Wai Khru: Secuil Cerita dari Negeri Gajah Putih Oleh Elva Riezky Maharany Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA Malang, Pengajar BIPA Program PPSDK di Rajamangala University of Technology Krungthep Bangkok

Teachers do the right thing. They are diligent, persistent, hospitable, idealistic, strong and patient. They are also honest, sincere and kind to others.  They are wise, reasonable and knowledgeable – His Majesty King Bhumibol Adulyadej, Raja Thailand (1980:23)

Kala itu.

Udara pagi merasuk ke dalam apartement saya. Rasanya hari ini tidak seperti biasa. Senang dan bahagia yang lebih daripada hari biasa. Saya siap membagi kesenangan tersebut dan bergegas menyiapkan diri untuk ke kampus mengikuti sebuah upacara yang saya nanti-nanti. Upacara spesial yang mana guru dan mahasiswa baru sangat tunggu.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Tepat pukul sembilan pagi, upacara dimulai. Hawa sakral dan kidmat menyelimuti aula pertemuan universitas. Cat putih tembok aula seakan mendukung suasana kala itu. Suci dan murni. Setiap kelompok mahasiswa baru dengan pakaian senada warna putih dengan bawahan hitam tiap-tiap jurusan berkumpul di aula yang luas tersebut. Rektor, pimpinan universitas, guru dan tak lupa pegawai universitas menyambut mahasiswa baru dengan senyum terbaik penuh dengan aura keteduhan. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka. Mereka kemudian berdiri dan salah satu mahasiswa memimpin memanjatkan doa.

Alunan lagu menderu mendayu mengisi ruangan kala itu. Lagu ‘Wai Khrun’ yang menceritakan tentang pentingnya guru dalam kehidupan. Tanpa tahu arti di tiap liriknya, lagu tersebut nyatanya telah berhasil membuat saya merinding dan terharu. Sungguh syahdu.

Saat itu, saya duduk di kursi barisan kedua bersama dengan para rector, pimpinan universitas, dan guru. Kami duduk di atas panggung, sebuah posisi yang lebih tinggi daripada tempat duduk para mahasiswa. Karpet berwarna merah menyala menajdi saksi apa yang terjadi di atas panggung kala itu. Satu persatu siswa dari tiap-tiap kelompok berjalan ke atas panggung. Tiap-tiap mahasiswa membawa rangkaian bunga indah di tanganya senada dengan senyum yang mengisi setiap wajah yang hadir dalam upacara waktu itu. Tapi, ada satu rangkaian bunga dalam barisan tersebut yang menjulang tinggi karena berukuran lebih besar dibandingkan rangkaian bunga yang lain. Sangat menyenangkan menikmati upacara ini.

Sampainya di bibir panggung, ada hal yang menarik yang saya amati. Tiap-tiap siswa berjalan dengan lutut mereka pada posisi yang lebih rendah daripada mereka yang duduk di atas panggung hingga membentuk barisan rapi di depan guru mereka. Seakan dalam satu aba-aba, barisan tersebut duduk berlutut rapi tanpa cela dengan kepala tertuntuk kidmat di hadapan kami.

Mata saya tetap tertuju pada apa yang siswa lakukan kala itu. Bersama-sama rangkaian bunga yang siswa bawa dihanturkan kepada kami. Semua seperti dalam satu komando. Kemudian, barisan rapi siswa melakukan posisi sujud yang membuat posisi mereka sejajar dengan kaki kami. Mereka meletakkan kepala dan badan mereka membungkuk lurus ke tanah. Ternyata, ini adalah simbol transfer ilmu dari guru kepada siswa. Sebuah budaya dari Thailand sebagai cara untuk menunjukkan rasa hormat. Layaknya ujaran kalimat dari siswa yang mengaku, ‘Kami siswa tidak pernah “lebih tinggi” daripada guru’. Hati saya berdegup kencang mendapatkan perlakuan demikian.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Setelah itu, siswa bangkit dari sujud mereka tapi masih dalam posisi duduk bersimpuh dihadapan kami. Kami mengencangkan dasi (bagi laki-laki) atau memasang pin lambang sekolah (bagi perempuan) sambil teriring doa agar kesuksesan, keberuntungan, dan keberhasilan selalu bersama mereka baik selama mereka belajar di universitas maupun kelak di masa depan.

Panggung kala itu seperti sebuah taman. Bunga-bunga yang sangat cantik mewarna menghiasi panggung kami. Bunga-bunga tersebut memiliki makna yang dalam. Rangkaian bunga melambangkan kecerdasan yang tajam, tekad dan kemampuan untuk belajar, kedisiplinan serta penghormatan terhadap guru dan kerendahan hati. Rangkaian itu merupakan simbol rangkaian doa para siswa.

Upacara pagi itu ditutup dengan sesi foto bersama hadirin yang ada di aula pertemuan waktu itu. Kenangan ini selalu bersama saya selamanya. Bagi saya mengajar di negara gajah putih ini merupakan salah satu pengalaman dalam hidup terutama pengalaman baru. Tentang bagaimana hormat-menghormati antara guru dan siswanya sangat dijunjung tinggi. Sebuah penghormatan kepada guru yang tiada tara menurut saya.

Terkadang saat saya mengajar bertemu dengan mahasiswa dengan berbagai karakter dan latar belakang yang beragam membuat rasa sabar dalam diri teruji. Akan tetapi, sapa senyum dan terima kasih yang mereka ucapkan membuat saya teringat pengalaman saya ketika upacara Wai Khrun dan membawa saya menepis rasa yang kurang pantas dalam diri dan membesarkan diri. Apakah saya sudah benar-benar menjadi guru yang terbaik untuk mahasiswa saya. Apakah saya sudah menjadi teladan yang baik buat mereka. Apakah saya pantas menerima penghormatan yang sedimikian rupa. Ragam pertanyaan yang selalu saya tanyakan dalam diri guna melecut diri ini untuk selalu memberikan yang terbaik untuk mahasiswa saya.  

Itulah sepenggal kisah perjalanan mengajar saya di Rajamangala University of Technology Krungtep (UTK), Bangkok, Thailand. Secuil kisah tersebut menggambarkan betapa ‘Wai’ (dalam Bahasa Thai artinya menyapa) dimaknai lebih daripada sekadar menyapa, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada guru. Selain terkenal akan keelokan negarannya, tak heran jika Thailand juga populer sebagai salah satu negara yang sangat menghormati guru.

Siswa sedang memberikan penghormatan kepada guru (dok. pribadi penulis)

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Guru sedang mengaitkan dasi ke siswa seraya berdoa untuk mereka (dok. pribadi penulis)

Rangkaian bunga untuk upacara Wai Khru (dok. pribadi penulis)

Foto bersama rektor dan pimpinan universitas dengan latar belakang mahasiswa baru yang sedang mengikuti upacara Wai Khru (dok. pribadi penulis)
Foto bersama guru (dok. pribadi penulis)
  • Penulis Elva Riezky Maharani, M.Pd. adalah Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Ketua Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing)  Universitas Islam Malang (UNISMA Malang) serta Pengajar BIPA Program PPSDK di Rajamangala University of Technology Krungthep Bangkok.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Credit Transfer ke Taiwan, Siapa Takut? Oleh Putri Saniatul Iklima Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UNISMA Malang

