Beberapa Tradisi Pemandian Warga Jepang Oleh Noriko Sawa Mahasiswi UNISMA Malang Asal Jepang

Menurut jajak pendapat, 94% orang Jepang menyukai mandi berendam di air panas. Berikut adalah beberapa tradisi pemandian warga Jepang.

Sejak zaman dulu, agama Shintou di Jepang  melakukan ritual Misogi. Misogi yaitu mandi di sungai atau air terjun untuk membersihkan diri sebelum beribadah.

Tempat Pemandian Misogi

Pada abad keenam, kedatangan agama Buddhisme ke Jepang menyebarkan kebiasaan mandi bagi masyarakat umum. Maksud mandi dalam agama Buddhisme adalah menghapus kotoran dari tubuh untuk melayani Buddha serta menghapus tujuh penyakit dan memperoleh tujuh kesejahteraan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Awal mulanya, masyarakat belum terbiasa membenamkan tubuh ke dalam air panas saat mandi. Biasanya, gaya mandi masyarakat Jepang pada waktu itu bernama Furo. Furo merupakan tradisi mandi seperti mengukus tubuh dalam lingkungan beruap kemudian menggosok kotoran yang ada di kulit dan menyiramkan air  ke seluruh tubuh. Furo hampir seperti Sauna. Namun, Furo masih termasuk hiburan yang mewah bagi masyarakat umum.

Furo

Pada akhir abad keenam belas sampai awal abad ketujuh belas, muncul Sentou. Sentou yaitu tempat pemandian air panas untuk umum yang menggunakan bak mandi dan dipanaskan langsung dari bawah dengan kayu bakar. Orang yang ingin mandi dipungut biaya masuk. Biaya masuk saat ini sekitar Rp 65.000,00. Di Sentou, satu bak mandi digunakan untuk mandi berendam bersama-sama oleh beberapa orang sekaligus. Oleh karena itu, Sentou menjadi tempat untuk berkomunikasi di daerah setempat.

Sentou

Setelah Perang Dunia Kedua, perekonomian Jepang meningkat secara drastis. Sehingga dibangun banyak apartamen yang memiliki kamar mandi dalam dengan bak mandi. Hal itu menyebabkan semakin berkurangnya jumlah pemandian Sentou.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Menurut kebanyakan orang Jepang, tujuan pemandian bukan hanya untuk membersihkan tubuh. Tujuan lainnya yaitu untuk bersantai, menghilangkan rasa lelah dalam tubuh dan mental, serta menikmati waktu khusus seperti membaca buku dan menonton video sambil berendam di bak mandi. Menghangatkan tubuh dalam air panas membantu sirkulasi darah menjadi lebih lancar khususnya pada musim dingin. Maka, umumnya orang-orang menyukai mandi pada malam hari sebelum tidur.

Setiap bulan ada tradisi memasukkan buah atau tanaman tertentu ke dalam air panas untuk menikmati aroma dan efeknya bagi kesehatan. Contoh yang terkenal adalah daun Jeringau pada bulan Mei dan jeruk Yuzu pada bulan Desember. Efeknya akan membantu sirkulasi darah dan mencegah masuk angin.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Selain mandi setiap hari di rumah, salah satu hiburan terpopuler di Jepang yaitu pergi ke Onsen, tempat pemandian berendam dengan air panas yang keluar dari bawah tanah. Di Jepang ada banyak sumber air panas karena masih ada banyak gunung berapi yang  aktif. Jenis mineral yang terkandung dalam air menyebabkan perbedaan warna air, bau, dan khasiat.

Lokasi untuk sumber air panas bisa berada dekat atau jauh dari gunung berapi. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, diakui lebih dari 3.000 kota wisata yang berkembang di sekeliling sumber air panas dan 27.400 mata air panas di Jepang pada tahun 2016.

Onsen

Di setiap kota Onsen ada banyak penginapan yang memiliki tempat pemandian air panas. Kebanyakan mereka mempunyai Rotenburo yaitu bak mandi luar di tempat terbuka supaya bisa menikmati pemandangan sekitar. Jika ada kesempatan untuk pergi ke Jepang, silakan mendatangi  salah satu tempat pemandian di Onsen untuk mengenal secara langsung tradisi pemandian di sana.

  • Penulis Noriko Sawa adalah Mahasiswi Program BIPA Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Piramida Sudan sebagai Saksi Peradaban oleh Abdalgader Aboksawi Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara UNISMA Malang

Piramida Sudan dekat ibukota, Khartoum, wilayah arkeologi Al-Bajrawi duduk sebagai saksi sejarah bagi peradaban Sudan kuno, menentang keteguhan legendaris faktor-faktor alam dan pergantian era dan masa. Untuk melestarikan fitur piramida dan kuil-kuilnya dengan prestise dan keanggunan kuno yang sama.

Di sini kerajaan Napata, Meroe, Kush, dan Karma berkembang, dan di sini juga raja-raja besar seperti Bhanaki, Taharaqa, dan Shabtaka, yang pengaruhnya meluas sampai ke Mesir hingga perbatasan Palestina, disembuhkan.

Piramida

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Monumen yang ditemukan di Al-Bahjrawiya termasuk lusinan piramida, kuil, dan museum, di samping makam lusinan raja yang berturut-turut memerintah Kerajaan Meroe, yang memerintah di Sudan selama sekitar 8 abad.

Efek yang terkandung dalam Al-Bajrawi, terutama piramida dan makamnya, melukiskan citra yang sangat cerah dari sebuah peradaban yang bekerja keras untuk mengamankan mata pencaharian penduduk yang maju dalam waktu yang sangat buruk dengan cara apa pun yang merupakan kelanjutan dari peradaban Firaun ke kedalaman Sudan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/


Mantan Direktur Jenderal Otoritas Barang Antik Sudan Hassan Hussein mencatat bahwa “piramida al-Bajrawi dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok selatan yang secara historis merupakan kelompok tertua dan kemudian kelompok utara. Kedua kelompok ini termasuk penguburan raja dan ratu, dan ada kelompok ketiga, piramida barat, di mana para pangeran, puteri dan pejabat seniornya dikubur di tempat itu. Negara dan para bangsawan. Hussein menambahkan bahwa piramida terletak di banyak lokasi di Sudan dan jumlah totalnya adalah 225 piramida, tetapi wilayah Al-Bajrawi menyumbang perhatian dan popularitas tanpa sisa piramida lainnya.

