Banyak orang Indonesia yang masih belum tahu bahwa bahasa Indonesia menjadi matakuliah bahasa pilihan kedua setelah bahasa utama di Uzbekistan. Terdapat dua universitas besar yang memasukkan matakuliah Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan. Pertama, kampus yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua adalah Uzbekistan State World Languages University (UzSWLU). Kedua adalah kampus Thaskent State University […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-16-at-5.24.09-PM.jpeg9601280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-25 10:36:542020-05-25 10:36:56Bahasa Indonesia Menjadi Matakuliah Bahasa Pilihan Kedua di Dua Universitas Besar Uzbekistan oleh Prayitno Tri Laksono Dosen FKIP UNISMA Malang dan Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan
Dengan beberapa kawan, saya mengunjungi Turki. Negara yang satu ini (diantara banyak negara lain) menarik minat Saya karena banyak cerita bersejarah. Sampai ada yang bilang “silahkan kunjungi belahan dunia manapun, tapi jika belum mengunjungi Turki, hidup berwisata terasa hampa”. Betul dari kawan yang bilang tadi, bahwa Turki harus diagendakan dalam hidup ini jika beminat dalam […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-21-at-9.51.36-PM3.jpeg1032581OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-25 10:29:262020-05-25 10:29:30Belajar Merawat Destinasi Gaya Turki oleh Dr. Hj. Ana Rokhmatussa’diyah, SH., MH Dosen Fakultas Hukum UNISMA Malang
Banyak orang Indonesia yang masih belum tahu bahwa bahasa Indonesia menjadi matakuliah bahasa pilihan kedua setelah bahasa utama di Uzbekistan. Terdapat dua universitas besar yang memasukkan matakuliah Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan. Pertama, kampus yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua adalah Uzbekistan State World Languages University (UzSWLU). Kedua adalah kampus Thaskent State University […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-16-at-5.24.09-PM.jpeg9601280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-25 10:36:542020-05-25 10:36:56Bahasa Indonesia Menjadi Matakuliah Bahasa Pilihan Kedua di Dua Universitas Besar Uzbekistan oleh Prayitno Tri Laksono Dosen FKIP UNISMA Malang dan Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan
Dengan beberapa kawan, saya mengunjungi Turki. Negara yang satu ini (diantara banyak negara lain) menarik minat Saya karena banyak cerita bersejarah. Sampai ada yang bilang “silahkan kunjungi belahan dunia manapun, tapi jika belum mengunjungi Turki, hidup berwisata terasa hampa”. Betul dari kawan yang bilang tadi, bahwa Turki harus diagendakan dalam hidup ini jika beminat dalam […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-21-at-9.51.36-PM3.jpeg1032581OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-25 10:29:262020-05-25 10:29:30Belajar Merawat Destinasi Gaya Turki oleh Dr. Hj. Ana Rokhmatussa’diyah, SH., MH Dosen Fakultas Hukum UNISMA Malang
Banyak orang Indonesia yang masih belum tahu bahwa bahasa Indonesia menjadi matakuliah bahasa pilihan kedua setelah bahasa utama di Uzbekistan. Terdapat dua universitas besar yang memasukkan matakuliah Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan.
Pertama, kampus yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua adalah Uzbekistan State World Languages University (UzSWLU). Kedua adalah kampus Thaskent State University of Oriental Studies (TSUOS). Kedua kampus ini sudah sejak lama memasukkan bahasa Indonesia sebagai matakuliah pilihan selain bahasa-bahasa dunia yang lain, yaitu bahasa Jepang, Korea, Iran, Turki, China, Malaysia, Prancis, Italia, Spanyol, Arab, Vietnam, Yunani, dan German.
Di UzSWLU dan TSUOS, matakuliah Bahasa Indonesia sudah diselenggarakan sejak awal tahun 2000-an sebagai matakuliah pilihan bahasa kedua untuk mahasiswa. Mahasiswa di kampus ini mengambil jurusan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
Mereka dapat memilih bahasa kedua asalkan jumlah mahasiswa minimal untuk bahasa kedua mencukupi. Biasanya, jumlah minimal agar bahasa kedua dibuka adalah sekitar 10 mahasiswa per grup. Dari tahun awal dibuka kelas Bahasa Indonesia di kampus ini hingga sekarang, berkisar lebih dari 1.000 mahasiswa telah belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua mereka. Pada tiap semester, kampus UzSWLU akan membuka grup baru, berkisar 2—4 grup yang belajar bahasa Indonesia.