Menjadi salah satu delegasi mahasiswa pertukaran pelajar dalam program Transfer Kredit Luar Negeri 2019 yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti di National Dong Hwa University, Taiwan merupakan pencapaian terbaik dalam hidup saya. Terlepas dari semua perjuangan dari proses seleksi hingga menyelesaikan semua persyaratan saat pra-keberangkatan, semuanya terbayar tuntas saat saya akhirnya memijakkan kaki dan melanjutkan studi selama satu semester di Negara yang memiliki julukan The Heart of Asia, The Country of Asus, sekaligus The Country of Boba.  Saya amat bersyukur dapat menghabiskan masa satu semester kuliah ini ditemani panasnya summer dan dinginnya winter selama di Taiwan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

National Dong Hwa University (NDHU) terletak di Kota Hualien, yang dapat ditempuh sekitar 2-3 jam dari Kota Taipei, merupakan kampus top-10 di Taiwan dengan luas kampus lebih dari 300 hektar. Awalnya tak mudah bagi saya bisa melakukan aktifitas sehari hari selama kuliah di kampus yang dinobatkan sebagai salah satu kampus terluas di Taiwan ini.  Karena jarak dari pintu depan ke pintu belakang kampus saja dapat ditempuh 7-10 menit menggunakan motor. Bersyukur saya dapat tinggal di dormitory 5 di kampus ini walaupun jarak dari dorm ke gedung fakultas tetap jauh, hampir 1 kilometer. Saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di College of Humanities and Social Sciences atau biasa disebut Fakultas Sosial dan Humaniora lebih spesifiknya di Department of English selama Fall Semester di kampus ini.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Minggu pertama selama masa perkuliahan ternyata tidak semudah yang saya lihat di vlog para mahasiswa international yang mereka unggah di YouTube. Belum usai berkelut dengan cross culture dan language barrier, sistem akademik pun seakan akan terasa momok tersulit di minggu pertama selama kuliah. Mulai dari sistem course selection atau yang kita kenal dengan KRS, pemilihan mata kuliah yang tepat dan sesuai dengan jurusan kita di home university, izin dari beberapa professor (karena tidak semua dosen mau mengajar full berbahasa inggris), dan mewajibkan mahasiswa nternasional untuk mengambil mata kuliah Fundamental Chinese atau Bahasa Mandarin Dasar.

Dilema bagi saya karena harus segera memilih mata kuliah yang sesuai dengan jurusan namun juga harus bisa saya pastikan untuk mendapat nilai memuaskan selama melaksanakan proses perkuliahan. Menjadi mahasiswa pertukaran pelajar bukan hanya tentang jalan-jalan diluar negeri saja, namun beban moral untuk pulang kembali ke Indonesia membawa GPA yang baik agar membanggakan kampus dan keluarga juga merupakan kemelut yang selalu terngiang di kepala selama saya menghabiskan masa studi disana. Saat dinyatakan terpilih sebagai salah satu mahasiswa yang akan melaksanakan program transfer kredit ini, saat itu pula saya harus bersiap sebaik mungkin agar menjadi jembatan kerjasama yang baik antara NDHU dan UNISMA serta menjaga nama baik negara saya, Indonesia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Minggu pertama perkuliahan saya habiskan untuk membangun komunikasi yang baik antara OIA UNISMA dan NDHU, Fakultas UNISMA dan NDHU, maupun senior PPI di NDHU agar bisa membantu untuk menyelesaikan proses administrasi perkuliahan, rekomendasi mata kuliah yang dapat saya ambil, hingga rekomendasi professor yang mana yang kiranya mau menerima saya sebagai mahasiswa internasional satu satunya di dalam kelas. Ditolak oleh empat professor sempat meruntuhkan hati saya pada saat itu. Lalu apakah saya menyerah saat itu juga dan memutuskan untuk pulang saja ke Indonesia? Tidak. Saya menghabiskan satu hari full hanya bermodal smartphone yang berisi lengkap soft file berkas penting untuk lanjut berkomunikasi dengan professor lain. Dan keesokan harinya bermula dari satu dosen yang mengACC request saya melalui surel, hingga bertambah menjadi tiga hingga enam dosen akhirnya menerima saya untuk bergabung dan mengikuti proses perkuliahan selama satu semester.

Menghabiskan masa belajar selama satu semester rasanya akan sangat membosankan dan tidak asik jika hanya dihabiskan dengan kegiatan belajar, tidur, dan kuliah saja. Jiwa aktifis dan volunteer di dalam diri saya sangat meronta ronta seakan akan di minggu ketiga inilah saatnya saya mulai mencari kegiatan diluar perkuliahan. Bermula dari aktif mengikuti kegiatan PPI NDHU saat acara Cultural Night, hingga kegiatan volunteering dalam acara Taiwan International Cooperation Alliance, TICA CUP oleh ICDF 2019 yang diikuti oleh mahasiswa international dari seluruh universitas di Taiwan, dan kebetulan sekali tuan rumah acara tahunan ini adalah NDHU. Seleksi administrasi dan wawancarapun saya lewati hingga akhirnya saya bisa mengerahkan kemampuan leadership dan communication skill pada hari H pelaksanaan acara ini. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dalam acara besar ini karena dengan begitu saya bisa memperluas international networking dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Tidak hanya kegiatan sosial yang saya ikuti selama menyelesaikan studi di NDHU. Kegiatan spiritual seperti mengikuti kajian setiap kamis malam, sholat berjamaah dzuhur ashar dan maghrib, hingga membantu menyiapkan acara makan bersama yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan atau disingkat FORMMIT NDHU pun saya ikuti dengan rutin. Menjadi muslim sebagai kaum minoritas di Taiwan memanglah tidak mudah, namun dengan berbekal jiwa Aswaja yang diajarkan selama saya kuliah di UNISMA tetap saya genggam erat agar senantiasa dapat berbaur secara harmoni dan penuh toleransi dengan sesama. Hidup di negara yang mayoritas mengkonsumsi daging babi merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sangat susah sekali rasanya untuk menemukan ragam makanan halal di toko, pasar, maupun supermarket. Terkadang harus menunggu pedagang muslim yang menjual makanan dan daging halal dari MUI selama dua minggu satukali. Selebihnya harus mampu menjadi vegetarian selama satu semester disana.

  • Penulis Oleh Putri Putri Saniatul Iklima adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISMA Malang Peserta Credit Transfer ke National Dong Hwa University, Taiwan.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Berguru Pengobatan Tradisional ke Negeri Tirai Bambu Oleh Dr. H. Yudi Purnomo, S.Si., M.Kes., Apt., Ketua Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran UNISMA Malang

Ada pepatah mengatakan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, hal ini mendorong tim dosen dari Fakultas Kedokteran UNISMA untuk belajar pengobatan tradisional ke negeri tirai bambu yang terkenal seantero dunia dengan Traditional Chinese Medicine (TCM) nya. Kebetulan pula, Fakultas Kedokteran UNISMA memiliki visi dan misi pengembangan Keanekaragaman hayati untuk penunjang pengobatan, hal ini yang menjadi alasan kuat bagi kami untuk memilih topik pengobatan tradisional di Cina. Selain untuk menambah wawasan keilmuan sebagai pengajar, kami juga ingin membandingkan pengobatan tradisional di Indonesia. Kami berangkat ke negara yang terkenal dengan ikon Beruang Panda ini, sehubungan dengan pelaksanaan  kegiatan Non Degree Training Overseas (NDTO) melalui program hibah HAPEQ Fakultas Kedokteran UNISMA yang didanai Kemenristek Dikti tahun anggaran 2013. Penulis memutuskan Guang’anmen Hospital China Academy of Chinese Medical Science di Beijing, China, sebagai tempat NDTO berdasarkan referensi dari rekan Kemenkes dan reputasi dari institusi ini yang sudah tidak diragukan lagi. Terbukti hingga saat ini masih terbina networking yang baik dan saling menguntungkan antara keduabelah pihak. Bahkan, setiap tahun mereka mengundang kami untuk menghadiri kegiatan ilmiah yang diselenggarakan di sana. 

