sebagai Gambia. Menjelang akhir 1456, James Island menyambut Navigator pertama dari Portugal, yang segera memulai perdagangan di sepanjang pantai Afrika Barat. Dari abad ke-15 sampai abad ke-16, orang Portugis menukar besi, senjata api, garam, panci, mesiu, dan wajan untuk emas, ebony, gading, dan lilin lebah.
Bangsa Jerman Baltik membangun benteng James Island pada 1651, namun Inggris mengungsi ke dalam 1661. Kapal Perancis, raja dan perompak Afrika, terus mengancam Inggris, sehingga benteng yang lebih baru didirikan di Bathurst (Banjul) dan Barra, serta di muara sungai Gamba. Fort James menjabat sebagai budak pos sampai praktek itu dihapuskan pada 1807. Sementara itu, Inggris terus bergerak ke hulu dan akhirnya, pada 1820, seluruh wilayah ini dinyatakan sebagai protektorat Britania dan diklasifikasikan sebagai koloni mahkota pada tahun 1888.
Pemerintahan sendiri tidak terjadi sampai 1963, dan Gambia memerlukan dua tahun untuk akhirnya mencapai kemerdekaan lengkap. David Jawara, pemimpin partai progresif rakyat, diangkat sebagai Perdana Menteri.
Gambia adalah yang terakhir dari koloni Inggris untuk mendapatkan kemerdekaan penuh karena ukuran dan masalah kemiskinan, tetapi mereka telah menunjukkan tanda kemajuan. Pada 1981, kudeta yang gagal dilakukan oleh militer yang mengarah ke Konfederasi Senegambia 1982. Ini hampir bersatu Senegal dan Gambia, tetapi ide itu dihentikan pada tahun 1989. Kedua negara masih mempertahankan ikatan yang baik, sehingga mudah untuk pergi pada perjalanan harian antara Gambia dan Senegal.
Ada kudeta lain pada 1994, dan meskipun tidak ada pertumpahan darah, itu menghentikan industri pariwisata. Untungnya, Thiso telah pulih dalam pemilu 1996 ketika Yahya Jammeh menang. Dalam beberapa tahun terakhir, Gambia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil dan masih mempertahankan hubungan dekat dengan Inggris.
Budaya Gambia
Gambia mungkin kecil, tetapi merupakan rumah bagi orang-orang multi-budaya dengan beberapa kelompok etnis. Orang Gambia pada umumnya menguasai dua bahasa dan dapat berbicara bahasa Inggris. Penduduk setempat biasanya menguasai tiga atau empat bahasa daerah.
Keragaman berkontribusi pada budaya lokal yang penuh warna. Sementara sebagian besar praktik didasarkan pada Islam, tradisi etnis juga ditoleransi dan dihormati. Lebih dari 80 persen warga Gambia tinggal di daerah pedesaan, meskipun banyak anak muda pindah ke daerah Banjul (kota) untuk bekerja atau belajar. Semakin banyak orang yang mempelajari nilai-nilai dan kebiasaan Barat, dan banyak dari mereka menyukai musik pop.
Kebiasaan yang lain adalah untuk berjabat tangan dan mengatakan Salaam aleikum, yang berarti, “Selamat Bagimu,” sebagai salam tradisional. Orang Gambia umumnya damai dan ramah, jadi tidak perlu takut atau malu ketika mereka memperlakukan Anda dengan ramah. Biasanya masyarakat gambia menggunakan pakaian kasual dalam kegiatan sehari-hari. Kecuali mereka menghadiri kegiatan pertemuan bisnis atau menghadiri jamuan makan malam, mereka biasanya menggunakan pakaian jas atau dasi.
Adalah umum untuk menerima undangan ke sebuah kampung di gambia dan ini akan memberi Anda wawasan yang luar biasa tentang cara hidup lokal. Jika Anda menerima undangan tersebut, sopan apabila Anda membawa hadiah kecil, misalnya sekantong beras atau sabun untuk mencuci. Anda mungkin juga diundang untuk mencoba salah satu hidangan lokal Gambian seperti Benachin (nasi dan sayur-sayuran) atau Domoda, (daging, direbus dengan Pure kacang dan disajikan dengan nasi).
Ada banyak suku tetapi yang utama adalah Mandinka, Wolof, Fula dan Jola, masing-masing memiliki bahasa dan tradisinya sendiri. Pakaiannya bervariasi tapi selalu cerah dan berwarna-warni dan beberapa gaya rambut yang rumit berplakat adalah sebuah karya seni, yang terkadang memerlukan waktu dua hari untuk membuat model rambut.
Agama di Gambia
Gambia pada dasarnya adalah sebuah negara sekuler. Secara tradisional sangat toleran terhadap semua kepercayaan dan 90% dari penduduk mempraktikkan ajaran dasar Islam. Dari 10% sisanya terdapat populasi orang Kristen dan campuran agama tradisional yang terlokalisasi. Islam datang ke bagian Afrika Barat melintasi Sahara di awal milenium kedua. Meskipun masyoritas Islam, di Gambia terdapat tempat pembuatan bir dan alkohol dijual secara luas di supermarket bagi wisatawan.
Ada banyak ratusan agama lokal di Afrika Barat dan ini umumnya berpusat pada Animisme, atau bahwa setiap hewan, tanaman atau objek memiliki jiwa atau Roh dan harus diperlakukan seperti itu. Ini dapat berarti bahwa area atau tempat tertentu dianggap sakral dan dimiliki oleh Roh – atau sesungguhnya oleh jiwa leluhur — dan adalah umum untuk melihat persembahan kepada roh-roh ini (bahkan kadang disebut dewa) yang ditinggalkan dalam bentuk dupa atau bunga.
Penulis Bakary Touray adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISMA Malang Asal Gambia
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-20-at-4.30.26-PM.jpeg939705OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-20 18:06:092020-05-20 18:06:11Sejarah dan Kebudayaan Gambia oleh Bakary Touray Mahasiswa FEB UNISMA Malang Asal Gambia
Pada suatu kesempatan, saya mendapatkan undangan untuk menjadi fasilitator di Onomichi-kita Senior High School yang terletak di Higashi Hiroshima, Jepang. Kami dijemput oleh salah satu Guru sekolah saat itu. Sesampainya di sekolah, kami diantar ke ruang kepala sekolah dan mendapatkan sedikit briefing tentang apa yang akan kita lakukan di kelas.