Hassan memberikan deskripsi terperinci tentang piramida terpenting Al-Bajrawy, dengan mengatakan bahwa itu “sebagian besar terdiri dari dua unit; unit pertama adalah atas, dan terdiri dari piramida dan sebuah ruangan yang melekat padanya di sisi timur dan unit bawah yang naik dari atas ke bawah melalui tangga yang mengarah ke dua atau tiga kamar yang digunakan sebagai tempat penguburan dan menghiasi ruangan yang terpasang pada piramida di atas. Sebagian besar dengan gambar dan ukiran yang menggambarkan kehidupan agama, ekonomi, politik dan keamanan dan menunjukkan kekuatan dan kedudukan raja dan ratu yang membangun piramida sebagai kuburan mereka.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Di sekitar piramida Ratu Sheikto, patung Apdemak didirikan, dan itu sebenarnya adalah versi Sudan dari patung “Sphinx” di Mesir. Appadmak digambarkan sebagai dewa yang bertanggung jawab untuk melindungi dan merawat negara, menurut kepercayaan Meroites. Tangan adalah simbol kehidupan, sementara ular besar melingkari tubuh.

Catatan sejarah mengatakan bahwa Raja Ntakamni dan Ratu Amani membangun patung Abadmak pada abad pertama Masehi dan juga membangun sebuah kuil untuk dewa Abadmak dari batu pasir. Kuil ini terdiri dari aula persegi panjang dengan 4 kolom internal dan sebuah gerbang besar di depannya adalah foyer. Sementara dinding dihiasi dengan prasasti Raja Nitkami Dan istrinya dengan sejumlah dewa.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Abdul Qadir: Dua Dari Kanan Mengenakan Pakaian Batik Bermotif Merah

Di façade, Nitkami dan Amani dilindungi oleh Saqr al-Jidyan (lambang nasional Sudan sekarang) dan di bawah kaki mereka sejumlah tawanan adalah tanda kekuatan dan kemenangan atas musuh. Mewujudkannya sambil memukul musuh. Di fasad selatan, potret raja, ratu, dan putra mahkota dinaikkan, mengangkat tangan mereka dalam keadaan beribadah kepada para dewa: Apadmak (dengan kepala singa), Horus (dengan kepala elang), dan Amun (dengan kepala ram).

Di fasad barat Kuil Singa, kita melihat Abadmak dengan 3 kepala dan 4 tangan di tubuh manusia yang memegang tangan kanannya dengan simbol kehidupan seperti yang tampak di fasad utara dan selatan ular besar yang terbungkus dan diakhiri dengan kepala singa bermahkota, dewa Apadmak

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Dalam upaya untuk menghilangkan debu dari monumen Al-Bajrawi dan mempersembahkannya ke dunia, Otoritas Purbakala Sudan telah memulihkan 14 kuil pemakaman, dan piramida dibuka untuk pengunjung serta pembongkaran dan rehabilitasi dua piramida barat.

  • Penulis oleh Abdalgader Aboksawi adalah Mahasiswa Asal Sudan Jurusan Administrasi Negara Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Belajar Kepedulian Sosial dari Yordania Oleh Harun Al Rasyid, BS., MIEB., Ph.D., Ketua Program Studi Perbankan Syariah FEB UNISMA Malang

Yordania yang bernama resmin Hashemite Kingdom of Jordan, merupakan salah satu negara di Kawasan Timur Tengah yang berbatasan langsung dengan beberapa negara yang rawan konflik politik. Yordania berbatasan dengan Suriah di Utara, Irak di Timur, Israel dan Palestina di Barat, dan Arab Saudi di Timur dan Selatannya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya pada 25 Mei 1946, telah menjadi negara tujuan pengungsi akibat konflik politik dan keamanan yang ada di Kawasan, khusunya para pengungsi dari Palestina. Saat ini terdapat lebih dari 2 juta pengungsi dari Palestina yang tinggal di Yordania sejak perang Arab-Isral tahun 1967. Angka tersebut belum termasuk 2 juta orang Palestina lainnya yang telah mengungsi di Yordania sejak Perang Arab-Israel tahun 1948, yang kemudian oleh pemerintah diberi status kewarganegaraan Yordania.

Pada tahun-tahun berikutnya, Yordania terus menjadi negara tujuan pengungsi seperti pengungsi dari Irak akibat Perang Teluk 1990 dan Invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003. Hingga sekarang masih ada sekitar 1 juta warga Irak yang menetap di Yordania. Saat Arab Spring Meletus di Timur Tengah dan meluas hingga krisis keamanan di Suriah, sebanyak 1,4 juta warga Suriah telah mengungsi ke Yordania hingga sekarang.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Latar belakang seperti ini yang kemudian menjadikan masyarakat Yordania memiliki rasa peduli kepada orang asing yang datang. Dengan keterbatasan sumber daya alam yang ada, Raja Hussein (wafat tahun 1999) mendorong masyarakatnya untuk melek huruf dan mengenalkan syiar الإنسان أغلى ما نملك (Manusia adalah sumber daya yang paling berharga). Dari sini, masyarakat Yordania sangat perhatian kepada para thullabul ilomi (mahasiswa), khususnya yang belajar tentang ilmu-ilmu keislaman.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan oleh para mahasiswa asing di Yordania, karena pada waktu inilah para pengusaha di Yordania membagi-bagikan zakat perniagaannya. Sesuai dengan undang-undang yang ada, para pengusaha dibolehkan secara langsung membagi zakatnya kepada para mustahik dengan mengisi form yang telah diberikan oleh Kementerian Wakaf dan Situs-situs Islam. Form ini nantinya akan digunakan sebagai pengurang beban pajak yang harus dibayarkan. Dana dari zakat tersebut kemudian digunakan oleh para mahasiswa untuk menyambung hidup, bahkan jika mendapat lebih, dana tersebut bisa digunakan untuk membayar uang perkuliahan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Selain dari para pengusaha, Kementerian Wakaf juga memiliki kebijakan sendiri dengan menjadikan mahasiswa asing jurusan ilmu keislaman menjadi salah satu mustahik yang berhak mendapat zakat ataupun bantuan sosial lainnya. Bantuan yang diberikan kepada mahasiswa tidak hanya pada bulan Ramadhan, melainkan beberapa orang yang memenuhi persyaratan bisa mendapat bantuan uang saku bulanan ataupun uang kuliah.

Disamping bantuan tunai, pada bulan Ramadhan, kpedulian kepada sesama juga ditunjukkan oleh masyarakat Yordania yang memiliki kebiasaan mengundang mahasiswa asing berbuka atau makan sahur, yang dilakukan secara individu ataupun lembaga pendidikan dan pengurus masjid. Bahkan beberapa masjid dalam 10 malam terakhir menyediakan penginapan, konsumsi berbuka dan sahur serta uang transportasi bagi mahasiswa asing yang ingin mengikuti program i’tikaf.