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kegiatan Non Degree Training di Guan’anmen Hospital

Setelah melakukan korespondensi via email dan memperoleh Letter of Acceptance (LOA) dari host institution, kami bertiga, penulis, dr. HRM Hardadi Airlangga, Sp.PD dan dr. Hj. Farida Rusnianah, MARS, berangkat untuk berguru tentang Pengobatan Tradisional di Negeri Cina. Saat kami tiba pada awal maret 2014, di kota Beijing sedang end winter dengan kisaran suhu 5-10°C. Cuaca dingin tersebut tidak menyurutkan niat kami untuk belajar selama satu minggu di ibu kota negara Cina ini. Setelah diawali acara perkenalan dengan host institution coordinator yaitu Dr. Cui yongqiang, Ms. Bing Zhou dan Ms. Nanjihong, pada hari pertama kami diberikan materi pembelajaran teori TCM yaitu herbal medicines, accupuncture, chinese massage (tuina). Kemudian dilanjutkan berdiskusi dan tukar pengalaman dengan supervisor tentang traditional medicines di negara masing-masing. Pada penyampaian topik herbal medicines, ada bantuan penterjemah karena narasumber kurang menguasai Bahasa Inggris tapi hal ini tidak mempengaruhi pehamaan materi yang disampaikan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Clinical Session di Chinese Massage Ward

Setelah mendapatkan dasar teori pada hari sebelumnya, pada hari kedua dan ketiga dilanjutkan dengan clinical session yaitu melakukan observasi penggunaan Traditional Chinese Medicines pada pasien di rumah sakit “Guang’anmen hospital” dibawah bimbingan supervisor. Pada kegiatan observasi kita mendapatkan pengalaman dari supervisor untuk melakukan diagnosa dan terapi dengan menggunakan metode herbs medicine, acupuncture dan chinese massage (tuina). Guang’anmen hospital ini memiliki jenis pelayanan kesehatan dengan 28 departemen klinik yang didukung 350 dokter, setiap hari hampir ada 9000 kunjungan pasien rawat jalan dan sekitar 80 % hanya mendapatkan terapi TCM. Sementara 650 pasien rawat inap mendapatkan terapi integrative yaitu mengkombinasi pengobatan konvensional (obat sintetik kimiawi) dan pengobatan alternative (herbal, acupuncture dan tuina) untuk optimalisasi terapi. Kegiatan clinical session ditutup diskusi dengan supervisor dari hasil kegiatan observasi kasus pasien di rumah sakit.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Ward Visite untuk terapi herbal per topical bersama Prof. Liu

Hari keempat, kegiatan field trip diawali dengan kunjungan ke “Tasly” industri obat tradisional china di kota Nanjing yang berjarak 100 km dari Beijing. Kami bersama supervisor naik bullet train (kereta super cepat China) dengan kecepatan 277 km per jam, tidak lama kami pun tiba di kota Nanjing. Kegiatan pembuatan obat traditional di industry obat tradisional “Tasly” telah menerapkan prinsip Good Agriculture Practice (GAP), Good Extraction Practice (GEP), Good Manufacturing Practice (GMP), Good Clinical Practice (GCP), Good Laboratory Practice (GLP) dan Good Supply Practice (GSP).  Hal ini dilakukan untuk mendapatkan produk Obat Tradisional yang bermutu. Produk yang dihasilkan antara lain suplemen makanan, makanan dan minuman fungsional, kosmetika, perbekalan kesehatan rumah tangga dan produk perlindungan lingkungan.

Field Study di “Tasly Pharmaceutical Industries” di Nanjing

Hari ke lima, field trip kedua mengunjungi “Beijing Massage Hospital” (BMH) yaitu salah satu rumah sakit swasta di Beijing yang menyediakan pelayanan rawat jalan dan rawat inap dengan kekhususan herbs medicine, acupuncture dan chinese massage. Pasien yang datang berobat ke BMH diperiksa oleh seorang dokter umum kemudian dokter akan memberikan alternatif terapi sesuai kebutuhan pasien. BMH juga menyediakan pelayanan terapi Fumigation, Short & Microwave, Sinar laser dan Electrotheraphy. Di Cina, pengobatan konvensional dan TCM berjalan serta berkembang beriringan dan keduanya di cover pembiayaannya oleh Pemerintah melalui asuransi kesehatan. Hal ini berbeda dengan di negara kita, pengobatan menggunakan herbal tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan terkait alasan yang kompleks seperti pemahaman dokter tentang terapi herbal yang masih kurang, standarisasi dan uji klinik obat herbal yang masih sangat terbatas serta minimnya evidence base medicine untukterapi herbal sehingga pengobatan tradisonal seperti herbal belum diterima sepenuhnya oleh klinisi di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjadikan “Jamu” menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. Selanjutnya pada hari ke enam kami melakukan reporting atau pembuatan laporan kegiatan NDTO ini dan penyerahan cindera mata kepada host institution.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Pemberian tali asih dan cindera mata Host Institution
  • Penulis Dr. H. Yudi Purnomo, S.Si., M.Kes., Apt., adalah Ketua Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Malang (UNISMA Malang).
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Research Attachment Program di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) oleh Rhivaldy Faahim Kamalulloh Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISMA Malang

Hari Kamis (30/1/2020) adalah hari pertama bagi perwakilan Fakultas Kedokteran UNISMA Malang tiba di Kuala Lumpur Malaysia. Saya, Rhivaldy Faahim Kamalulloh dan dosen yang mengantarkan kami Rio Risandiansyah. Setelah tiba di bandara International Kuala Lumpur (KLIA) dengan rasa berbahagia. Bagi Saya, ini merupakan perjalanan pertamanya keluar negeri, jadi saat saya tiba dibandara KLIA, saya bergumam “waduh bandaranya gede banget ya, kaya mall aja gedenya”. Setelah itu kami langsung meluncur ke Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dengan menggunakan jasa taksi online.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Setibanya di UKM, kami langsung disambut oleh pihak UKM, yaitu Miss Vaizura. Miss Vaizura langsung membawa kami menuju hostel yang akan kami tempati selama beberapa minggu kedepan. Esoknya kami langsung menuju Gedung kampus Fakulti Perobatan, untuk mengikuti serangkaian acara yang sudah dipersiapkan oleh pihak FK UKM. Mulai dari pengenalan beberapa Dosen, petugas lab, dan lab tour. Sorenya, kami berkeliling kawasan Rumah Sakit UKM disana, survey beberapa tempat makan, dan beberapa minimarket. Setelah kami mengetahui resto mana yang terbaik dengan harga termurah, kami langsung kembali ke tempat penginapan.