Setelah briefing, kami diantar murid-murid SMA Onomichi-kita High school untuk memasuki kelas satu per satu. Saya sudah disambut dengan murid-murid yang antusias dengan kedatangan saya. Singkat cerita saya memperkenalkan diri dihadapan puluhan murid di kelas dan satu guru Bahasa Inggris yang duduk dibelakang mengawasi murid-muridnya. Saat sebelum saya memperkenalkan diri, ada satu murid perempuan yang lumayan mahir menggunakan Bahasa Inggris sebagai moderator selama acara di kelas.
Setelah memperkenalkan diri, sesi tanya jawab pun dimulai. Ada beberapa murid yang antusias bertanya tentang culture shock yang saya alami selama di Jepang. Saya pun bercerita tentang ocha (Teh Jepang) pertama yang saya beli di vending machine dekat asrama tempat saya tinggal.
Kebetulan saya suka minuman yang manis dan saat mencoba ocha yang saya beli di vending machine rasanya hambar dan pahit. Dan saya sampaikan ke murid-murid bahwa saya terbiasa minum teh menggunakan gula dan mereka terkejut karena teh di Jepang tidak menggunakan gula.
Setelah sesi tanya jawab seputar culture shock yang saya alami, tiba sesi selanjutnya ice breaking selama 30 menit. Pada saat ice breaking, saya diminta untuk bergabung dengan salah satu group yang terdiri dari 4 murid laki-laki, dan disitu kita bermain tebak-tebakan. Dalam menentukan siapa yang akan ditunjuk untuk memberikan jawaban murid-murid di Jepang biasanya melakukan suit Jepang (Jankenpon). Akan tetapi mereka saya ajari untuk melakukan suit ala Indonesia (Hompimpa Alaeum Gambreng).
bersama siswa-siswi di Jepang
Beberapa kelompok lain di kelas excited dengan apa yang kita lakukan, hingga setelah ice breaking selesai ada yang bertanya apa yang saya lakukan tadi di group. Saya pun menjawab kalau kita melakukan suit ala Indonesia. Saya pun memperagakan suit Indonesia yang menggunakan telapak tangan atas dan bawah.
Murid yang lain pun bertanya, apa yang saya katakan ketika melakukan suit ala Indonesia. Saya pun menjawab, ketika kita melakukan suit ala Indonesia kita harus mengucapkan “Hompimpa Alaeum Gambreng” yang berarti “dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain” yang diambil dari Bahasa Sanksekerta.
Setelah itu ada satu murid lagi yang bertanya, jika kita melakukan suit Indonesia hanya dua orang saja, bagaimana menentukan pemenangnya. Saat itu saya bergumam dalam hati “Nice Question”. Dan saya pun memberikan apresiasi terhadap siswa yang bertanya pertanyaan itu. Saya menjawab jika hanya tinggal dua pemain saja, kita akan mengganti suit Indonesia dengan menggunakan ibu jari sebagai gajah, jari telunjuk sebagai manusia dan jari kelingking sebagai semut. Jika ibu jari bertemu dengan jari telunjuk maka ibu jari akan menang, sebaliknya ibu jari akan kalah jika bertemu dengan jari kelingking. Dan jika jari telunjuk bertemu dengan jari kelingking maka jari telunjuk akan menang, sebaliknya jari telunjuk akan kalah ketika bertemu ibu jari.
Pada suatu kesempatan, saya mendapatkan undangan untuk menjadi fasilitator murid di Onomichi-kita Senior High School yang terletak di Higashi Hiroshima. Kami dijemput oleh salah satu Guru sekolah saat itu. Sesampainya di sekolah, kami diantar ke ruang kepala sekolah dan mendapatkan sedikit briefing tentang apa yang akan kita lakukan di kelas.
Setelah briefing, kami diantar murid-murid SMA Onomichi-kita High school untuk memasuki kelas satu per satu. Saya sudah disambut dengan murid-murid yang antusias dengan kedatangan saya. Singkat cerita saya memperkenalkan diri dihadapan puluhan murid di kelas dan satu guru Bahasa Inggris yang duduk dibelakang mengawasi murid-muridnya. Saat sebelum saya memperkenalkan diri, ada satu murid perempuan yang lumayan mahir menggunakan Bahasa Inggris sebagai moderator selama acara di kelas.
Setelah memperkenalkan diri, sesi tanya jawab pun dimulai. Ada beberapa murid yang antusias bertanya tentang culture shock yang saya alami selama di Jepang. Saya pun bercerita tentang ocha (Teh Jepang) pertama yang saya beli di vending machine dekat asrama tempat saya tinggal.
Kebetulan saya suka minuman yang manis dan saat mencoba ocha yang saya beli di vending machine rasanya hambar dan pahit. Dan saya sampaikan ke murid-murid bahwa saya terbiasa minum teh menggunakan gula dan mereka terkejut karena teh di Jepang tidak menggunakan gula.
Setelah sesi tanya jawab seputar culture shock yang saya alami, tiba sesi selanjutnya ice breaking selama 30 menit. Pada saat ice breaking, saya diminta untuk bergabung dengan salah satu group yang terdiri dari 4 murid laki-laki, dan disitu kita bermain tebak-tebakan. Dalam menentukan siapa yang akan ditunjuk untuk memberikan jawaban murid-murid di Jepang biasanya melakukan suit Jepang (Jankenpon). Akan tetapi mereka saya ajari untuk melakukan suit ala Indonesia (Hompimpa Alaeum Gambreng).
Beberapa kelompok lain di kelas excited dengan apa yang kita lakukan, hingga setelah ice breaking selesai ada yang bertanya apa yang saya lakukan tadi di group. Saya pun menjawab kalau kita melakukan suit ala Indonesia. Saya pun memperagakan suit Indonesia yang menggunakan telapak tangan atas dan bawah.
Murid yang lain pun bertanya, apa yang saya katakan ketika melakukan suit ala Indonesia. Saya pun menjawab, ketika kita melakukan suit ala Indonesia kita harus mengucapkan “Hompimpa Alaeum Gambreng” yang berarti “dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain” yang diambil dari Bahasa Sanksekerta.
Setelah itu ada satu murid lagi yang bertanya, jika kita melakukan suit Indonesia hanya dua orang saja, bagaimana menentukan pemenangnya. Saat itu saya bergumam dalam hati “Nice Question”. Dan saya pun memberikan apresiasi terhadap siswa yang bertanya pertanyaan itu. Saya menjawab jika hanya tinggal dua pemain saja, kita akan mengganti suit Indonesia dengan menggunakan ibu jari sebagai gajah, jari telunjuk sebagai manusia dan jari kelingking sebagai semut. Jika ibu jari bertemu dengan jari telunjuk maka ibu jari akan menang, sebaliknya ibu jari akan kalah jika bertemu dengan jari kelingking. Dan jika jari telunjuk bertemu dengan jari kelingking maka jari telunjuk akan menang, sebaliknya jari telunjuk akan kalah ketika bertemu ibu jari.