Dengan segala keterbatasan sumber daya alamnya, hal itu tidak mengurangi peran Yordania dalam mengembangkan kepedulian kepada sesama. Yordania juga menjadi salah satu pelopor wakaf produktif, dimana salah satu mall bernama Istiklal Mall merupakan aset wakaf yang dikelola oleh pemerintah dan hasilnya disalurkan kepada para mustahik, tidak hanya warga Yordania, tetapi juga kepada warga asing yang membutuhkan.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Dari sini kita belajar, bahwa bersedekah atau berwakaf, tidak harus menunggu kita mampu/kaya, melainkan bersedekah harus tetap dilakukan apapun kondisi kita dan keadaan di sekitar. Itulah perwujudan dari Islam Rahmatan Lil Alamin.

  • Penulis oleh Harun Al Rasyid, B.S., MIEB., Ph.D adalah Ketua Program Studi Perbankan Syariah serta Ketua Tim Riset Halal Industri Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Negara Gajah Putih dan the “KITCHEN OF THE WORLD” Oleh Dr. Ir. Nurhidayati, MP., Dekan Fakultas Pertanian UNISMA Malang

Sungguh suatu yang tidak disangka  ketika saya menerima surat dari The Royal Thai Embassy bahwa saya sebagai nominasi pemenang  The Fellowsihp Awards dari TICA dan KOICA untuk mengikuti International Training of Sustainable Agriculture based on Sufficiency Economy Philosophy selama tiga minggu. 

Terdapat tujuh negara ASEAN yang mengikuti program ini. Kami berdiskusi tentang penerapan Sustainable Agriculture di negara kita masing-masing. Kami tinggal di  Rajamangala Chom Kluen Hotel, Hua-Hin, Petchaburi. selama training. Pelaksanaan Training dilakukan di kelas dan kunjungan lapangan ke petani yang menerapkan Sustainable Agriculture.

Foto Bersama Dari Perwakilan Tujuh Negara ASEAN

Pengalaman yang sangat menarik dan menyenangkan selama mengikuti training ini ketika berkunjung ke lahan-lahan pertanian dan hutan mangrove milik pemerintah (The projects of the king) dan lahan-lahan milik petani-petani di Provinsi Phetchabury, Thailand.  Banyak pelajaran yang saya peroleh ketika berkunjung ke lahan pertanian dan berdiskusi dengan petani-petani di Provinsi Phetchabury, Thailand.  Ada pertanyaan yang mengelitik hati saya mengapa Negara Thailand disebut sebagai Kitchen of the word, padahal lahan pertaniannya tidaklah terlalu subur dibandingkan dengan Indonesia yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi, tanahnya subur dan kualitasnya tinggi tetapi produktivitas tanamannya  masih lebih rendah terutama pada komoditi tanaman hortikultura. Lahan-lahan yang terdegradasi karena erosi dan permukaannya terlihat penuh bebatuan berwarna putih menyerupai batu kapur, sejak tahun 1998  telah dilakukan restorasi lahan, sekarang telah berubah menjadi kawasan hijau yang subur, walaupun di beberapa tempat masih dijumpai bebatuan putih. Apa yang dilakukan oleh masyarakat Thailand? Mereka sangat patuh pada titah sang Raja untuk tetap bertahan hidup di tengah situasi yang sangat tidak menyenangkan saat krisis ekonomi dan krisis pangan yang melanda negara Thailand tahun 1998. 

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Raja Thailand memerintahkan rakyatnya untuk melakukan restorasi dan reboisasi dengan menanam rumput.  Masyarakat Thailand menyebutnya rumput ajaib yang mampu menghancurkan bebatuan.  Ternyata nama ilmiah rumput tersebut adalah Vetiveria zizanioides atau dikenal dengan rumput vetiver.  Rumput tersebut memiliki perakaran luas dan dalam serta memiliki biomassa yang besar sehingga bisa menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar ketika musim penghujan dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang membantu menghancurkan bebatuan tersebut.  Setelah saya amati rumput ini banyak ditemukan di Indonesia dan benar apa yang saya duga setelah saya berdiskusi dengan pengelola lahan ini ternyata rumput ini awal mulanya mereka impor dari Indonesia, kemudian dibudidayakan secara besar-besaran dan ditanam di kawasan yang terdegradasi. Setelah tiga tahun penanaman rumput Vetiver ini bebatuan hancur dan dapat ditanami kembali. Kita sebagai pemerhati bidang pertanian mungkin tidak pernah terfikirkan bahwa rumput tersebut mampu memulihkan tanah-tanah terdegradasi.

Rumput vetiver (Vetiveria zizanioides) yang mampu menghancurkan bebatuan

Pengamalan yang sangat berkesan lagi  ketika kami berkunjung ke petani sukses yang menerapkan sistem pertanian organik di provinsi ini dengan menanam tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan antara lain sayuran daun, buah pisang, anggur, pepaya, belimbing, jambu bangkok dan kelapa.  Saya merasakan buah-buahan yang ditanam di lahan tersebut yang sangat berbeda dari buah yang sama di Indonesia,  rasanya manis sekali dan renyah serta buahnya besar-besar. Apa kunci keberhasilan mereka? Ternyata mereka menerapkan sistem pertanian organik yang memanfaatkan seresah dedaunan dan kotoran ternak yang mereka pelihara untuk dijadikan pupuk kompos yang diaplikasikan ke lahan perkebunan buah tersebut secara rutin sehingga tanah tetap subur, tanpa sedikitpun menggunakan pupuk kimia maupun pestisida kimia.  Aplikasi pupuk kompos dapat meningkatkan  aktivitas mikroorganisme tanah untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kunjungan ke lahan terdegradasi yang telah berubah menjadi lahan hijau

Bagi saya ini adalah pengalaman yang sangat berkesan (very impressive experince) bahwa bila kita sebagai pemerhati dan pengusaha pertanian memiliki komitmen tinggi untuk menerapkan sistem pertanian organik yang memanfaatkan potensi lokal, maka sistem pertanian kita akan sustainable dan dapat menghasilkan produk pangan yang sehat dan berkualitas tinggi sehingga bisa kita ekspor ke negara lain sebagaimana dilakukan oleh petani-petani di negara Thailand. Mereka benar-benar telah lulus dari masa-masa sulit krisis ekonomi dan krisis pangan dan energi  dan menjadi The Kitchen of the World karena kesabaran dan kepatuhannya kepada Raja untuk tetap kreatif dan inovatif memanfaatkan sumberdaya lokal dan  menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan dengan Low Technology External Input.  Dengan ketekunan dan kecintaan terhadap profesi kita di bidang pertanian, Insyaallah masa-masa sulit yang akan kita hadapi pasca Covid-19 di bidang ketahanan pangan akan kita lalui dengan meningkatkan kreativitas dan aksi nyata untuk tanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam di lingkungan kita sehari-hari.  Work in Agriculture will feel fun and exciting if you make full effort to put out all your creativity.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Foto Bersama Peserta International Training of Sustainable Agriculture based on Sufficiency Economy Philosophy
  • Penulis Dr. Ir. Nurhidayati, MP. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Budaya Timor-Leste Oleh Clemensia Da Costa Baptista Mahasiswi Fakultas Hukum UNISMA Malang