Rhivaldy Faahim Kamalulloh dan Arief Rachman Maoelana, Dua Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISMA yang presentasi pada program Research Attachment di University Kebangsaan Malaysia (UKM)

Setelah beberapa minggu berada di Malaysia, pada minggu ketiga ini saya dan teman saya arief rachman maoelana sudah sampai pada tahap akhir peneletian kami. Saya sudah masuk pada tahap akhir pewarnaan slide histology yang saya buat dengan metode H & E Stainning, dan siap untuk melakukan analisis pada slide yang sudah saya buat sebelumnya. Sedangkan maoelana sudah sampai pada tahap treatment dengan angiotensin ,quercetin, parkia speciosa (incubasi 24 jam), setelah itu grup angiotensin di co treated lago dngn parkia dengan 3 konsentrasi yang berbeda. Lalu mempersiapkan reagen untuk alfa actinin staining nya setelah itu dilakukan alfa actinin staining dan didapatkan hasil keesokan harinya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kami sudah mulai terbiasa dengan kehidupan kami di Negeri jiran ini. Ketika weekdays kita fokus menyelesaikan segala kegiatan kami di lab, malamnya terkadang kami keluar untuk cari makan. Ketika sudah weekend kami berkeliling kota Kuala Lumpur. Cukup lama kami disini rasanya, sehingga pernah kami merasakana kekangenan dengan masakan khas Indonesia, seperti Ayam geprek, bakso, dan aneka macam makanan lainnya yang pedas-pedas, maklum di sini jarang sekali ada makanan pedas, bahkan yang kata orang malaysia sudah pedaspun, bagi kami sama sekali tidak pedas. Jadi kami memutuskan untuk berburu kuliner masakan khas Indoenesia di Kuala Lumpur. Sampai pada akhirnya kami menemukan kedai “Sido Mampir” di Google maps. Jaraknya lumayan jauh dari asrama kami, tapi namanya juga ngidam, lautan dan gunungpun kita akan lewati.

Pada minggu ke-3 juga, surau (musholla) yang ada di asrama kami mengadakan kajian rutin yang dilaksanan oleh remas (remaja masjid) disana. Kamipun ikut serta diundang untuk menghadiri acara kajian tersebut, tidak cukup banyak yang menghadiri kajian tersebut, tapi mubaligh yang mengisi kajian tersebut tidak sama sekali hilang semangatnya untuk mengisi kajian. Yang unik pada sesi akhir pertanyaan di kajian tersebut, ada seorang mahasiswa yang bertanya tentang sifat2 wajib Allah, dan jawaban dari Sheikh DR. Omar mengutip pendapat dari kitab yang ditulis oleh Hadratussyeikh KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama, beliau menyebutkan dengan menerangkan bahwa KH. Hasyim Asyari adalah ulama Nusantara yang sudah diakui di Nusantara. Saya yang mendengarnya cukup bangga mendengar hal itu sebagai mahasiswa UNISMA dari mubaligh asal malaysia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Rhivaldy Faahim Kamalulloh dan Arief Rachman Maoelana, Dua Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNISMA yang mengikuti Research Attachment program di University Kebangsaan Malaysia (UKM)

Pengalaman yang luar biasa ini tentu menjadi keuntungan bagi saya dan teman saya. Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang saya dapat ketika saya melakukan penelitian di Malaysia, mulai dari pelajaran dari sisi akademik sampai pelajaran dari sisi kehidupan. Untuk seluruh mahasiswa ataupun adik tingkat yang ingin keluar negeri tapi merasa belum qualified, jangan pernah takut untuk terus bermimpi, asal ada kemauan dan usaha yang keras, keinginan kalian pasti bisa tercapai. Saya juga baru sadar ketika saya berada di Malaysia, kunci pertama ketika kita ingin berhasil mencapai dunia internasional adalah belajar bahasa internasional seperti bahasa inggris, karena banyak sekali sumber-sumber ilmu yang menggunakan bahasa inggris dan dengan bahasa inggris kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang diluar sana.

  • Penulis oleh Arief Rachman Maoelana adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Studi di Taiwan, Siapa Takut? Oleh dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran UNISMA Malang

Belajar ke luar negeri adalah suatu keniscayaan bagi anak bangsa yang ingin keluar dari zona nyaman (comfort zone). Namun dibalik itu semua, prestasi demi prestasi akan bisa diraih bila kita serius berikhtiyar mencapai cita-cita.  Apalah saya yang mencoba peruntungan mengikuti kompetisi meraih beasiswa S3 luar negeri yang diadakan oleh pemerintah Indonesia (BPPLN DIKTI). Tiga kali diwawancara baru diterima, 3 batch interview saya jalani dalam setahun! Dan batch yang nyaris terakhir saya lolos wawancara. Alhamdulillah.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Bukannya saya tidak mampu meraih beasiswa dari luar negeri, namun kebanggaan menjadi anak bangsa yang studi dibiayai oleh pemerintahnya sendiri adalah asa yang ingin saya capai. Menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu membiayai bangsa sendiri untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Selain itu, kepercayaan diri juga meningkat manakala kita belajar membawa nama baik bangsa. Tidak berhutang balas budi pada negara lain. Tahun 2014 saya diterima di tiga perguruan tinggi di Taiwan melalui letter of acceptance (LoA) yang ditujukan kepada saya: National Pingtung University of Science and Technology (NPUST), National Sun-Yat Sen University (NSYSU) plus beasiswanya dan Kaohsiung Medical University (KMU). Namun pilihan hati jatuh pada KMU karena saya seorang dokter. Linearitas penting untuk jenjang karir dosen.

Tiba saatnya di independent day of Taiwan ROC, 10 Oktober 2014, saya bertekad berangkat membawa ketiga anak saya ke Kaohsiung, kota terbesar kedua di Taiwan. Oh ya, saya bisa membawa serta anak-anak karena suami saya setahun lebih dulu berangkat studi di sana. Dan mereka berangkat melalui visa suami saya yang telah tinggal setahun disana. Alhamdulillah

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Dari sejak pertama menginjak tanah Kaohsiung, kebingungan demi kebingungan selalui kami hadapi karena perbedaan segalanya. Culture shock! Iya, kami mengalaminya. Gangguan psikosomatis! Tentu, hampir setiap hari kami rasakan.  Tapi kami tetap satu tujuan, LULUS KULIAH S3! Beruntungnya saya dipertemukan dengan 2 profesor pembimbing (adviser): Prof Ying-Fu Chen, seorang dokter ahli bedah thorak dan kardiovaskuler dan Prof Jwu-Lai Yeh, seorang ahli farmasi. Keduanya bagaikan malaikat yang sangat baik hati dan pengertian dengan saya dengan segala keterbatasan ilmu dan aspek finansial yang saya miliki. Tahun pertama studi S3 berorientasi menyelesaikan mata kuliah dan tugas-tugas dosen. Oh ya, di Taiwan menganut pendidikan klasikal, dimana kita tetap masuk kelas dan menempuh sejumlah mata kuliah sebagai syarat lulus. Misunderstanding! Iya, selalu ada kesalahpahaman instruksi dosen dan pegawai kampus dengan mahasiswa Internasional. Maklum karena kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris yang bukan bahasa nasional baik untuk mereka ataupun kami. Lama kelamaan kami memahami apa maksud mereka dengan English pronounciation yang khas. Tahun kedua, saya fokus pada penelitian yang menggunakan hewan coba. Lagi-lagi, saya mengalami kesulitan karena biasa pegang pasien orang dan sekarang pegang hewan coba. Beruntung saya didampingi asisten laboratorium yang sabar dan telaten mengajari saya melakukan penelitian laboratorium biomedik. Alhamdulillah