Pembelajaran bahasa Indonesia di kedua universitas tersebut menggunakan pendekatan terjemah. Hal ini menjadi tradisi sejak awal hingga sekarang. Dosen pengampu bahasa Indonesia di sini pada mulanya adalah staf KBRI Tashkent yang juga membantu pihak kampus untuk mengajar mahasiswa. Selain itu, staf KBRI juga berkesempatan untuk melakukan promosi dan diplomasi budaya, sosial, dan pendidikan kepada mahasiswa yang mengambil jurusan bahasa Indonesia.
Rektor UNISMA MoU dengan TSUOS
Pada awal tahun 2010, alumni jurusan Bahasa Indonesia dari kedua kampus ini juga menjadi dosen Bahasa Indonesia untuk mengajar di jurusan Bahasa Indonesia di kampus mereka.
Banyak juga mahasiswa alumni jurusan Bahasa Indonesia di sini yang telah mendapatkan beasiswa Darmasiwa RI dan KNB di Indonesia. Rata-rata mereka yang pernah mendapatkan beasiswa tersebut kembali ke Uzbekistan untuk bekerja dengan KBRI, menjadi dosen Bahasa Indonesia, menjadi diplomat, dan bekerja di bidang pariwisata dengan pangsa pasar turis dari Indonesia. Mereka tinggal dan belajar di Indonesia minimal 6 bulan. Jadi, saat mereka kembali ke Uzbekistan sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar.
Di UzSWLU dan TSUOS terdapat dua dosen utama Bahasa Indonesia yang menjadi penanggung jawab terhadap matakuliah dan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Kedua dosen tersebut juga merupakan lulusan dari beasiswa Darmasiswa RI. Mereka sudah mengajar bahasa Indonesia di kampus selama lebih kurang 4 tahun.
Kunjungan Rektor UNISMA ke UzSWLU
Keberadaan dosen tersebut sangat membantu dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan menjaga jurusan ini tetap ada hingga sekarang. Pada tahun 2015 hingga 2016, pemerintah RI melalui Kemristekdikti mengirimkan tenaga pengajar dosen Bahasa Indonesia ke kampus di Uzbekistan untuk mengajar selama 1 semester. Pengiriman dosen ini bertujuan agar mahasiswa Uzbekistan dapat belajar langsung dari penutur asli bahasa Indonesia. Program pengiriman dosen bahasa Indonesia ini di bawah tanggung jawab program SAME. Selain mengajarkan Bahasa Indonesia, dosen juga diharapkan dapat mengajarkan budaya dan promosi tentang wisata Indonesia kepada mahasiswa dan masyarakat umum di Uzbekistan.
Pada tahun 2017, pemerintah RI melalui PPSDK, Badan Bahasa, dan Kemdikbud melanjutkan proses pengiriman dosen Bahasa Indonesia ke Uzbekistan. Pengiriman tersebut juga bertujuan sama yaitu agar bahasa Indonesia semakin dikenal dan tetap bertahan menjadi salah satu matakuliah pilihan yang masuk dalam kurikulum pendidikan di UzSWLU dan TSUOS. Perbedaan dengan program dari SAME adalah dosen ditugaskan selama 1 tahun untuk mengajar di Uzbekistan. Selain itu, dosen yang dikirim ke sini adalah dosen lulusan dari jurusan Bahasa Indonesia. Jadi, lebih sesuai dengan bidangnya.
Motivasi dari mahasiswa saat mereka memilih untuk belajar bahasa Indonesia sangatlah beragam. Ada mahasiswa yang memilih jurusan bahasa Indonesia karena mereka ingin mendapatkan beasiswa ke Indonesia, ingin bekerja di KBRI Tashkent, ingin menjadi diplomat yang bekerja di Indonesia, dan ingin menjadi dosen Bahasa Indonesia di Uzbekistan. Selain alasan-alasan tersebut, mahasiswa juga beranggapan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah dipelajari dan sangat menarik untuk ditekuni. Tidak hanya bahasanya yang mudah, tetapi Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya, tradisi, dan kesenian yang menarik untuk dipelajari lebih dalam. Oleh karena itu, mahasiswa ingin bisa berbahasa Indonesai lebih baik sehingga mereka bisa melanjutkan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain dengan bahasa Indonesia kelak.