Saya pun mendapatkan pengalaman yang berharga ketika berkunjung di Onomichi-kita High School tentang kepercayaan diri murid yang walau terbata-bata bertanya menggunakan bahasa inggris yang ala kadarnya, tetap mereka berani bertanya dan pikiran kritis yang dimiliki murid-murid Jepang sangat diperlukan dan merupakan salah satu skill yang harus dikuasai di era Revolusi Industri 4.0
Saya pun mendapatkan pengalaman yang berharga ketika berkunjung di Onomichi-kita High School tentang kepercayaan diri murid yang walau terbata-bata bertanya menggunakan bahasa inggris yang ala kadarnya, tetap mereka berani bertanya dan pikiran kritis yang dimiliki murid-murid Jepang sangat diperlukan dan merupakan salah satu skill yang harus dikuasai di era Revolusi Industri 4.0
Penulis Mochamad Imron Azami adalah Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISMA Malang
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-16-at-9.16.30-PM.jpeg722720OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-20 17:00:542020-05-20 17:24:49Hompimpa Alaeum Gambreng dan Critical Thinking Anak SMA di Jepang oleh Mochamad Imron Azami Dosen FKIP UNISMA Malang
Dalam konteks pendidikan Indonesia, Pendidikan Karakter menjadi bagian yang sangat penting untuk di kaji akhir-akhir ini. Alasanya adalah belum berbanding lurusnya antara teori yang di dapatkan oleh peserta didik dengan praktek yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbanding lurus dalam yang dimaksud misalnya ‘apabila di dalam kelas siswa diajari bersikap jujur maka seyogyanya dalam kehidupan sehari-hari dimanapun dan kapanpun, diawasi naupun tidak, peserta didik tersebut bersikap jujur’.
Sebagaimana yang teramanatkan dalam kurikulum 2013 (K-13) Terdapat 18 nilai dalam pendidikan karakter yang idealnya dimiliki oleh semua peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai pendidikan karakter tersebut adalah ; Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat / Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab. Dalam konteks pembahasan masyarakat Berlin, saya akan membatasinya pada 6 nilai pendidikan karakter saja; yaitu ; Jujur, Toleransi, Disiplin, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, dan Tanggung Jawab. Kenapa hanya 6? Karena selama berada di Berlin yang dapat saya amati adalah ke 6 nilai tersebut. Bagaimana ke-6 nilai tersebut terinternalisasi atau menyatu dalam masyarakat Berlin? Let’s check them out!
Jujur: adalah perilaku yang berdasar pada sebuah usaha untuk menjadikan pelakunya dapat dipercaya baik dalam hal ucapan, perbuatan maupun pekerjaan. Dari yang saya amati masyarakat di Berlin menerapkanya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini tampak pada saat menggunkan transportasi umum, jual beli atau menyampaikan sesuatu. Dalam hal menggunkan transportasi umum masyarakat di berikan kemudahan dalam mengakses tiketnya, baik kereta maupun bus. Tidak ada petugasnya. Dan tiket tersebut dapat digunakan baik selama satu hari penuh atau beberapa jam saja, baik secara individu maupun kelompok (5 orang). Andaikata mereka tidak jujur pasti tidak akan membeli tiket dan langsung saja menaiki transportasi yang mereka inginkan karena tidak ada kondektur ataupun petugas yang menjaganya. Akan tetapi hal tersebut tidak dilakukan. Dalam hal jual beli, tidak ada petugas yang menunggui pada waktu pembeli memilih baju atau barang lain, mereka bebas memilih dan mencoba apapun bentuk bajunya, dan manakala tidak cocok mereka bisa kapanpun mengembalikanya atau menukarnya dengan catatan nota dan brand barangnya masih ada. Andaikan tidak jujur pasti mereka akan mencurinya atau memanipulasi barang yang dibelinya. Selanjutnya adalah masalah menyampaikan sesuatu. Apabila merasa tidak expert dalam hal yang ingin disampaikan, mereka langsung mengutarakan terus terang akan ketidak mampuanya tanpa sungkan dan rasa malu. Andaikata mereka tidak jujur pastilah mereka bisa saja menyampaikan sesuatu yang belum mereka kuasai dengan pertimbangan materi atau yang lainya. Tapi tidak mereka lakukan.
Toleransi: merupakan sikap dan tindakan yang menghargai berbagai macam perbedaan. Utamanya perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Toleransi masyarakat Berlin sangan nampak sekali dalam hal agama dan perbedaan etnis. Meskipun Katholik mayoritas disini, namun dalam hal beragama misalnya, diberikanya akses public bagi muslim. Meskipun muslim minoritas. Mereka bebas untuk mengekspresikan keberagamaanya dan tidak ada gangguan. Dalam hal perbedaan etnis juga demikian. Di Berlin terdapat berbagai macam etnis, namun semuanya dapat hidup berdampingan dengan nyaman tanpa adanya gangguan satu sama lain.
Disiplin: disiplin berarti sebuah usaha atau tindakan yang mencerminkan patuh atau perilaku tertib pada berbagai hal yang telah disepakati atau ditentukan. Kedisiplinan orang Berlin tampak pada setiap acara atau kegiatan yang di ikutinya. Misalny, saya beberapa kali ikut pertemuan dengan para pejabat Negara atau dosen di berbagai perguruan tinggi di Berlin. Mereka datang dan memulai acara atau kuliah sesuai dengan jadwalnya dan selesai juga sesuai dengan jadwalnya.
Gemar Membaca: merupakan sebuah habit untuk senantiasa menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi pembacanya. Kebiasaan ini sudah tidak diragukan lagi tertanam kuat dalam diri masyarakat Berlin. Hal ini nampak pada berbagai kesempatan yang selalu digunakan untuk membaca. Misalnya ketika di dalam kereta, bus atau transportasi umum lainya. Yang mengherankan saya adalah ketika saya berkunjung ke toko buku terbesar di Berlin. Sebuah toko yang menurut saya bak supermarket buku. 3 lantai yang penuh buku dengan berbagai macam Bahasa dan berbagai genre. Kebiasaan gemar membaca tampak pada ramainya toko buku tersebut, dan disediakanya tempat baca dalam toko tersebut serta penuhnya orang sedang membaca di toko buku tersebut. luar biasa.