Timor Leste merupakan suatu Negara yang memiliki berbagai macam suku dan etnis dan juga berbagai macam seni dan budaya yang khas dan unik. Salah satunya adalah Tais. Tais merupakan pakaian tradisional yang sakral yang hanya digunakan oleh orang-orang penting seperti liurai (raja) dan dalam upacara-upacara penting. Tais Timor -Leste pada dasarnya merupakan kain yang diproses dengan alat tenun tradisional dan bukan mesin, alat tersebut dalam bahasa tetun disebut soru/songket. Dengan proses tenun tersebut akhirnya menjadi tais dengan berbagai motif yang menunjukan budaya atau identitas dari masing-masing daerah di Timor Leste. Tais tenun dapat dibagi menjadi dua yaitu tais feto (perempuan) dan tais mane (laki-laki). Dalam perkembangan saat ini tais bukan saja sebagai pakaian tradisional masyarakat Timor -Leste, tapi juga sebagai salah satu warisan budaya yang patut dipertahankan dan dikembangkan guna mempromosikan warisan budaya oleh masyarakat Timor Leste.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Selain Tais, Timor Leste juga memiliki aneka ragam tari-tarian antara lain: tari bidu dan tari likurai. Tarian tersebut diikuti oleh perempuan yang memakai kain tais dan hiasan lainnya pada tangan kiri. Sambil membawa babadok (semacam gendang kecil) yang disisipkan pada ketiak sambil menari dan yang lainnya memukul kenong (gong kecil) berjalan bersama-sama sambil menari. Laki-laki yang ikut menari memakai pakaian adat lengkap dengan ikat kepala yang diberi hiasan bulu-bulu ayam dan membawa surik (semacam pedang).

Lain halnya dengan tarian tebe (seperti tebe liurai, tebe bunak, dahur dan sebagainya), diikuti oleh laki-laki dan perempuan, tua muda bisa ikut menari dengan membentuk satu lingkaran, saling bergandengan tangan dan berputar dengan menghentak-hentakkan kaki sambil menyanyi bersahut-sahutan.

Nyanyian dan lagu daerah Timor -Leste pada umumnya – menggunakan bahasa Tetun dengan diiringi satu musik orkes koremetan, yaitu musik tradisional yang terdiri dari gitar, biola, culeie, bandolin dan tambur. Musik ini dimainkan dalam upacara pelepasan kain hitam yang dipakai oleh sanak saudara orang yang meninggal, sebagai tanda ikut berduka cita sesudah satu tahun dipakai.

Salah Satu Tarian dari Timor Leste

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Menurut Artur Basilio di Timor-Leste ada kelompok bahasa yang dipergunakan aleh penduduk Timar Timur sebagai alat komunikasi dengan kelompok-kelompok tetangganya antara lain (1) Bahasa Tetun Terik (2) Bahasa Makasai (3) Bahasa Galole (4) Bahasa Bunak (5) Bahasa Kemak (6) Bahasa Dagada (7) Bahasa Mambai (8) Bahasa date (9) Bahasa Tokodede 10) Bahasa Baikenu.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Di daerah Timor- Leste terdapat syair-syair atau seni bertutur dalam bahasa daerah yang diucapkan pada upacara-upacara perkawinan, kelahiran anak dan kematian. Sedangkan prosa rakyat juga terdapat pada masyarakat ini yaitu cerita rakyat yang berhubungan dengan mitos dan legenda daerah.

  • Penulis Clemensia Da Costa Baptista adalah Mahasiswi Fakultas Hukum UNISMA Malang
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pengalaman di Eropa dan Asia Oleh Prof. Dr. Hj. Nurhajati, S.E., M.S., Dosen FEB UNISMA Malang

Kota Barcelona, Spanyol, tidak hanya terkenal karena club sepakbolanya yang mendunia tetapi juga sangat maju dalam bidang perdagangan dan bisnis. Sangat mungkin karena negara-negara Eropa Barat termasuk Spanyol telah berkembang Merkantilisme sejak abad ke-16.  Salah satu tujuan utamanya adalah meperoleh surplus perdagangan melalui perluasan pasar dunia.  Salah satu contohnya adalah berdirinya VOC di Indonesia  tahun 1602.

Spanyol secara rutin mengadakan pameran dagang internasional.   Saya berkesempatan menghadiri pameran batik “EXPOHOGAR Barcelona” tahun 2016 atas undangan ITPC (International Trade Promotion Center) melalui Perwakilan Perdagangan Luar Negeri Republik Indonesia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Setelah pameran yang berlangsung selama 5 hari, saya bersama cucu-cucu dan menantu mengunjungi beberapa kota Italia (Milan, Roma, dan Venice) dan Belanda selama 2 minggu memanfaatkan visa sengen.

Kota Barcelona dan kota-kota di Eropa lainnya walaupun bangunannya sudah tua tetapi gaya arsitekturnya unik dan menarik.  Bukan hanya itu, budaya bersih, disiplin waktu dan  antri di tempat-tempat umum membuat membuat setiap pengunjung asing merasa nyaman.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Budaya bersih, disiplin waktu dan berlalu lintas termasuk antri di tempat umum sangat penting untuk menarik wisatawan macanegara ke Indonesia.

Pengalaman yang berbeda saya alami di Asia, tepatnya Korea Selatan.  Pada bulan Juli 2018 saya mengikuti Pameran Handmade Korea Summer atas undangan Kementerian Koperasi dan UKM.  Masyarakat Korea Selatan termasuk pekerja keras, ulet, dan sengat mencintai produk dalam negeri buatan Korea.  Baju tradisional Hanbok sangat digemari masyarakatnya, bahkan sudah menjadi salah satu produk wisata internasional.  Tidak heran walaupun usia kemerdekaannya sama persis dengan Indonesia, saat ini Korea Selatan sudah termasuk negara ekonomi maju.  Beberapa produk teknologinya seperti Samsung sudah menjadi market leader dunia.  Kesadaran masyarakat Indonesia mencintai produk dalam negeri dan menggunakan batik atau pakaian tradisional masih perlu ditingkatkan.