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Tahun ketiga adalah tahun publikasi. Fear (takut) adalah perasaan yang pertama saya rasakan untuk mencoba menulis artikel jurnal dan men-submit hasil penelitian kami. Syarat lulus mengharuskan untuk publikasi di dua jurnal internasional ber-impact factor (IF) lebih dari 2 atau satu jurnal dengan IF lebih dari 5 dan satu jurnal berindeks science citation index (SCI). Bukan syarat yang ringan tentunya, beberapa pertimbangan seperti ketepatan memilih jurnal sesuai topik penelitian, artikel yang ditulis bagus, manajemen jurnal yang cepat merespon author dan biaya publikasi yang affordable harus dipikirkan dengan baik. Dan Alhamdulillah, adviser menjamin seluruh biaya penelitian dan publikasi anak-anak bimbing beliau. Satu hal yang didambakan mahasiswa yang menempuh studi S3, dukungan finansial dari pembimbing. September 2017 saya berhasil melakukan publikasi pertama pada jurnal dengan IF 5,068. Tahun selanjutnya, fokus untuk publikasi kedua sambil menulis beberapa artikel jurnal penelitian. Tahun 2018 di hari yang sama di bulan Agustus, 2 artikel saya diterima di jurnal internasional dengan IF 3 dan 8. Sungguh luar biasa, di luar dugaan saya ketagihan publikasi. Namun, saatnya untuk kembali ke tanah air karena 4 tahun sudah saya menjalani studi di KMU. Anak-anak kami pun sudah jenuh ingin kembali ke Indonesia. Pada 22 Oktober 2018 adalah hari ujian disertasi. Tanpa selebrasi, suguhan hanya secangkir kopi dan 2 potong roti, 5 profesor penguji yang sangat humble menguji disertasi saya. Alhamdulillah, hari itu pula saya berhak mendapat gelar PhD dan saatnya kembali ke Fakultas Kedokteran UNISMA Malang. Studi di Taiwan memang tidak mudah, dengan tekad ikhtiyar dan tawakkal, serta optimis berhasil siapa saja bisa melakukannya. InsyaALLAH.

  • Comfort zone is a situation in which you feel comfortable and in which your ability and determination are not being tested (https://dictionary.cambridge.org).
  • Culture shock means a feeling of confusion felt by someone visiting a country or place that they do not know (https://dictionary.cambridge.org).
  • Gangguan psikosomatis adalah istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan. Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma) https://hellosehat.com.
  • Thorax adalah bagian tubuh hewan yang terletak antara kepala dan abdomen https://id.wikipedia.org/wiki/Toraks.
  • Penulis dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D adalah Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA).
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Kuliah Lapangan di Negeri Gajah Putih Oleh Retno Wulan Sekarsari Dosen FIA UNISMA Malang

Bagi saya pribadi, bisa melanjutkan jenjang studi melalui program Double Degree di luar negri rasanya seperti mimpi. Saya akan membagikan sepenggal kisah dari kehidupan saya, yang tidak terlupakan.

Singkat cerita saya adalah alumni mahasiswa Double Degree di Burapha University, Thailand. Rasa senang, kaget, cemas, dan gembira bercampur aduk menjadi satu, ketika saya menginjakkan kaki saya di Thailand.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Waktu itu, saya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja, saya belajar dan terus belajar. Bayangkan, betapa stresnya saya karena semua materi mata kuliah, diskusi, presentasi serta penjelasan dari dosen semua dalam bahasa Inggris. Setiap malam, saya berusaha belajar secara otodidak sampai tengah malam. Dan akhirnya ke’stres’an pun berlalu. Saya bisa melewatinya dengan baik.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, akhirnya saya terbang ke Thailand bersama teman-teman dari Indonesia. Waktu itu, kami hanya berlima. Kami dikirim ke BuraphaUniversity, dan diterima pada Batch III di Faculty Political Science and Law.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kehidupan perkuliahan di Thailand sangat menarik sekali dan sangat menyenangkan. Di Burapha University terutama pada fakultas dan jurusan saya mahasiswa bebas melakukan eksperimen. Hampir setiap mahasiswa di setiap mata kuliah mendapatkan tugas sebuah project. Project ini bebas dikakukan secara mandiri, berkelompok dengan teman sekelas, atau berkelompok dengan mahasiswa lokal (Thailand). Output dari project tersebut minimal adalah sebuah konsep pemikiran besar yang menghasilkan problem solving yang bisa diterapkan secara nyata. Sistem penilaian yang diberikan oleh dosen bukan hanya didasarkan hasil akhir, tapi beliau-beliau juga melihat seberapa besar effort kami dalam proses menyelesaikan tugas tersebut.

Dosen-dosen Thailand sangat ramah dan penyayang. Beliau-beliau tidak pernah menolak apabila kami meminta konsultasi dan bimbingan, walau di luar mata kuliah yang diampu. Hal yang paling menyenangkan ketika menempuh S2 di Thailand adalah “kelas lapangan”. Setiap hari Sabtu pagi, kelas S2 Internasional selalu digabung dengan kelas S2 lokal mahasiswa Thailand untuk melakukan kunjungan lapangan di berbagai pelosok tempat di Thailand. Kelas Lapangan dimulai pukul 06.00 dan berakhir pukul. 18.00, dan kadang juga selesai sampai pukul 21.00. Dalam kelas lapangan tersebut kami didampingi oleh dosen kelas Internasional, yang bertugas menerjemahkan bahasa lokal Thailand kepada kami. Dalam kelas lapangan tersebut ada sembilan orang mahasiswa Indonesia, tiga orang mahasiswa Kamboja, dua orang mahasiswa Vietnam, tiga orang mahasiswa Taiwan dan selebihnya mahasiswa lokal Thailand.

Kelas lapangan adalah kelas yang sangat menambah wawasan mahasiswa terutama tentang sosial, budaya dan inovasi dari masyarakat dan pemerintah Thailand. Hampir seluruh mahasiswa selalu excited dalam mengikuti kelas lapangan, karena selalu membuat kami haus belajar tentang hal-hal baru yang ada di negara tersebut. Terkadang saking excitednya, kami tidak merasa berada dalam grup kelas, tapi seperti rombongan tour yang menyenangkan. Pada hari Senin pagi, tugas kelas lapangan selalu dikumpulkan tepat waktu. Tugas dibuat sesuai apa yang kami pahami dalam ulasan pemateri ketika kelas berlangsung. Tidak terasa 1,5 tahun berlalu begitu cepat dan akhirnya saya harus kembali ke Indonesia.

Alhamdulillah saya lulus dari BuraphaUniversity dengan “nilai sempurna”, yaitu dengan IPK 4,00. Dari kelas Double Degree saya mendapatkan banyak pengalaman dari reasearch and develoment, serta dua gelar yaitu Master Administrasi Publik (M.AP) dan Master of Political Science (M.Pol.Sc). Pengalaman selama menempuh study S2 Double Degree tersebut juga mempengaruhi cara mengajar saya dikelas dengan selalu mengembanganresearch and development, beserta dengan project.

Bagi seluruh teman-teman yang membaca tulisan ini, yakinlah bahwa “tidak ada mimpi yang terlalu tinggi” karena di tangan Tuhan YME semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin!! Tetap semangat.