Peduli Lingkungan: adalah sikap dan upaya yang selalu berusaha untuk mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi. Kepedulian ini nampak sekali pada masalah kebersihan. Dengan kedaran diri setiap orang membuang sampah pada tempatnya. Tampaknya mereka tidak rela jika ada sampah berserakan. Selain itu, tersedianya berbagai tempat sampah denga kualitas baik diberbagai tempat. Lebih lanjut, hal ini juga nampak pada disediakanya public space di sepanjang jalan dan pepohonan tumbuh rindang disitu. Menurut hemat saya, ini adalah upaya pencegahan polusi. Selain itu masyarakat Berlin sangat gemar bersepeda dan berjalan kaki. Ini menandakan betapa mereka sangan peduli lingkunganya dengan tidak menciptakan polusi.
Tanggung Jawab: dalam konteks ini saya artikan sebagai sebuah upaya atau tindakan seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibanya yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, alam sekitar, dan negaranya. Tanggung jawab masyarakat Berlin tampak pada tugas yang diembanya. Saya mengamati misalnya tanggung jawab dari pemandu wisata saya. Mereka selalu datang tepat waktu serta memberikan pelayanan yang terbaik. Apapun yang berkaitan dengan program saya, mereka menjadwalkanya dengan sempurna. Dalam konteks yang lebih luas, sikap tanggung jawab ini nampak pada setiap orang Berlin yang berhubungan dengan agenda kegiatan saya. Mereka akan memberikan pelayanan yang terbaik sebagai bentuk rasa tanggung jawab mereka.
Dari berbagai sikap dan tindakan tersebut, rasanya sebagai seorang muslim sangat perlu mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi dengan jargon pendidikan karakter yang sudah sangat dielu-elukan dan diajarkan diberbagai sekolah di Indonesia mulai dari tingkat bawah samapi atas, sudah saatnya untuk terinternalisasi dalam setiap tindakan. Tidak hanya sebatas teori namun juga aplikasi nyata baik dalam bentuk tingkah laku maupun tutur kata.
Untuk mengakhirinya, sejenak perlu merenung sebuah statemen yang tersurat dalam sebuah maqalah kitab salalimul fudlola’ “barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak semakin takut kepada Allah niscaya tidak akan tambah kepadanya melainkan hanya jauh dari-Nya”. Semoga can be better day by day, Amiin
Penulis Dian Mohammad Hakim, M.Pd.I adalah Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA Malang
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-20-at-12.49.53-PM.jpeg1152864OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-20 16:25:042020-05-20 16:25:06Internalisasi Pendidikan Karakter di Berlin Jerman: Oleh Dian Mohammad Hakim Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA Malang
Belajar bahasa Arab merupakan kebutuhan mendasar, khususnya bagi kaum santri, pelajar dan juga mahasiswa muslim yang ingin mempelajari lebih dalam tentang ilmu-ilmu keislaman. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar sumber-sumber keilmuan Islam memang berasal dari bahasa Arab, bahkan al-Quran sendiri sebagai kitab induk keilmuan juga turun dalam bahasa Arab, sebagaimana kitab-kitab lainnya, seperti: Hadist, Fiqh, Aqidah, dan Nahwu.
di Indonesia, materi-materi pelajaran berbahasa Arab, umumnya diajarkan secara formal di Pesantren, Madrasah maupun Perguruan Tinggi Islam dengan menggunakan metode terjemah, di mana materi pelajaran yang disampaikan tidak dibacakan dan dijelaskan secara langsung menggunakan bahasa Arab, akan tetapi harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia atau Jawa.
Model pembelajaran seperti ini, menurut sebagian ahli bahasa sebenarnya kurang mendukung proses pembelajaran bahasa Arab secara komprehensip, karena siswa hanya akan memiliki satu atau dua kemahiran berbahasa saja dari empat kemahiran berbahasa yang seharusnya dapat mereka kuasai, yaitu: membaca, mendengar, menulis dan berbicara. Dengan metode terjemah siswa hanya dominan menguasai kemahiran membaca dan mendengar saja, sementara kemahiran menulis dan berbicara mereka pasif.
Negara Sudan sebagai salah satu negara Arab yang terletak di benua Afrika, telah sejak lama menjadi negara tujuan bagi para pelajar dari negara-negara asal: Afrika, Asia, Eropa bahkan Timur-Tengah yang ingin menuntut ilmu-ilmu keislaman, termasuk bahasa Arab. Adapun pelajar Indonesia ditenggarai sudah ada di Sudan sejak tahun 70-an.
Banyaknya pelajar asing yang belajar bahasa Arab di Sudan, antara lain didorong oleh beberapa faktor berikut: banyaknya perguruan tinggi yang membuka jurusan bahasa Arab, bahasa pengantar dalam proses pembelajaran menggunakan bahasa Arab fusha dan juga masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan bahasa Arab fusha, baik dikalangan pejabat pemerintah maupun rakyat biasa yang tinggal di pedesaan atau bekerja di sektor-sektor non formal.
Pada saat ini, terdapat ± 1,000 mahasiswa Indonesia di Sudan, dimana sebagian besar dari mereka belajar di International University of Africa (IUA) bersama dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari ± 68 negara. Umumnya mereka belajar pada jurusan-jurusan keagamaan, seperti: Syariah, Dirosat Islamiyah, Tarbiyah, dan Adab.
IUA menjadi kampus favorit bagi para pelajar asing di Sudan karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain: gedung asrama, perkantoran dan perkuliahan yang cukup representatif, didukung dengan beberapa fasilitas penunjang lainnya, seperti: kantin, taman, masjid, lapangan olah raga, dan klinik kesehatan. Selain itu, mahasiswa dan dosen yang datang dari berbagai negara tersebut juga diharuskan menggunakan bahasa Arab fusha dalam proses pembelajaran.
Secara khusus, terkait dengan pengembangan bahasa Arab di IUA, keunggulan lain yang dimilki oleh kampus tersebut adalah keharusan mahasiswa untuk tinggal di asrama bersama dengan mahasiswa dari negara lain, di mana rata-rata per kamar diisi oleh 5-8 mahasiswa. Hal tersebut dimaksudkan agar diantara mereka dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab. Kemudian bagi mahasiswa baru yang belum mahir berbahasa Arab, juga diharuskan belajar terlebih dahulu di sekolah persiapan bahasa Mahad al-Lughah al-Arabiyyah selama satu tahun.
https://minanews.net/ International University of Africa, Sudan
Selain beberapa keunggulan di atas, lingkungan masyarakat di sekitar kampus juga sangat mendukung proses pembelajaran bahasa Arab, karena mereka pada umumnya sudah terbiasa dan dapat memahami dengan baik bahasa Arab fusha, baik ketika berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah dewasa maupun masih anak-anak atau ketika berada di tempat-tempat umum, seperti: pasar, super market, terminal dan perkantoran.