Korea Selatan
  • Penulis Prof. Dr. Hj. Nurhajati, S.E., M.S. adalah Dosen FEB Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Nasi, Jejak Gus Dur, dan Frakfurt yang Multikultural Oleh Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA Malang

Berburu nasi. Itulah keinginan sederhana tiga sahabat (bu Dyah Werdiningsih, bu Sri Wahyuni, dan pak Hasan Busri dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang), yang saya amini saat kami baru menginjakkan kaki di Frankfurt Am Main, paruh ketiga dan keempat Mei, 2015. Kami berempat mendapatkan undangan dari Prof. Arndt Graf, ahli Asia Tenggara, khususnya budaya Indonesia dan Melayu, guru besar di Goethe Universitat, Frankfurt, Jerman, untuk membentangkan kertas kerja terkait pemartabatan bahasa Indonesia (dan Melayu). Guru besar yang banyak menulis penelitian tentang Indonesia itu rupanya pengagum berat Indonesia dan Gus Dur. Terbukti, di meja kerjanya di Goethe Universitat, kampus Bockenheim, Senckenbergerlage 31-33, Prof Graf, demikian ia biasa disapa, hanya menyimpan sedikit foto, termasuk foto saat Kunjungan Gus Dur saat menjadi Presiden Indonesia, pada Februari 2000. Ia juga menyimpan kain batik dan wayang kulit dari Indonesia, yang ditempel di dinding meja kerjanya. “Ingatan saya tentang Indonesia ada tiga, batik, wayang, dan Gus Dur.” Katanya saat saya bertanya, apa pentingnya benda-benda dari Indonesia itu di meja kerjanya.

Prof Arndt Graf (kiri) dan Gus Dur (kanan) foto: Ari Ambarwati

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Frankfurt Am Main, adalah kota terbesar di negara bagian Hessen, Jerman. Kota pusat perdagangan ekonomi Eropa ini juga merupakan kota terbesar kelima di Jerman. Sebelum berangkat, saya sudah mencari tahu informasi tentang kota ini di internet. Kota multikultural, itulah label yang tersemat untuk Frankfurt. Tagline Frankfurt sebagai kota multikultural, senapas dengan spririt Universitas Islam Malang, yang juga menasbihkan diri sebagai kampus multikultural. Multikultural berarti multietnis, multibudaya, multiagama dan kepercayaan, serta tentu saja multikuliner. Artinya kuliner Asia yang basisnya nasi seharusnya mudah ditemukan.

Hari pertama kami langsung istirahat karena kami tiba di Frankfurt Jumat, pukul 9 malam, atauhari Sabtu pukul 03.00 waktu Indonesia. Hari kedua kami memutari (setelah sebelumnya sarapan biskuit dan kudapan ringan yang kami bawa dari Indonesia) Hauptbahnhof (Hbf; stasiun utama di kota Frankfurt) mendapati kentang goreng dan fish chips (ikan goreng) yang dimakan dengan saus tartar, yang menurut pak Hasan, bu Dyah dan bu Yuni rasanya ajaib. Saya mencoba berdamai dengan dua porsi makanan yang kami lahap ramai-ramai berempat. Menyesal karena kami tidak membawa saus tomat, saus sambal ataupun kecap yang bisa jadi teman makan kentang dan fish chips tadi. Hari kedua kami lewatkan tanpa nasi.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Tiba di hotel saya diminta untuk meminta air panas untuk membuat mie instan, yang juga kami bawa dari Indonesia. Kami berangan-angan makan mie instan hangat dengan topping abon yang juga kami bawa dari tanah air. Nah, saya bergegas turun ke resepsionis. Begitu saya minta air panas, ia mengerutkan kening sembari mengatakan pada saya bahwa saya bisa mendaparkan air panas langsung dari kran, begitu juga air minum, “You can drink the water directly from the tap,” Baiklah. Saya baru sadar bahwa saya tengah benar-benar berada di Jerman. Negara yang terkemuka di bidang industri pengolahan air minumnya. Di Indonesia, pihak hotel selalu menyediakan air minum kemasan sebagai bagian dari pelayanan. Dalam hati saya menyesal mengapa membuang uang 3 Euro untuk dua botol air kemasan yang rasanya bercampur soda sebagai persediaan minum kami di hotel. Saya bisa paham mengapa petugas resepsionis mengernyitkan dahi dan menatap saya heran ketika saya meminta air panas dan air dingin. Hahaaa…saya kembali ke kamar dengan senyum kecut karena bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman saat saya katakan kita akan minum air kran….

Penulis di depan pintu masuk Goethe Universitat Kampus Bockenheim, Frankfurt, Jerman, Mei 2015. Foto: Ari Ambarwati

Jadilah kami menikmati mie instan air panas dari kran sebagai ‘kuah’nya. Bismillah, kami akan sehat dengan air higienis itu. Sejak saat itulah saya ditahbiskan sebagai tukang cethik geni (orang yang memasak air) oleh teman-teman, heheee..sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Saya memahami kendala psikologis teman-teman yang segan meminum air langsung dari kran, maka saya juga dengan senang hati mengisikan botol-botol mereka dengan air kran daripada harus membuang Euro demi sebotol air minum mineral. Beres urusan air putih, kami masih punya PR untuk menemukan resto yang menyediakan nasi putih sesegera mungkin. Perut Indonesia memang tak bisa jauh dari nasi.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Hari ketiga kami lewatkan( masih) tanpa nasi karena kami memutuskan untuk ke Paris dengan kereta cepat ICE. Seharian di Paris kami bertahan dengan biskuit, jelly, coklat, permen, dan juga roti yang kami beli di stasiun Hbf, dan tentu berbotol-botol air kran. Saat di menara Eiffel kami mengganjal perut dengan kue wafel dan crepes dengan isi vla dan coklat yang cukup membuat perut kami anteng hingga kembali ke Frankfurt hampir tengah malam.