Foto Bangkok Post: Mae Moh Power Plant: Pemandangan indah yang awalnya hanya berupa lubang-lubang besar bekas tambang. Pemerintah kota setempat menyulapnya menjadi sebuah tempat wisata edukasi yang sangat indah dan menarik. Recoverylubang bekas tambang yang parah mengandalkan serabut kelapa dengan diimbangi inovasi dan maintenance dari berbagai aspek.
Foto: simandan.com: Foto Angsila Mahasiswa diperkenalkan dengan toleransi yang tinggi dari masyarakat Angsila melalui tempat ibadah yang bersebelahan. Budha-Thailand, Kong Huchu – Cina, dan Muslim – Thailand Melayu (yang foto tempat ibadahnya ada di belakang kuil). Tersentralnya tempat ibadah ini merupakan daya tarik untuk wisatawan dan mahasiswa asing dalam mempelajariculture dan aspek sosial masyarakt Thailand.
Foto Trip Savvy.com: kelas lapangan di Ayyuthaya. Mahasiswa diperkenalkan dengan kisah kerajaan Thailand di masa lampau. Mahasiswa mempelajari tentang sejarah kerajaan Thailand sebelum ibu kota kerajaan Siam dipindah ke Bangkok, kehidupan sosial budaya, serta perubahan bentuk baik pemerintahan dan administrative setelah Ayyuthaya jatuh
  • Penulis Retno Wulan Sekarsari, SAP, MAP, M.Pol.Sc adalah Wakil Dekan 2 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang (UNISMA Malang).
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

New Iedul Fitri di Tengah Pandemi

Artikel ini telah terbit di TIMESINDONESIA, MALANG – dan ditayangkan ulang oleh http://kui.unisma.ac.id. Ramadhan hampir meninggalkan kita semua. Segala hal yang terkait dengan ini sebentar lagi dicabut kelebihannya oleh Allah swt. Amal yang dilipatgandakan, rahmad, maghfiroh, dan pembebasan dari api neraka, juga akan menghilang seiring berahirnya ramadhan kareem.

Artikel Selengkapnya di:

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/273673/new-iedul-fitri-di-tengah-pandemi

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Atau bisa juga langsung ke UNISMA Malang (dengan tetap memperhatikan protokol Covid-19), di Jalan Mayjen Haryono, 193, Malang, Jawa Timur 65144

UNISMA Malang:

  • Dari NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia
  • Terakreditasi BAN-PT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  • Memiliki mahasiswa, mitra, dan alumni dari 28 negara, seluruh wilayah Indonesia, dan dari berbagai suku dan agama.
  • Menerima Penghargaan the Best Performing University of the Year
  • PTS peringkat 3 (LLDIKTI Wilayah VII dari 326 institusi pendidikan tinggi di Provinsi Jawa Timur)
  • Ditunjuk Kemenristek RI sebagai Lembaga Penelitian Klaster Utama, dengan anggaran penelitian Rp. 15 miliar per tahun.
  • 100 universitas terbaik, dari 2.141 institusi pendidikan tinggi non-kejuruan se Indonesia.

Daftar sekarang dan bergabunglah dengan kami di UNISMA Malang! http://pmb.unisma.ac.id/

Pilihan Program Studi di UNISMA Malang:http://pmb.unisma.ac.id/

  • Prodi Administrasi Bisnis
  • Prodi Administrasi Publik
  • Prodi Agribisnis
  • Prodi Agroteknologi
  • Prodi Ahwal Al Syakhsyiyah
  • Prodi Akuntansi
  • Prodi Biologi
  • Prodi Farmasi
  • Prodi Ilmu Hukum
  • Prodi Ilmu Peternakan
  • Prodi Manajemen
  • Prodi Pendidikan Agama
  • Prodi Pendidikan Bahasa Arab
  • Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
  • Prodi Pendidikan Dokter
  • Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI)
  • Prodi Pendidikan Guru Roudlotul Athfal (PGRA)
  • Prodi Pendidikan Matematika
  • Prodi Perbankan Syari’ah
  • Prodi Teknik Elektro
  • Prodi Teknik Mesin
  • Prodi Teknik Sipil
  • Profesi Dokter
  • Magister Pendidikan Agama Islam
  • Magister Hukum Islam
  • Magister Manajemen
  • Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
  • Magister Pendidikan Bahasa Inggris
  • Magister Ilmu Administrasi
  • Magister Kenotariatan
  • Magister Peternakan
  • Program Doktor Pendidikan Islam Multikultural

Bahasa Indonesia Menjadi Matakuliah Bahasa Pilihan Kedua di Dua Universitas Besar Uzbekistan oleh Prayitno Tri Laksono Dosen FKIP UNISMA Malang dan Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan

Banyak orang Indonesia yang masih belum tahu bahwa bahasa Indonesia menjadi matakuliah bahasa pilihan kedua setelah bahasa utama di Uzbekistan. Terdapat dua universitas besar yang memasukkan matakuliah Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan.

Pertama, kampus yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua adalah Uzbekistan State World Languages University (UzSWLU). Kedua adalah kampus Thaskent State University of Oriental Studies (TSUOS). Kedua kampus ini sudah sejak lama memasukkan bahasa Indonesia sebagai matakuliah pilihan selain bahasa-bahasa dunia yang lain, yaitu bahasa Jepang, Korea, Iran, Turki, China, Malaysia, Prancis, Italia, Spanyol, Arab, Vietnam, Yunani, dan German.

Di UzSWLU dan TSUOS, matakuliah Bahasa Indonesia sudah diselenggarakan sejak awal tahun 2000-an sebagai matakuliah pilihan bahasa kedua untuk mahasiswa. Mahasiswa di kampus ini mengambil jurusan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

Mereka dapat memilih bahasa kedua asalkan jumlah mahasiswa minimal untuk bahasa kedua mencukupi. Biasanya, jumlah minimal agar bahasa kedua dibuka adalah sekitar 10 mahasiswa per grup. Dari tahun awal dibuka kelas Bahasa Indonesia di kampus ini hingga sekarang, berkisar lebih dari 1.000 mahasiswa telah belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua mereka. Pada tiap semester, kampus UzSWLU akan membuka grup baru, berkisar 2—4 grup yang belajar bahasa Indonesia.

Pembelajaran bahasa Indonesia di kedua universitas tersebut menggunakan pendekatan terjemah. Hal ini menjadi tradisi sejak awal hingga sekarang. Dosen pengampu bahasa Indonesia di sini pada mulanya adalah staf KBRI Tashkent yang juga membantu pihak kampus untuk mengajar mahasiswa. Selain itu, staf KBRI juga berkesempatan untuk melakukan promosi dan diplomasi budaya, sosial, dan pendidikan kepada mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa Indonesia.

Rektor UNISMA MoU dengan TSUOS

Pada awal tahun 2010, alumni jurusan Bahasa Indonesia dari kedua kampus ini juga menjadi dosen Bahasa Indonesia untuk mengajar di jurusan Bahasa Indonesia di kampus mereka.

Banyak juga mahasiswa alumni jurusan Bahasa Indonesia di sini yang telah mendapatkan beasiswa Darmasiwa RI dan KNB di Indonesia. Rata-rata mereka yang pernah mendapatkan beasiswa tersebut kembali ke Uzbekistan untuk bekerja dengan KBRI, menjadi dosen Bahasa Indonesia, menjadi diplomat, dan bekerja di bidang pariwisata dengan pangsa pasar turis dari Indonesia. Mereka tinggal dan belajar di Indonesia minimal 6 bulan. Jadi, saat mereka kembali ke Uzbekistan sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar.

Di UzSWLU dan TSUOS terdapat dua dosen utama Bahasa Indonesia yang menjadi penanggung jawab terhadap matakuliah dan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Kedua dosen tersebut juga merupakan lulusan dari beasiswa Darmasiswa RI. Mereka sudah mengajar bahasa Indonesia di kampus selama lebih kurang 4 tahun.

Kunjungan Rektor UNISMA ke UzSWLU

Keberadaan dosen tersebut sangat membantu dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan menjaga jurusan ini tetap ada hingga sekarang. Pada tahun 2015 hingga 2016, pemerintah RI melalui Kemristekdikti mengirimkan tenaga pengajar dosen Bahasa Indonesia ke kampus di Uzbekistan untuk mengajar selama 1 semester. Pengiriman dosen ini bertujuan agar mahasiswa Uzbekistan dapat belajar langsung dari penutur asli bahasa Indonesia. Program pengiriman dosen bahasa Indonesia ini di bawah tanggung jawab program SAME. Selain mengajarkan Bahasa Indonesia, dosen juga diharapkan dapat mengajarkan budaya dan promosi tentang wisata Indonesia kepada mahasiswa dan masyarakat umum di Uzbekistan.