Tak hanya itu, para mahasiswa semester akhir juga diharuskan mengikuti qafilah atau kuliah kerja nyata, dimana mereka akan disebar ke berbagai daerah untuk dilatih menyampaikan materi-materi berbahasa Arab kepada masyarakat Sudan.
Semoga artikel ini menginspirasi kita semua, baik Dosen maupun Mahasiswa mengenai pentingnya lingkungan bahasa yang harus kita desain sedemikian rupa, agar proses pembelajaran bahasa dapat berjalan dengan maksimal.
Penulis Muhammad Afifullah, B.Sh., M.Ed., Ph.D Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang (UNISMA)
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-19-at-4.32.51-PM.jpeg7721032OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-20 09:01:002020-05-20 13:13:22Belajar Bahasa Arab di Negeri Sudan oleh Muhammad Afifullah, B.Sh., M.Ed., Ph.D Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA Malang
Tajikistan adalah negara sekuler yang menghormati kebebasan beragama. Seperti halnya di Indonesia, dua hari raya besar Islam, yakni Idul Fitri dan Idul Adha, diperingati kaum Muslim di negara ini dan menjadi hari libur nasional.
Tradisi hari raya Idul Fitri di Tajikistan menjadi momen yang begitu ditunggu tiap tahunnya. Seperti di Indonesia, di Tajikistan juga memiliki tradisi hari raya Idul Fitri sendiri. Tradisi hari raya Idul Fitri menjadi salah satu hal yang paling dirindukan.
Di Tajikistan, Idul Fitri juga dikenal dengan istilah Id Mubarak. Kekayaan budaya yang dimiliki Tajikistan membuat perayaan Idul Fitri melebur menjadi sebuah tradisi yang unik dan menarik.
Sholat Idul Fitri
Pagi-pagi sekali para lelaki memulai hari raya Idul Fitri dengan doa dan sholat pagi di masjid. Kemudian beberapa dari mereka pergi ke pemakaman untuk menghormati kenangan akan sanak saudara yang telah meninggal.
Ziarah Makam
Sementara itu, para wanita mempersiapkan meja makan. Sehari sebelum Idul Fitri, para ibu rumah tangga membeli makanan dari pasar untuk menyiapkan masakan lezat untuk kerabat, teman, dan tetangga. Ada daging, manisan, buah-buahan, sayuran, dan lainnya. Menurut tradisi, Dastarkhon yang meriah harus penuh dengan aneka hidangan yang masuk akal. Dan, tentu saja, atribut Idul Fitri yang tidak dapat dihilangkan adalah kemegahan Dastarkhon, yang dapat disuguhkan oleh siapa saja yang masuk melalui pintu rumah yang terbuka.
Sementara orang dewasa sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, biasanya anak-anak pergi bersama-sama dengan 5-10 orang. Lalu masuk halamannya atau mengetuk gerbang rumah tetangga dan meminta permen untuk mengucapkan Id Mubarak.
Anak-anak pada saat Idul Fitri
Salah satu tradisi yang paling menarik dan berkesan bagi anak-anak dan remaja adalah Tukhum-Jang berarti “Telur Perang”. Telurnya bisa didapat dengan permen dari tetangga. Biasanya, semua tuan rumah menyiapkan lebih dari 120 telur direbus untuk hari raya Idul Fitri. Jadi cara permainan “Telur perang ” adalah seperti ini: dua orang mengambil masing-masing telur, lalu 2 telur tersebut saling berpukulan 1 telur yang rusak, maka dinyatakan kalah. Jadi telur yang rusak diberikan pemenang. Pemenang lanjut bermain adu telur dengan orang lain. Melalui permainan ini mereka bisa mengumpulkan lebih banyak telur. Setelah itu, seluruh keluarga akhirnya berkumpul di Dastarkhon, kemudian kerabat, teman dan tamu bergabung. Semua orang saling mengucapkan Id Mubarak dan berterima kasih kepada tuan rumah untuk hadiah dan masakan yang lezat.
Penulis Shamsiya Abdurazoqovadalah Mahasiswa, Program Darmasiswa Kemdikbud RI di Universitas Islam Malang (UNISMA)
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-19-at-6.47.01-PM.jpeg1122793OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-20 02:58:002020-05-20 16:10:39Hari Raya Idul Fitri di Tajikistan selalu Dirindukan: Oleh Shamsiya Abdurazoqova Mahasiswi UNISMA Malang asal Tajikistan
Kegiatan ini memang sudah cukup lama diselenggarakan, tetapi kenangan itu masih tetap ada hingga kini…….. Kami dari Universitas Islam Malang mewakili Indonesia dalam Sidang Memartabatkan Bahasa Melayu di Jerman.
Bahasa Melayu termasuk Bahasa Indonesia terus diperjuangkan agar bahasa ini menjadi bahasa internasional. Hampir setiap tahun para ahli bahasa, pengajar bahasa, dan pemerhati bahasa Melayu berkumpul di suatu negara untuk berjuang agar bahasa Melayu menjadi bahasa internasional. Tahun ini, acara diadakan di Frankfurt Jerman. Acara inti dari kegiatan ini adalah mendiskusikan sekaligus memperjuangkan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Internasional dalam suatu kegiatan yang dinamanakan “Sidang Memartabatkan Bahasa Melayu” yang ke sekian kalinya.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu varian terbesar dari Bahasa Melayu yang sangat diperhitungkan di tingkat dunia karena jumlah pemakainya yang memang juga sangat besar. Kegiatan tahunan yang dipelopori oleh Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia ini didukung oleh negara-negara pemakai Bahasa Melayu khususnya di Asia Tenggara dan sekitarnya serta negara-negara pengkaji dan pengembang Bahasa Melayu di seluruh dunia termasuk di Eropa.
KampusGoethe Universität
Sidang Antarbangsa kali ini diadakan di Goethe Universitat atau nama lengkapnya Johann Wolfgang Goethe Universität Frankfurt am Main, Jerman. Saat ini, Goethe Universitat memiliki 46.000 mahasiswa, pada empat kampus utama di dalam kota. Empat kampus yang terletak di Frankfurt am Main ini meliputi (1) Campus Bockenheim: Mathematics, Computer science, Art history, Fine Arts, (2) Campus Riedberg: Pharmacy, Physics, Chemistry, Biochemistry, Biology, Geosciences and Geography, (3) Campus Westend: Social sciences, Pedagogy, Psychology, Theology, Philosophy, History, Philology, Archaeology, Law, Economics and Business Administration, Human geography, dan (4) Campus Niederrad: Medical science, Dentistry, University hospital. Untuk hari pertama dan kedua, kita bersidang di kampus Westend, dan hari ketiga di kampus Bockenheim.