Hari keempat kami bertekad harus mendapatkan nasi. Setelah berselancar di internet dan bertanya pada teman-teman yang sudah pernah ke Frankfurt dan berbekal peta kota Frankfurt kami menyusuri jalan sekitar Hbf. Akhirnya langkah kami terhenti di Elbestrabe 15. Thai Fun Halal Resto, persis seperti yang disarankan kawan saya. Kami  masuk dan memesan dua porsi nasi bebek yang disajikan dengan tumis sayur. Sebelumnya kawan saya mengingatkan bahwa porsi makanan di resto ini besar untuk ukuran perut Indonesia, dan biasanya cukup untuk dua orang. Alhasil, kami berempat mengeroyok dua porsi nasi bebek dengan suka cita. Sebelum pulang, kami memesan lagi dua porsi nasi bebek untuk makan malam. Dan, penjual bebek halal asal Thai tersebut menambahi porsi nasi pesanan kami, dengan senyum mengembang. Alhamdulillah… Frankfurt mengajarkan teladan pada saya, bahwa tagline multikultural, benar-benar menjadi napas perjuangan kota yang menjadi tempat filsuf Jerman, John Wolfgang menebar benih penghargaan pada keberagaman. Layaknya juga Universitas Islam Malang, yang tengah menapaki jalan multikulturalismenya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

  • Penulis Dr. Ari Ambarwati, S.S., M.Pd adalah Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Merdeka Belajar: Fakultas Ilmu Administrasi UNISMA Malang Gandeng UNISSA Brunei Darussalam

Oleh: Dr. Hj. Rini Rahayu Kurniati, M.Si dan Dr. Afifuddin, S.Ag., M.Si*

Sinergi FIA UNISMA dengan UNISSA Brunei Darussalam terwujud dengan Students Exchange yang didalamnya juga terdapat internship Program. Kegiatan tersebut yang dilakukan pada tahun lalu merupakan kerjasama yang mewujudkan MoA antara FIA UNISMA dengan UNISSA yaitu: Strategic Planning and Development Office, Faculty of Islamic Development, Halalan Thayyiban Research Centre dan Faculty of Islamic Finance. Kegiatan program ini berupa: (1) Workshop at Darussalam Enterprise. (2) Research Presentation, (3)  Research Publication. (4) Students Product Exhibition.

Menghadapi tantangan global yang merupakan tantangan nyata dalam kehidupan ini, sangat penting bagi banyak pihak untuk mengatasi persaingan global. Terkait globalisasi tersebut maka perlu kiranya untuk melanjutkan kerja sama yang telah dirintis oleh Rektor Universitas Islam Malang (UNISMA) Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si yang mewujudkan MoU dengan Universitas Sultan Syarif Ali (UNISSA) Brunei Darusalam. Di era digital, revolusi industri 4.0, mahasiswa memerlukan berbagai informasi yang merupakan salah satu kelebihan dalam menghadapi persaingan global. Salah satu cara untuk menghadapi hal tersebut Dekan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UNISMA Dr. Rini Rahayu Kurniati, M.Si bersama tim melakukan Students Exchange yaitu kunjungan akademik ke Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam.

Pertemuan di Halal Center

Tim ini terdiri dari 8 mahasiswa yaitu 3 mahasiswa dari jurusan Publik: Difan, Anja dan Amin Fajar serta 5 mahasiswa dari jurusan Bisnis: Fikri, Diva, Naini, Lia, Taurisa serta didampingi oleh pimpinan fakultas yaitu: Dekan FIA, Dr. Rini Rahayu Kurniati, M.Si, WD 2: Retno Wulan Sekarsari, SAP, MAP, M. Pol. Sc, WD 3: Dr. Afifuddin, S.Ag, M.Si.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Students Exchange ke UNISSA Brunei Darussalam ini bertujuan untuk meningkatkan keragaman informasi, mengembangkan pola pikir, keterampilan argumentasi, dan kreativitas mahasiswa. Hal itu juga akan memberikan manfaat secara akademis, baik dalam hal penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, harapan dari kunjungan ini adalah akan dapat menjadi aset bagi mahasiswa, serta akses kerja sama yang luas ini akan mampu bersinergi membentuk suatu tujuan dalam menghadapi tantangan global di masa sekarang dan masa mendatang.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Bersamam Ibu-ibu Dosen UNISSA

Agenda internship program dilakukan dalam bentuk workshop di Darussalam Enterprise (DARE). Disitu mahasiswa mendapat arahan dan gambaran serta diskusi dari para pelaku starup yang sangat semangat dalam menjalankan usahanya. Mendapat respon positif atas program Research Presentation, Research Publication serta Students Product Exhibition, ketika berkunjung di Halal Center, Faculty of Islamic Development serta Faculty of Islamic Finance.


               Di DARE (Darusalam Enterprise)                              

Adapaun mengenai budaya berpakaian sudah tampak kebiasaan warga Brunei, jika ada peretemuan resmi, para bapak pasti menggunakan lilitan sarung. Seperti yang tertera pada foto-foto kegiatan. Perilakunya ramah dan santun serta menunjukkan sangat Islami.  Bahasa disana sangat kental dengan bahasa Melayu. Disana terdapat masjid yang menjadi kebanggaan. Masjid tersebut diberi nama Sultan Omar Ali Saifuddin. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin adalah salah satu masjid paling mengagumkan di Asia Pasifik. Tak heran jika masjid itu menjadi landmark dan daya tarik wisata utama yang ditawarkan Brunei. Masjid yang mendominasi pemandangan Kota Bandar Seri Begawan itu melambangkan kemegahan dan kejayaan Islam yang menjadi agama mayoritas dan agama resmi negara itu. Kami tim dari FIA merasa senang dan teduh berada disana melihat lingkungan yang tenang dan Islami.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin (Wikipedia)

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Kampung Ayer yaitu kawasan rumah terapung menjadi obyek wisata Brunei Darussalam. Dalam kampung tersebut terbagi tipe golongan perumahan.

Kawasan Rumah Apung
kampung Air

Selesai menjalankan program Students Exchange para mahasiswa merasa senang dan gembira. Perjalanan pulang juga sangat menyenangkan. Pihak UNISSA mengantar tim kami sampai ke bandara Seri Begawan. Manfaat yang didapatkan dari kunjungan kegiatan Students Exchange  ini bahwa mahasiswa merasakan dapat menghadapi tantangan global dengan belajar di luar negeri, dan wawasan yang lebih luas serta mereka merasakan menjadi lebih matang. Sebelum perjalanan pulang kami juga berkunjung ke perusahaan minyak The Billionth Barrel sebagai salah satu program kami.

The Billionth Barrel Monument

Alhamdulillah FIA telah melaksanakan senergi dengan UNISSA Brunei Darussalam dalam bentuk Students Exchange yang mewujudkan MoA antara Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang dengan Strategic Planning and Development Office UNISSA . Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak UNISSA: Bapak Rektor, Bapak Dekan masing-masing fakultas yang kami kunjungi beserta seluruh jajarannya serta Dr. Adam sebagai Director of Strategic Planning and Development Office UNISSA yang telah mengkoordinasikan program ini mulai awal hingga kami pulang dengan sambutan dan pelayanan yang sangat luar biasa dan sukses. Semoga program ini membawa manfaat dan berkah bagi kita semua. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

MoA FIA Unisma Malang dengan Director Strategic Planning and Development Office UNISSA, Dr. Adam bin Haji Jait

* Penulis Dr. Hj. Rini Rahayu Kurniati, M.Si adalah Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang (UNISMA Malang) dan Dr. Afifuddin, S.Ag, M.Si., adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FIA UNISMA Malang.