Pada tahun 2017, pemerintah RI melalui PPSDK, Badan Bahasa, dan Kemdikbud melanjutkan proses pengiriman dosen Bahasa Indonesia ke Uzbekistan. Pengiriman tersebut juga bertujuan sama yaitu agar bahasa Indonesia semakin dikenal dan tetap bertahan menjadi salah satu matakuliah pilihan yang masuk dalam kurikulum pendidikan di UzSWLU dan TSUOS. Perbedaan dengan program dari SAME adalah dosen ditugaskan selama 1 tahun untuk mengajar di Uzbekistan. Selain itu, dosen yang dikirim ke sini adalah dosen lulusan dari jurusan Bahasa Indonesia. Jadi, lebih sesuai dengan bidangnya.

Motivasi dari mahasiswa saat mereka memilih untuk belajar bahasa Indonesia sangatlah beragam. Ada mahasiswa yang memilih jurusan bahasa Indonesia karena mereka ingin mendapatkan beasiswa ke Indonesia, ingin bekerja di KBRI Tashkent, ingin menjadi diplomat yang bekerja di Indonesia, dan ingin menjadi dosen Bahasa Indonesia di Uzbekistan. Selain alasan-alasan tersebut, mahasiswa juga beranggapan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah dipelajari dan sangat menarik untuk ditekuni. Tidak hanya bahasanya yang mudah, tetapi Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya, tradisi, dan kesenian yang menarik untuk dipelajari lebih dalam. Oleh karena itu, mahasiswa ingin bisa berbahasa Indonesai lebih baik sehingga mereka bisa melanjutkan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain dengan bahasa Indonesia kelak.

Seperti halnya di negara lain, di Uzbekistan juga mempunyai kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia. Pertama, jumlah pertemuan tatap muka pelajaran Bahasa Indonesia di sini sangat sedikit, yaitu hanya dua kali dalam satu minggu. Dalam satu kali pertemuan hanya ada 80 menit untuk pelajaran. Kedua, tidak semua mahasiswa yang sudah berada dalam grup jurusan Bahasa Indonesia memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa mahasiswa di dalam grup jurusan Bahasa Indonesia adalah mahasiswa yang tidak memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua mereka. Mereka hanya saja tidak bisa memilih jurusan bahasa yang mereka kehendaki karena jurusan tersebut tidak mencukupi kuota mahasiswanya sehingga mereka harus masuk ke jurusan Bahasa Indonesia. Ketiga, kurangnya pelatihan untuk dosen tetap Bahasa Indonesia di sini menyebabkan aktivitas pembelajaran, materi, media, dan kurikulum yang digunakan kurang efektif untuk bisa meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia. Seharusnya, ada pelatihan khusus dan rutin untuk dosen-dosen Bahasa Indonesia di sini agar mereka terus mengikuti perkembangan dalam pengajaran dan pembelejaran Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.

  • Penulis Prayitno Tri Laksono, M.Pd., Dosen FKIP UNISMA Malang, Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan State World Languages University
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Belajar Merawat Destinasi Gaya Turki oleh Dr. Hj. Ana Rokhmatussa’diyah, SH., MH Dosen Fakultas Hukum UNISMA Malang

Dengan beberapa kawan, saya mengunjungi Turki. Negara yang satu ini (diantara banyak negara lain) menarik minat Saya karena banyak cerita bersejarah. Sampai ada yang bilang “silahkan kunjungi belahan dunia manapun, tapi jika belum mengunjungi Turki, hidup berwisata terasa hampa”.

Betul dari kawan yang bilang tadi, bahwa Turki harus diagendakan dalam hidup ini jika beminat dalam kancah wisata dunia. Begitu saya mengunjungi turki dan kawan-kawan, kami dibuat terpesona oleh sejumlah destinasinya. Luar biasa negara ini.

Menikmati destinasi di Turki sambil berjalan kaki di sejumlah area, tidak membuat fisik sangat  penat, dan bahkan terasa lebih menghibur dan menyenangkan, sehingga dapat memberi kesan yang dalam, bahwa di Turki, ada banyak ragam kenangan yang tidak terlupakan, ada pesan tersirat yang butuh disampaikan ke penjuru dunia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kita tahu, bahwa Turki terletak persis di antara benua Asia dan Eropa. Turki adalah sebuah negara istimewa yang tersohor akan kekayaan sejarah dan budaya, serta keunikan (keragaman) alamnya.

Sumberdaya pariwisata atau ragam “kekayaan” Turki pun ditahbiskan dunia dengan adanya 11 situs UNESCO World Heritage yang tersebar di seluruh penjuru negara. Pernyataan dunia tentang destinasi Turki yang istimewa tidak mengada-ada, karean destinasinya memang layak dikunjungi oleh Wisatawan mancanegara (Wisman) dan menjadi bagian dari kekayaan dunia yang patut diapresiasi oleh bangsa manapun di muka bumi.

Sebagai salah satu contoh. Para penikmat travelling tentu tidak melewatkan salah satu kunjungannya ke kota Anatolia.  Anatolia dikenal sebagai kota yang terletak di selatan Turki dengan panorama laut Mediterania yang cantik. Panorama laut ini sangat mengesankan dan membuat betah para travellers yang senang berlama-lama menikmati laut.

Kota kecil itu sangat cocok dijadikan tempat peristirahatan karena suasananya yang tenang. Secara garis besar, kota ini terbagi menjadi dua bagian: kota tua dan kota baru. Bangunan di kota tua ini bercorak Ottoman, dinding bercat putih dengan kerangka kayu berwarna coklat. Sedangkan di kota baru bangunannya bergaya modern. Salah satu landmark paling terkenal di kota tua Anatolia adalah Hadrian’s Gate. Gerbang ini dibangun untuk menghormati Kaisar Rowami, Hadrian, berkunjung ke Anatolia pada saat itu.

Peninggalan Kekaisaran Romawi sangat terasa di kota ini, seperti Amphiteater Aspendos yang dibangun menyerupai Colosseum di Roma, Italia. Hal ini mengisyaratkan ciri khas ampiteater bergaya Romawi adalah bangunannya yang tertutup sehingga pandangan penonton fokus ke arena pertunjukan. Sampai sekarang, Amphiteater berusia dua ribu tahun ini masih aktif digunakan sebagai arena pertunjukan Aspendos International Opera and Ballet Festival.

Puluhan destinasi lain sangat banyak dan beragam di Turki. Negara dengan bangunan artistik ini  memang sengaja membentuk dirinya supaya bukan hanya menjadi kebesaran kekayaan lokal dan nasional, tetapi bisa menjadi kekayaan antar bangsa (dunia).

Itu tidak lepas dari kuatnya atau seriusnya pemerintah memperhatikan kekayaan bersejarah, yang perhatiannya ini ditunjukkan dengan keseriusan pula. Terhadap sumberdaya pariwisata global ini, pemerintah menunjukkan pada dunia, bahwa kekayaan sejarah tidak akan sia-sia jika dirawat dengan sebaik-baiknya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kerja keras pemerintah (negara) Turki dalam merawat destinasi yang dimilikinya, betul-betul membuahkan hasil. Setiap pihak yang mengunjungi destinasinya dibuat puas, yang seolah-olah dirinya telah dimanjakan atau diberi kepuasan psikologis oleh negara dan rakyat Turki.