Goethe-Universität Frankfurt am Main adalah universitas negeri yang berlokasi di kota Frankfurt, Jerman. Frankfurt terletak di tengah-tengah wilayah metropolitan utama Jerman yang mencakup populasi hampir enam juta orang. Fitur geografis yang mendominasi kota adalah Sungai Main, yang menghubungkan hilir Sungai Rhine ke dekat kota Mainz. Frankfurt menikmati iklim yang relatif hangat dari Mei sampai September, dengan suhu yang menurun signifikan di musim dingin. Namun, karena ketinggiannya yang relatif rendah, kota ini tidak banyak bersalju selama musim dingin. Selama kami tinggal di Frankfurt, suhu sekitar 13-18°c, suatu suhu yang sudah membuat kami terus menggigil meskipun sudah memakai baju hangat. Universitas ini didirikan pada tahun 1914. Nama perguruan tinggi ini diambil dari nama tokoh Johann Wolfgang von Goethe, seorang tokoh serbabisa dan juga pahlawan besar di Jerman.
Dr. Sri Wahyuni, M.Pd di KampusGoethe Universität
Dalam artikel Zaim Saidi (Direktur Wakala Induk Nusantara) berjudul “Johann Wolfgang von Goethe: Muslim Eropa Pertama?” disebutkan, Wolfgang von Goethe Sang Jenius kemungkinan besar wafat sebagai seorang muslim. Kemusliman Goethe terungkap melalui penelitian mendalam oleh ulama Eropa masa kini, Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi (lahir sebagai Ian Dallas asal Skotlandia), bersama salah satu muridnya asal Jerman, Abu Bakr Rieger, kini Presiden Uni Muslim Eropa dan Sekjen Asosiasi Pengacara Muslim Eropa. Mereka berdua, pada 1995, menerbitkan sebuah dokumen “Fatwa on The Acceptance of Goethe as Being Muslim”. yang dicetak dan disebarluaskan oleh Weimar Institut, Jerman (19 Desember 1995). Kemusliman seorang Goethe, khususnya dalam konteks Eropa, memiliki implikasi yang sangat penting, terutama saat gejala islamofobia di dunia Barat terus dibesar-besarkan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Drs Nurman Kholis, M. Hum, peneliti muda Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Departemen Agama, menyebutkan bahwa perkenalan Goethe pada Islam dimulai dari minatnya pada studi tentang ketimuran. Ini didorong oleh persentuhan Goethe dengan syair-syair karya Saadi dan ajaran tasauf Jalaluddin Rumi. Sejak usia muda, pada umur 20-an awal, Goethe mulai belajar membaca dan menulis bahasa Arab, dan menelaah al-Quran dan menyalin ayat-ayat pendek dengan tulisan tangannya. Goethe mulai mengenal al-Quran melalui terjemahan karya JV Hammer (bahasa Jerman) dan karya G. Sale (bahasa Inggris). Dengan kemahiran menulis dan membaca bahasa Arab Goethe mulai mengkopi doa-doa pendek berbahasa Arab, dan mengatakan, “Tidak ada dalam spirit bahasa lain, kata dan huruf mampu ditampung sedemikian orisinalnya.” Keyakinan Goethe terhadap kebenaran Islam, ia tuangkan dalam buku syairnya West-stliche Divan, yang juga ia beri judul bahasa Arab Al-Diwan Al-Syarqiyyu li Al-Muallifi Al-Gharbiyyi. Tantang al Qur’an Goethe menulis: “Tak bakal seorang pun ragu tentang kebesaran efisiensi Kitab ini. Itu sebabnya ia dinyatakan sebagai bukan sebuah ciptaan oleh para pendukungnya…Kitab ini akan abadi ampuh selamanya.” Pada usia 70 tahun ia menulis tentang lailatul qadar secara afektif, ia “ingin memperingati dengan takzim malam ketika Rasul dianugerahi Qur’an secara lengkap dari atas.”
Stasiun Kereta Api Hauptbahnhof Frankfurt
Untuk menuju kampus Western, kami memilih naik trem dan kereta api. Pertama, untuk menuju stasiun kereta Hauptbahnhof, kami bisa memilih jalan kaki atau naik tram. Biasanya kita memilih jalan kaki karena sambil olah raga…… Hauptbahnhof Frankfurt adalah salah satu stasiun kereta terbesar dan tersibuk di Eropa. Sampai di stasiun Hauptbahnhof, kami menuju kereta api bawah tanah untuk satu penghentian stasiun, dan kemudian kita naik kereta lagi dan berhenti pada stasiun keempat. Sampai di sini kemudian kami masih harus berjalan kaki sekitar 300 meter untuk sampai kampus. Sekedar informasi, angkutan umum di kota Frankfurt sungguh lengkap, rapi, dan tertib. Tiket untuk angkutan umum yang meliputi bus, tram, U-bhn, dan sebagainya dapat didapat dengan mudah di mesin-mesin otomatis di setiap stasiun. Untuk perjalanan sehari dengan angkutan umum apa pun, satu orang harus membayar tiket 8,85 Euro dan untuk perjalanan satu minggu sebesar 24,70 Euro. Karena kami beberapa hari harus ke kampus, kami pun membeli tiket yang 24,70 Euro. Meskipun selama naik angkutan umum tidak ada pemeriksaan tiket, tapi jangan sekali-kali naik tanpa tiket karena begitu tertangkap basah tidak mempunyai tiket, maka bisa kena denda sekitar 80 Euro. Tapi itulah karakteristik masyarakat di sana, ada saling kepercayaan antara pemerintah dan masyarakatnya.
Hari pertama pada tanggal 26 Mei beberapa tahun silam, kami memulai kegiatan dengan acara pembukaan yang dilakukan oleh Konsulat Jenderal Malaysia, Frankfurt dan sambutan dari pihak Goethe Universitat. Berikutnya adalah pemaparan keynote speaker 1 Prof. Dr. Arndt Graf dari Goethe Universitat dengan moderator Prof. Madya Dr. Sanat Md. Nasir, yang mempresentasikan makalah dengan judul “MALAY LINGUISTICS AND THE CHALLENGE OF ISI (WEB OF SCIENCE)”. Beliau banyak mengupas tentang peringkat universitas yang berkaitan dengan jumlah publikasi, yang ini dikatakan semua perguruan tinggi di dunia sedang mengalami “ranking shocks”, dan hubungannya dengan peringkat yang dibuat ISI (Institute for Scientific Information). Konsekuensi dengan adanya peringkat, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan posisi peringkat tersebut, dan untuk Bahasa Melayu kecil kemungkinan untuk bisa masuk dalam peringkat ISI. Presentasi berikutnya oleh Prof. Dr. Koh Young Hun dari Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea yang banyak mengupas tentang pengajaran Bahasa Melayu-Indonesia di Pusat Pengajian Tinggi Korea. Pemakalah berikutnya adalah Prof. Dr. Mahzan Arshad dari UPSI, yang membahasa tentang pengukuran keterampilan Bahasa Melayu bagi warga asing. Dari National Institute of Education Nanyang Technological University Singapura Roksana Bibi Binte Andullah membahas tentang penyerapan bahasa dalam pertembungan budaya: Penggunaan Kata-Kata Melayu dalam Pertuturan Bahasa Asing di Singapura. Pada hari pertama ini di ruang berbeda dipresentasikan makalah oleh enam teman dari UPSI dan UPM Malaysia, serta dari Kementrian Pendidikan Singapura. Di akhir kegiatan hari pertama ditutup dengan keynote speaker 2 Prof. Madya Dr. Sanat Md. Nasir yang membahasa tentang Bahasa Melayu dalam Konteks Budaya.