Menebar Pendidikan Islam Multikultural di Negeri Petro Dollar Oleh M. Sulistiono Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam FAI UNISMA Malang

Tahun lalu acara Seminar Kefahaman Aqidah dan Pemikiran Semasa 2019 (SEKAPES) ke 2 digelar tepatnya dilaksanakan pada tanggal 14-15 Agustus 2019 di Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan (KUPU SB) Brunei Darussalam. Meskipun telah berlalu acara tersebut memberikan pelajaran dan pengalaman yang luar biasa utamanya dalam mempelajari penerapan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jam’ah (ASWAJA) pada level internasional di Brunei Darussalam.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Brunei Darusslam adalah negara yang memiliki julukan negara petro dollar karena termasuk negara yang memiliki pendapatan tertinggi perkapita di ASEAN. 1 Dollar Brunei jika dirupiahkan sekitar 10 ribu rupiah, sehingga negara Brunei termasuk salah satu negara tujuan untuk bekerja warga negara Indonesia, seperti menjadi pekerja bangunan, pembantu rumah tangga, dosen dll. Jumlah penduduknya yang sedikit dan pendapatan yang tinggi menciptakan pola pendidikan yang berbeda dengan Indonesia. Fokus pendidikan di Brunei sudah pada level peningkatan kualitas, tidak lagi membahas pemeratan pendidikan bahkan biaya pendidikan. Adapun pola kehidupan sosial di Brunei juga memiliki keunikan. Masyarakat Brunei lebih suka diam dirumah, oleh karenanya desian interior rumah lebih diperhatikan dari pada pagar rumah atau bagian luar rumah. Selain itu mengenal tetangga menjadi satu hal yang awam karena biasanya mereka menjalin pertemanan bukan melalui tetangga melainkan dari profesi, sekolah, hobi dan lain-lain.

Majlis Perasmian Seminar (Acara pembukaan Seminar)

Acara seminar intrnasional tersebut dihadiri menteri agama Brunei Darussalam yaitu Pehin Udana Khatib Dato Paduka Seri Setia Ustaz Haji Awang Badaruddin bin Pengarah Dato Paduka Haji Awang Othman. Acara tersebut juga dihadiri Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, Ph.D Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Sebagai tamu kehormatan asal Indonesia. Nuansa Islami sangat kental sekali dalam acara seminar tersebut. Pembacaan Asma’ul Khusna secara bersama-sama menjadi salah satu protokoler dalam memulai acara yang diikuti pembacaan ayat suci Alqur’an. Hal ini menjadi unik karena biasanya Asma’ul Khusna di Indonesia dibaca siswa dan siswi madrasah.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Foto bersama Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, Ph.D

Di sela-sela acara tersebut para peserta seminar dari berbagai negara dipersilahkan untuk mencicipi makanan hasil karya mahasiswa dengan dipandu mahasiswa KUPU. Rata-rata makanan yang disajikan hampir sama dengan Indonesia hanya beda bahasa. Seperti kue bahulu di Indonesia kue bolu, kue sapit di Indonesia kue gapit, kue cincin dan lain-lain.

Foto bersama mahasiswa KUPU SB Brunei Darussalam

Seminar tersebut bertujuan memperkokoh aqidah ASWAJA. Pada prinsipnya tidak ada celah bagi aqidah non Aswaja berkembang di negara tersebut. Intervensi negara terhadap aqidah Aswaja menjadi pondasi yang kuat. Sehingga Aswaja kian kokoh tak mudah runtuh. Aswaja yang dianut di negara Brunei memiliki kesamaan dengan Aswaja yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Aswaja yang dimaksud yaitu dalam bidang teologi mengikuti Imam Al-Asy’ari dalam fiqih mengikuti imam empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) namun di Brunei lebih cenderung imam Syafi’i. Dalam bidang tasawuf mengikuti imam Al-Ghazali.

Foto bersama Dr H Adanan Bin H Basar Rektor KUPU SB Brunei Darussalam

Berkesempatan menjadi pensyarah/presenter Ketua Program Studi PAI FAI Unisma Malang menyajikan materi yang bertajuk Implementasi Prinsip-Prinsip Aswaja dalam Perspektif Prof. Dr. KH Muhammad Tolchah Hasan di Sekolah. Pembahasan memfokuskan pada penerapan prinsip Aswaja yang menurut pandangan Kiyai Tolchah dalam kajian keaswajaan atau keislaman inklusif, terdapat akar-akar nilai karakter inklusif yang mendorong terwujudnya budaya multikulturalis dalam suatu masyarakat atau bangsa, diantaranya At-ta’aruf, At-tawassuth, At-tasamuh, At-ta’awun, dan At-tawazun. Penerapan prinsip-prinsip Aswaja di sekolah ini adalah purwarupa sebagai Islam yang anti teror dan radikal. Lebih tegas lagi yaitu mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamiin. Pemikiran ini menjadi hal baru bagi warga Brunei karena istilah multikultural menjadi satu bahasan yang asing karena mereka sangat berhati-hati dalam menerima pemikiran baru. Mereka khawatir pemikiran tersebut keluar darin nilai-nilai ASWAJA. Walaupun pada kenyataannya di Brunei bisa dikatakan negara multikultural, karena ada banyak warga cina, india, melayu dan lain-lain yang tinggal di sana. Di akhir presentasi Haji Adanan bin Haji Basar rektor KUPU SB memberikan apresiasi terhadap pemikiran multikultural tersebut dan memberikan kesempatan untuk melakukan komunikasi lebih lanjut untuk membahas kerjasama ke depan antara KUPU SB Brunei Darussalam dan Unisma Malang Indonesia.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/


Foto Bersama Rektor KUPU SB Brunei dan Presenter asal Indonesia
  • Penulis M. Sulistiono, M.Pd adalah Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Malang (UNISMA Malang)
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Muslim di Amerika: Antara Beragama, Bernegara dan Menjadi Muda Oleh Firman Parlindungan, S.Pd., M.Pd., Ph.D Alumni UNISMA Malang