Selain itu, pemeritah dan masyarakat Turki gencar mempublikasikan pada masyarakat dunia tentang segala bentuk keindahan destinasinya dan manajemen perawatannya. Wisatawan internasional yang mengunjungi Turki disambutnya dengan baik dan ditunjukkan tentang sejarah dan perkembangan destinasinya.

Tentu saja Langkah pemerintah Turki tersebut layak dijadikan obyek pembelajaran oleh pemerintahan Indonesia dalam menata atau mengelola destinasi yang dimilikinya. Negara Indonesia ini kaya dengan sumberdaya pariwisata yang tidak akan kalah indahnya dibandingkan dengan negara manapun, termasuk Turki, tapi salah satu kelemahan yang menonjol adalah masih kurang seriusnya merawat segala destinasinya.

Kita (bangsa Indonesia) akan bisa menjadi maju atau lebih baik dibandingkan dengan sekarang dalam “menjual” obyek wisatanya, jika pihak-pihak yang mendapatkan kepercayaan, khususnya pemerintahan lokal gencar atau serius memperhatikan berbagai aspek kelemahan seperti pembangunan infrastruktur yang digunakan untuk mempermudah akses wisatawan yang akan mencari dan mengunjungi destinasi.

Publikasi obyek wisata (destinasi) sudah mulai gencar dilakukan oleh pemerintah karena dukungan perkembangan teknologi informasi, namun sekali lagi, dukungan pembangunan secara riil untuk memperoleh akses ke lokasinya, masih belum tergarap dengan maksimal.

  • Penulis Dr. Hj. Ana Rokhmatussa’diyah, SH., MH adalah Doktor Ilmu Hukum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang (UNISMA), Penulis sejumlah Buku, Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang, Owner PT. Basmallah Utama Tour.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Muhibah Akademik di Negeri Imam Syafi’i Brunei Darussalam oleh Dr. Winarto Eka Wahyudi, M.Pd.I., Alumnus Program Doktor Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UNISMA Malang

Jika boleh mengandaikan Nahdlatul Ulama mendirikan negara, maka kemungkinan besar Brunei Darusasalam adalah bayangan yang paling nyata. Dalam serentang waktu 14 hari, tepatnya dalam kurun 27 Januari -9 Februari 2019 lalu, kami rombongan mahasiswa S3 Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Malang (UNISMA) berkesempatan mengunjungi “negara Nahdlatul Ulama” (daulah nahdliyah). Jika di Indonesia aswaja an-nahdliyah bergerak pada aspek kultural, maka di negara yang berjarak selemparan batu dengan Kalimantan ini, ahlusunnah wal jamaah menjelma menjadi madzhab resmi negara.

Dalam rangka overseas short study sekaligus joint student conference, kami sebanyak 16 mahasiswa program beasiswa 5000 Doktor Kementerian Agama RI angkatan 2016 UNISMA Malang berkesempatan belajar selama empat belas hari di dua Universitas bergengsi di Brunei Darusalam, yaitu di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) dan Kolej Universiti Perguruan Ugama Bandar Seri Begawan (KUPUSB).

pasca menyampaikan presentasi di depan dosen dan mahasiswa UNISSA

Di negara yang dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah ini, madzhab syafi’i mendapat posisi yang prestisius. Sebagaimana pengamatan kami selama berada di sana, tradisi keislaman masyarakat Brunei sama persis dengan yang selama ini dilakukan oleh warga nahdliyin. Bahkan keistimewaan madzhab syafi’i ini, termaktub dalam Akta Majlis Agama Islam dan Mahkamah-Mahkamah Kadi Penggal 77, bab 43 (1) yang menyatakan:

“dalam membuat dan memberi mana-mana fatwa dengan cara yang ditetapkan terdahulu sebelum ini Majlis dan Jawatan Kuasa Undang-Undang biasanya menurut kaul yang muktamat daripada madzhab syafie”

Gemerlap cahaya madzhab syafi’i semakin benderang di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) yang menjadi camp akademik kami selama di sana. Bahkan di kampus ini, mempunyai lembaga kajian khusus yang diberi nama Pusat Penyelidikan Madzhab Syafi’i, lengkap dengan perpustakaan pusat yang juga mempunyai ruangan khusus bertajuk Madzhab Syafi’i Collection (KMS)/ al-majmu’ah al-madzhabu asy-syafi’i. Bahkan yang menarik, untuk mempublikasikan pemikiran imam syafi’i dan ulama-ulama syafi’iyah, UNISSA memiliki jurnal khusus bertaraf antarbangsa (internasional) yang berjudul Jurnal al-Shafi’i, ditulis dalam tiga bahasa: Inggris, Arab dan Melayu.

mini diskusi teori “Umron” bersama Prof. Mahayudin Hj Yahaya

Bisa dibilang, UNISSA merupakan kepanjangan tangan dari negara untuk mengkampanyekan madzhab syafi’i secara akademik kepada warga di sana. Hal ini dikarenakan seluruh kampus berada dalam naungan Sultan. Begitupun dengan Kolej Universiti Perguruan Ugama Bandar Seri Begawan (KUPUSB), yang mempunyai jarak beberapa menit dari UNISSA juga mempunyai amanah akademik untuk mengajarkan madzhab Syafi’i atas amanah Sultan. Kampus Islam yang disebut terakhir ini, secara khusus berorientasi melahirkan tenaga pendidik yang berhaluan aswaja bermadzhab syafi’i dalam rangka mengokohkan kedudukan agama Islam di Negara yang memiliki kredo “Islam Melayu Beraja” ini .

Posisi madzhab syafi’i yang istimewa ini, bahkan telah dilegitimasi menjadi hukum syariah negara yang disebut sebagai Hukum Kanun Brunei (HKB). Di dalamnya banyak mengatur beragam hukum adat dan syara’ yang meliputi: undang-undang keluarga islam, undang-undang muamalat harta, undang-undang tanah maupun administrasi negara dan hukum acara. Bahkan HKB sudah menyentuh hukum jinayah: semisal hudud dan Qisas. Namun khusus untuk bab Jinayah, saat ini sedang dalam proses pengkajian Pusat Dakwah Islamiyah dan Kementerian Ugama.

Sharing knowledge dengan Mahasiswa S2 UNISSA asli Brunei, Jalaludin

Kegiatan akademik lintas negara ini, merupakan tindak lanjut dari hasil MoU antara UNISMA dengan UNISSA dan KUPUSB yang diadakan tahun lalu. Bahkan, kami disana sempat berkunjung dan disambut hangat oleh Duta Besar Indonesia untuk negara Brunei.

Selama melakukan muhibah akademik kurang lebih dua minggu disana, kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjelajahi tempat-tempat ikonik dan bersejarah di Brunei Darussalam, misalnya: Institut Tahfiz Al-Quran Sultan Hassanal Bolkiah, Masjid Jame’ Asr Sultan Hasanal Bolkiah, Masjid Omar Ali Saifuddin (nama diambil dari ayahanda Sultan), Pusat Dakwah Islamiyah Brunei, musuem alat kebesaran diraja Brunei dan lain sebagainya.

  • Penulis Dr. Winarto Eka Wahyudi, M.Pd.I adalah Peserta Program Overseas Study UNISMA Malang ke UNISSA Brunei Darussalam tahun 2019, Lulusan Program Studi Doktoral Pendidikan Agama Islam Multikultural Program Pascasarjana UNISMA Malang (Program beasiswa 5000 Doktor Kementerian Agama RI angkatan 2016). Saat ini sebagai Dosen FAI Universitas Islam Lamongan (UNISLA) dan Ketua Lakpesdam NU Kab Lamongan.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.