Keynote Speaker 1 Prof. Dr. Arndt Graf dari Goethe Universitat
Pada hari kedua, dipresentasikan makalah oleh Dr. Jerome Samuel dari Intitut National Des Langues Er Civilisation Orientales Paris, Perancis yan membahas tentang bagaimana mengajar Bahasa Indonesia di Perancis. Berikutnya dipresentasikan dua puluh dua makalah di tiga ruangan yang berbeda dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Saya sendiri mewakili Indonesia membahas tentang bagaimana cara mengembalikan Bahasa Indonesia sebagai Lingua Franca khususnya pada masyarakat penyandang buta aksara melalui kegiatan pascakeaksaraan berbasis potensi dan budaya daerah. Makalah ini merupakan presentasi hasil penelitian saya tahun ketiga dalam skim penelitian strategis nasional (Stranas). Bertindak sebagai moderator dalam sesi saya adalah Dr. Hedy Holzwarth dari Goethe universitat. Wakil dari Indonesia lain Dr. Dyah Werdiningsih, M.Pd mempresentasikan tentang bagaimana cara memperkokoh Bahasa Melayu dalam pembelajaran BIPA dengan strategi metakognitif, Dr. Hasan Busri, M.Pd membahas tentang kodifikasi BI sebagai Bahasa IPTEK, dan Ari Ambarwati, M.Pd membahas tentang pantun humor sebagai media pendidikan karakter toleransi. Di akhir sesi hari kedua ini ditutup oleh keynote speaker 3 Datuk Dr. Awang Sariyan, Ketua Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, yang membahas tentang Pemartabatan Bahsa Melayu di Peringkat Negara dan Antarbangsa.
Hari ketiga adalah kunjungan ke Library of Southeast Asian Studies di kampus Bockenheim. Sungguh suatu perpustakaan yang hebat, lengkap, dan rapi. Dengan sangat ramah, Prof. Dr. Arndt Graf menunjukkan koleksi-koleksi buku-buku kajian Asia Tenggara termasuk termasuk yang dari Indonesia. Yang agak aneh menurut kami, justru di perpustakaan ini koleksi buku-buku dan dokumen-dokumen lama yang bahkan di Indonesia sendiri belum tentu ada, di sini ada, antara lain buku-buku milik Ir. Soekarno mantan presiden RI yang pertama, dokumen-dokumen tentang candi Borobudur, dan bahkan ada dokumen-dokumen ‘rahasia’ tentang perkembangan perpolitikan Indonesia tersimpan di perpustakaan ini. Setelah kami bertanya dari mana perpustakaan mendapatkan berkas-berkas ini, Prof Graf menjawab selain membeli, juga mendapat hibah dari para professor yang sudah pensiun, dan yang tidak kalah mengejutkan, mereka menerima banyak dokumen itu dari Belanda yang akan “membuang” dokumen itu karena menganggap sudah tidak ada lagi yang mau membaca (sungguh keterlaluan ya Belanda, sudah menjajah 3.5 abad, semua kekayaan Indonesia dirampok, eh buku-buku dan dokumen penting yang dulu diambil demikian mudahnya dibuang….. untungnya ada Goethe Universitat yang mau menampung buku-buku itu). Karya sastra Indonesia juga banyak di perpustakaan ini, mulai dari novel-novel ringan karya Deddy D. Iskandar, Mira W, Andrea Herata sampai Pramoedya Ananta Toer ada di sini. Masih banyak lagi koleksi-koleksi lain di perpustakaan ini, yang hampir semua hal terkait dengan kajian negara-negara Asia Tenggara ada di sini. Kami juga diberi kesempatan melihat ruang kerja Prof. Graf. Di ruang ini sepertinya Indonesia pindah ke sini karena banyak pajangan seperti kain batik, tenun, wayang, topeng, dan sebagainya. Di salah satu rak juga terpajang foto Prof. Graf berjabat tangan dengan almarhum presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Prof. Graf berterus terang sangat menyukai Islam di Indonesia dan Malaysia yang dianggapnya berbeda dengan negara lain.
Kunjungan ke Library of Southeast Asian Studies di kampus Bockenheim Goethe Universitat
Hari-hari terakhir di Frankfurt kami habiskan dengan silaturrohiem sambil jalan-jalan mengelilingi Frankfurt. Dan baru kali ini kami berjalan-jalan dengan para petinggi Malaysia seperti Datuk Dr. Awang Sariyan, Ketua Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Prof. Madya Dr. Sanat Md. Nasir, Prof. Dr. Mahzan Arshad, Prof. Dr. Hashim Musa, Prof Madya Dr. Siti Saniah Abu Bakar dan teman-teman dosen dari berbagai perguruan tinggi dengan naik kereta api yang nyaman. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan…….
Penulis Dr. Sri Wahyuni, M.Pd adalah Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama FKIP UNISMA Malang sekaligus Dosen Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UNISMA Malang
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-17-at-11.59.03-PM.jpeg7511280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-19 17:56:502020-05-19 17:56:52Memperjuangkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional hingga ke Jerman oleh Dr. Sri Wahyuni, M.Pd Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama FKIP UNISMA Malang
University of the Arts London (UAL) adalah salah satu collegiate university yang berlokasi di London, England. Universitas ini berspesialisasi pada bidang seni, disain, fashion, dan performing arts. UAL merupakan bagian dari persekutuan perguruan tinggi seni yang terdiri dari Camberwell College of Arts, Central Saint Martins, Chelsea College of Arts, the London College of Communication, the London College of Fashion dan Wimbledon College of Arts. UAL menerima TEF Silver. TEF (Teaching Excellence Framework) diberikan kepada perguruan tinggi yang senantiasa memberikan pengajaran, pelajaran dan hasil belajar dengan kualitas tinggi kepada mahasiswanya. Terlebih lagi, perguruan tinggi tersebut juga harus memenuhi persyaratan kualitas pendidikan nasional. Itulah mengapa saya setuju ditempatkan di University of the Arts London untuk melaksanakan Overseas Non-DegreeTraining (ONDT) dengan Host Supervisor Dr. Richard Thomas, Course Leader English and Modern Languages-The Language Centre, University of the Arts London dan Advisor Dr. Rae M Lucas, Literature Lecturer in University of the Art London, UK.