Seperti halnya di negara lain, di Uzbekistan juga mempunyai kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia. Pertama, jumlah pertemuan tatap muka pelajaran Bahasa Indonesia di sini sangat sedikit, yaitu hanya dua kali dalam satu minggu. Dalam satu kali pertemuan hanya ada 80 menit untuk pelajaran. Kedua, tidak semua mahasiswa yang sudah berada dalam grup jurusan Bahasa Indonesia memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa mahasiswa di dalam grup jurusan Bahasa Indonesia adalah mahasiswa yang tidak memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua mereka. Mereka hanya saja tidak bisa memilih jurusan bahasa yang mereka kehendaki karena jurusan tersebut tidak mencukupi kuota mahasiswanya sehingga mereka harus masuk ke jurusan Bahasa Indonesia. Ketiga, kurangnya pelatihan untuk dosen tetap Bahasa Indonesia di sini menyebabkan aktivitas pembelajaran, materi, media, dan kurikulum yang digunakan kurang efektif untuk bisa meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia. Seharusnya, ada pelatihan khusus dan rutin untuk dosen-dosen Bahasa Indonesia di sini agar mereka terus mengikuti perkembangan dalam pengajaran dan pembelejaran Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.
Penulis Prayitno Tri Laksono, M.Pd., Dosen FKIP UNISMA Malang, Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan State World Languages University
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-16-at-5.24.09-PM.jpeg9601280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-25 10:36:542020-05-25 10:36:56Bahasa Indonesia Menjadi Matakuliah Bahasa Pilihan Kedua di Dua Universitas Besar Uzbekistan oleh Prayitno Tri Laksono Dosen FKIP UNISMA Malang dan Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan
Dengan beberapa kawan, saya mengunjungi Turki. Negara yang satu ini (diantara banyak negara lain) menarik minat Saya karena banyak cerita bersejarah. Sampai ada yang bilang “silahkan kunjungi belahan dunia manapun, tapi jika belum mengunjungi Turki, hidup berwisata terasa hampa”.
Betul dari kawan yang bilang tadi, bahwa Turki harus diagendakan dalam hidup ini jika beminat dalam kancah wisata dunia. Begitu saya mengunjungi turki dan kawan-kawan, kami dibuat terpesona oleh sejumlah destinasinya. Luar biasa negara ini.
Menikmati destinasi di Turki sambil berjalan kaki di sejumlah area, tidak membuat fisik sangat penat, dan bahkan terasa lebih menghibur dan menyenangkan, sehingga dapat memberi kesan yang dalam, bahwa di Turki, ada banyak ragam kenangan yang tidak terlupakan, ada pesan tersirat yang butuh disampaikan ke penjuru dunia.
Kita tahu, bahwa Turki terletak persis di antara benua Asia dan Eropa. Turki adalah sebuah negara istimewa yang tersohor akan kekayaan sejarah dan budaya, serta keunikan (keragaman) alamnya.
Sumberdaya pariwisata atau ragam “kekayaan” Turki pun ditahbiskan dunia dengan adanya 11 situs UNESCO World Heritage yang tersebar di seluruh penjuru negara. Pernyataan dunia tentang destinasi Turki yang istimewa tidak mengada-ada, karean destinasinya memang layak dikunjungi oleh Wisatawan mancanegara (Wisman) dan menjadi bagian dari kekayaan dunia yang patut diapresiasi oleh bangsa manapun di muka bumi.
Sebagai salah satu contoh. Para penikmat travelling tentu tidak melewatkan salah satu kunjungannya ke kota Anatolia. Anatolia dikenal sebagai kota yang terletak di selatan Turki dengan panorama laut Mediterania yang cantik. Panorama laut ini sangat mengesankan dan membuat betah para travellers yang senang berlama-lama menikmati laut.