Masa kuliah adalah periode penting bagi setiap mahasiswa dalam mencari jati dirinya. Menemukan identitas sebagai bagian dari konstruksi sosial yang lebih luas tentu tidak mudah. Banyak sekali yang terjerumus dalam pemikiran “false-fallacy” yang akhirnya menyulitkan para mahasiswa memahami nilai kehidupan dalam berinteraksi dengan lingkungannya, terutama dalam konteks bertuhan. Di Indonesia, mungkin konsep hubungan agama dan negara tidak terlalu menarik untuk dibahas. Bangsa kita sudah sepakat bahwa negara dan agama adalah setali tiga uang yang harus saling mengisi. Menjalani kehidupan beragama berarti ikut serta membangun dan membela negara, dan menjalankan negara juga harus berlandaskan pada nilai-nilai agama. Indonesia menjamin bersatunya dua unsur ini dalam konstitusi yang sah, sehingga warga negara punya ruang “bebas” menganut agama yang diyakini.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Menjadi mahasiswa sudah sulit, dan menjadi mahasiswa yang taat agama lebih sulit lagi di Amerika, khususnya mahasiswa muslim. Walaupun konstitusi Amerika Serikat juga merujuk konsep Ketuhanan, faktanya beragama dan bernegara menjadi dua hal yang berbeda. Ruang kebebasan beragama pun sangat kecil walaupun ada undang-undang “religious freedom”. Ditambah lagi dengan konstruksi sosial masyarakat yang liberal – bahwa kebebasan dan persamaan adalah nilai politik yang utama, semangat beragama pun semakin tergerus seiring dengan berkembangnya paham ini. Agama dinilai mengikat kebebasan individu. Oleh karena itu, agama tidak relevan lagi dengan modernitas negara dan harus ditinggalkan.

Perspektif ini yang menjadi tantangan terbesar mahasiswa muslim di Amerika. Mereka harus bergelut dengan persoalan sepele tapi sangat mengusik pikiran dan keyakinan. Seperti misalnya, mengapa pakaianmu diatur sedemikian rupa? Sementara trend dan mode busana masa kini semakin “terbuka”. Mengapa kamu tidak boleh makan pork, ham, atau minum alkohol? Sementara teman-temanmu yang lain bisa menikmatinya sambil berpesta pora. Mengapa kamu harus beribadah lima kali sehari? Sangat menyita waktu! Pertanyaan-pertanyaan ini tidak cukup hanya dijawab dengan argumen naskah liturgi atau risalah kenabian. Mahasiswa muslim di Amerika butuh penjelasan yang menembus batas nalar dan rasionalitas mereka, sehingga mereka mampu memberikan pemahaman mendasar untuk diri sendiri dan orang lain.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Konteks beragama dan bernegara bagi mahasiswa muslim di Amerika semakin sulit dengan berkembangnya era digital. Arus dan akses data yang besar menghantam mahasiswa muslim di Amerika untuk terus berkontemplasi tentang agamanya, identitasnya, dan bagaimana menjadi muda. Sebagian bisa bertahan dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam. Sebagian lainya terpaksa berbelok arah menjadi Islam liberal. Tidak sedikit juga yang beralih agama.

Masjid Omar Ibn Elkhattab Amerika Serikat

Upaya Komunitas Muslim di Amerika dalam Menjaga Pemuda

Komunitas muslim di Amerika sangat solid yang ditandai dengan konektivitas antar-kelompok, pusat kajian, dan masjid-masjid. Melalui berbagai pendidikan formal dan informal, mahasiswa muslim di Amerika ikut serta dalam program-program yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan masyarakat, standar nasional pendidikan, multi-Bahasa dan budaya. Sekolah-sekolah berbasis Islam mulai banyak berdiri. Sayangnya sekolah ini tidak mendapat bantuan dana operasional dari pemerintah, sehingga harus dikelola dengan swadaya masyarakat. Akibatnya biaya sekolah pun tidak murah. Hanya sekitar 1% dari jumlah populasi siswa muslim yang bisa bersekolah di sekolah-sekolah Islam. Mahasiswa juga aktif terlibat sebagai pengurus masjid dengan berbagai agenda remaja dan kepemudaan. Di tengah pertarungan identitas yang sengit, komunitas muslim di Amerika terus berupaya meyakinkan para pemuda bahwa dalam Islam, gaya dan preferensi hidup juga menjadi perhatian. Lebih dari itu, upaya terus dilakukan dengan menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan kehidupan sehari-hari, seperti yang banyak terjadi di negara-negara mayoritas Muslim lainnya.

Ayo Kuliah dan Daftar di UNISMA Malang sekarang!

Pendaftaran bisa melalui online: http://pmb.unisma.ac.id/

Beberapa upaya yang merangkul mahasiswa muslim di Amerika lebih bersifat top-down. Contohnya, ada program pendidikan, bimbingan dan kepemimpinan, seperti MY Connect (Muslim Youth Connect) melalui Muslim American Society (MAS) atau Islamic Society of North America (ISNA)’s Youth Programming Services Department (YPSD). YPSD berkomitmen sebagai pusat sumber daya satu atap untuk pemuda muslim di Amerika, termasuk kolaborasi dengan organisasi pemuda lainnya dan para peneliti tentang perkembangan pemuda Muslim di Amerika Serikat. Sedangkan di kampus-kampus, terdapat organisasi kemahasiswaan Muslim Students Association (MSA) yang secara ekstensif merangkul dan melayani kebutuhan mahasiswa muslim di kampus.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Kita perlu mendorong semangat gerakan mahasiswa dan kepemudaan yang mengarah ke penguatan akidah dan akhlak Islam. Seringkali di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, mahasiswa tidak mendapat ruang dan perhatian untuk berkontribusi dalam aktivitas masjid, pusat kajian ataupun aktivitas desa lainnya. Sehingga mahasiswa atau pemuda muslim di Indonesia hanya menjadi penonton dan penggembira suasana. Kecanggihan teknologi digital 4.0 harus dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk kepentingan syiar Islam. Dengan demikian, mereka dapat merasakan pentingnya membela Islam dalam kehidupannya yang akhirnya menumbuhkan semangat menjaga keutuhan negara. Jangan menunggu mahasiswa kita dirusak oleh paham-paham “false fallacy” seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kajian-kajian tentang ubudiyah Islam di media sosial juga perlu digelar di kampus dengan guru yang mumpuni agar mahasiswa tidak kehilangan arah dengan hanya berguru pada internet. Mahasiswa harus diajak untuk belajar Islam pada guru yang benar dan tuntas agar mampu menjadi penerus generasi yang madani. Akhirnya, “kalau pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang; Jika dapat mengatasi kesukaran tentu maksud dapat dicapai.”

  • Penulis Firman Parlindungan, S.Pd., M.Pd., Ph.D, adalah alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Program Pascasarjana UNISMA Malang yang melanjutkan program doktoral di Ohio State University, Amerika Serikat
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.