Cambridge University, London
Kegiatan ini telah terlaksana beberapa tahun silam melalui program Dana hibah Indonesia Managing Higher Education for Relevancy & Efficiency (IMHERE) yang dimenangkan oleh UNISMA Malang. Hanya saja memori indah masih melekat di hati. Terlebih pada momen bulan Puasa Ramadhan 2020 kali ini.
Puasa pada bulan suci Ramadhan di Inggris sekitar 19 jam. Menjelang musim panas, durasi siang hari lebih panjang dari pada malamnya. Matahari terbit sekitar pukul 5 pagi dan baru terbenam pukul 21.00. Bisa dibayangkan berpuasa di negeri ujung Eropa ini berkisar 18-19 jam. Menjalankan puasa Ramadhan di Inggris terasa sangat berbeda saat di Tanah Air. Mengapa, yang pertama adalah, kita tidak akan mendengar kumandang azan Magrib penanda waktu berbuka. Tak ada pengeras suara masjid yang membangunkan warga menjelang sahur tiba. Tak ada restoran yang memasang gorden untuk menutup hidangannya, dan tidak ada penanda waktu Imsa’ dari pengeras Masjid atau Mushalla. Sunyi senyap di luar sana, nyaris nampak seperti kota tak berpenghuni. Sangat berbeda suasana dan setting puasa Ramadhan di Inggris dan di Indonesia.
Perbedaan durasi lama berpuasa adalah hal yang sangat terasa antara berpuasa di Indonesia dan Inggris. Panjangnya durasi ini menjadi tantangan tersendiri. Bagi muslim di Indonesia, pukul 17.00 sore terasa sudah sangat dekat dengan waktu berbuka. Menu buka puasa mungkin sudah siap tersaji di meja. Sementara di Inggris, pukul 17.00 matahari masih tinggi dan waktu berbuka masih 4 jam lagi. Matahari masih bersinar cerah terang benderang, seperti pukul 12 siang waktu Indonesia.
Dengan segala perbedaan yang ada, keunikan ibadah puasa di Britania Raya sangat terasa. Waktu di Inggris tertinggal 6 jam dari waktu di Indonesia. Sehingga, ketika umat Islam di Britania Raya baru berbuka puasa (pukul 21.00) saudaranya di Indonesia sedang menikmati sahur (pukul 03.00) untuk puasa hari berikutnya. Sungguh Kuasa Allaah terhadap segala ciptaan dan kreasi-Nya…
Buka Puasa di Regent Park Mosque (Sebelum Covid-19)
Hal lain yang tak terlupakan adalah kebaikan dari ibu-ibu KBRI London untuk mengundang kami berbuka puasa di Restaurant dengan hidangan sudah matang, tapi matahari masih terang benderang, karena waktu berbukapuasa masih 1 jam lagi yaitu pukul 21.00. Meskipun demikian, panjangnya durasi puasa tak menjadi masalah besar karena matahari tidak terlalu menyengat. Musim semi di Inggris lebih dingin daripada musim hujan di Indonesia. Matahari memancarkan sinarnya, tapi suhu udara hanya berkisar 10-15°C, sehingga dahaga tak begitu terasa, suasana pegunungan, sejuk dan sangat nyaman, Subhanallaah… tentunya situasi yang saya alami beberapa tahun silam ini bisa saja berbeda dengan situasi puasa Ramadhan tahun ini di tengah pandemic Covid yang melanda Inggris dan bahkan lebih dari 150 negara di dunia.
Tantangan lain yang lebih berat dalam berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth II adalah mengatur waktu istirahat. Waktu itu..kegiatan yang saya ikuti adalah sebelum terjadinya Covid-19, sehingga perkuliahan dilaksanakan secara tatap muka di UAL, dimulai pukul 08.00, praktis pukul 07.00 saya harus berangkat dengan naik bus 2 kali menuju UAL. Jeda waktu antara salat tarawih dan makan sahur relatif singkat. Rata-rata, salat Isya saya lakukan berjamaah di Masjid Regent Park dilakukan pukul 22.30. Tarawih dimulai pukul 23.00 dan selesai sekitar pukul 24.00. Waktu yang tersisa untuk istirahat pun jadi sangat terbatas, mengingat pukul 02.00 pagi sudah mulai persiapan sahur, sehingga harus disiplin mengatur waktu tidur, supaya tak terlewat santap sahur. Maka seisi rumah tidak ada yang tidur, bertahan untuk menuju makan sahur, dan shalat subuh. Selesai shalat subuh barulah saya mencoba untuk mengistirahatkan tubuh sejenak, meskipun saya menyadari bahwa seorang muslim hendaknya menghindari tidur pagi meskipun tidak ada larangan yang mutlak untuk hal ini.
Selama 2 bulan di Inggris dan 20 hari puasa Ramadlan, bisa dirasakan bahwa umat Islam di Inggris sangat menghormati umat beragama lain, termasuk di bulan Ramadhan. Misalnya pengalaman menjaga ketertiban setelah salat Tarawih yang berakhir tengah malam, yang saya sendiri alami ketika berkunjung ke London pada saat sebelum Covid-19. Pengurus masjid juga mengingatkan jamaah agar tidak berisik atau ngobrol terlalu keras ketika berjalan pulang dari masjid karena bisa mengganggu warga non muslim yang sedang nyenyak beristirahat. Bahkan Duta Besar Inggris untuk Indonesia menyatakan warga di Inggris menjaga toleransi antar umat beragama termasuk saat menjalankan ibadah puasa di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Dia juga menyatakan khususnya di kota-kota besar di Inggris, semua perusahaan faham tentang bulan puasa dan siap untuk menyesuaikan keperluan kerja dan agama. “Toleransi agama, toleransi kebudayaan, toleransi ras, juga sangat baik di Inggris.”
Penulis Dr. Hj. Mutmainnah Mustofa, M.Pd., Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA)
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Oxford-University.png700933OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-18 18:30:362020-05-18 18:30:37Puasa Ramadhan di Inggris: Best Memory From London oleh Dr. Hj. Mutmainnah Mustofa, M.Pd Dosen Pascasarjana UNISMA Malang