Kota kecil itu sangat cocok dijadikan tempat peristirahatan karena suasananya yang tenang. Secara garis besar, kota ini terbagi menjadi dua bagian: kota tua dan kota baru. Bangunan di kota tua ini bercorak Ottoman, dinding bercat putih dengan kerangka kayu berwarna coklat. Sedangkan di kota baru bangunannya bergaya modern. Salah satu landmark paling terkenal di kota tua Anatolia adalah Hadrian’s Gate. Gerbang ini dibangun untuk menghormati Kaisar Rowami, Hadrian, berkunjung ke Anatolia pada saat itu.
Peninggalan Kekaisaran Romawi sangat terasa di kota ini, seperti Amphiteater Aspendos yang dibangun menyerupai Colosseum di Roma, Italia. Hal ini mengisyaratkan ciri khas ampiteater bergaya Romawi adalah bangunannya yang tertutup sehingga pandangan penonton fokus ke arena pertunjukan. Sampai sekarang, Amphiteater berusia dua ribu tahun ini masih aktif digunakan sebagai arena pertunjukan Aspendos International Opera and Ballet Festival.
Puluhan destinasi lain sangat banyak dan beragam di Turki. Negara dengan bangunan artistik ini memang sengaja membentuk dirinya supaya bukan hanya menjadi kebesaran kekayaan lokal dan nasional, tetapi bisa menjadi kekayaan antar bangsa (dunia).
Itu tidak lepas dari kuatnya atau seriusnya pemerintah memperhatikan kekayaan bersejarah, yang perhatiannya ini ditunjukkan dengan keseriusan pula. Terhadap sumberdaya pariwisata global ini, pemerintah menunjukkan pada dunia, bahwa kekayaan sejarah tidak akan sia-sia jika dirawat dengan sebaik-baiknya.
Kerja keras pemerintah (negara) Turki dalam merawat destinasi yang dimilikinya, betul-betul membuahkan hasil. Setiap pihak yang mengunjungi destinasinya dibuat puas, yang seolah-olah dirinya telah dimanjakan atau diberi kepuasan psikologis oleh negara dan rakyat Turki.
Selain itu, pemeritah dan masyarakat Turki gencar mempublikasikan pada masyarakat dunia tentang segala bentuk keindahan destinasinya dan manajemen perawatannya. Wisatawan internasional yang mengunjungi Turki disambutnya dengan baik dan ditunjukkan tentang sejarah dan perkembangan destinasinya.
Tentu saja Langkah pemerintah Turki tersebut layak dijadikan obyek pembelajaran oleh pemerintahan Indonesia dalam menata atau mengelola destinasi yang dimilikinya. Negara Indonesia ini kaya dengan sumberdaya pariwisata yang tidak akan kalah indahnya dibandingkan dengan negara manapun, termasuk Turki, tapi salah satu kelemahan yang menonjol adalah masih kurang seriusnya merawat segala destinasinya.
Kita (bangsa Indonesia) akan bisa menjadi maju atau lebih baik dibandingkan dengan sekarang dalam “menjual” obyek wisatanya, jika pihak-pihak yang mendapatkan kepercayaan, khususnya pemerintahan lokal gencar atau serius memperhatikan berbagai aspek kelemahan seperti pembangunan infrastruktur yang digunakan untuk mempermudah akses wisatawan yang akan mencari dan mengunjungi destinasi.
Publikasi obyek wisata (destinasi) sudah mulai gencar dilakukan oleh pemerintah karena dukungan perkembangan teknologi informasi, namun sekali lagi, dukungan pembangunan secara riil untuk memperoleh akses ke lokasinya, masih belum tergarap dengan maksimal.
Penulis Dr. Hj. Ana Rokhmatussa’diyah, SH., MH adalah Doktor Ilmu Hukum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang (UNISMA), Penulis sejumlah Buku, Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang, Owner PT. Basmallah Utama Tour.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-21-at-9.51.36-PM3.jpeg1032581OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-25 10:29:262020-05-25 10:29:30Belajar Merawat Destinasi Gaya Turki oleh Dr. Hj. Ana Rokhmatussa’diyah, SH., MH Dosen Fakultas Hukum UNISMA Malang