Belajar ke luar negeri adalah suatu keniscayaan bagi anak bangsa yang ingin keluar dari zona nyaman (comfort zone). Namun dibalik itu semua, prestasi demi prestasi akan bisa diraih bila kita serius berikhtiyar mencapai cita-cita. Apalah saya yang mencoba peruntungan mengikuti kompetisi meraih beasiswa S3 luar negeri yang diadakan oleh pemerintah Indonesia (BPPLN DIKTI). Tiga kali […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-26-at-4.34.55-AM.jpeg7201280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-31 08:55:572020-05-31 08:56:29Studi di Taiwan, Siapa Takut? Oleh dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran UNISMA Malang
Bagi saya pribadi, bisa melanjutkan jenjang studi melalui program Double Degree di luar negri rasanya seperti mimpi. Saya akan membagikan sepenggal kisah dari kehidupan saya, yang tidak terlupakan. Singkat cerita saya adalah alumni mahasiswa Double Degree di Burapha University, Thailand. Rasa senang, kaget, cemas, dan gembira bercampur aduk menjadi satu, ketika saya menginjakkan kaki saya […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Screen-Shot-2020-05-31-at-08.46.09.png378434OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-31 08:47:202020-05-31 08:47:53Kuliah Lapangan di Negeri Gajah Putih Oleh Retno Wulan Sekarsari Dosen FIA UNISMA Malang
Belajar ke luar negeri adalah suatu keniscayaan bagi anak bangsa yang ingin keluar dari zona nyaman (comfort zone). Namun dibalik itu semua, prestasi demi prestasi akan bisa diraih bila kita serius berikhtiyar mencapai cita-cita. Apalah saya yang mencoba peruntungan mengikuti kompetisi meraih beasiswa S3 luar negeri yang diadakan oleh pemerintah Indonesia (BPPLN DIKTI). Tiga kali […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/WhatsApp-Image-2020-05-26-at-4.34.55-AM.jpeg7201280OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-31 08:55:572020-05-31 08:56:29Studi di Taiwan, Siapa Takut? Oleh dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran UNISMA Malang
Bagi saya pribadi, bisa melanjutkan jenjang studi melalui program Double Degree di luar negri rasanya seperti mimpi. Saya akan membagikan sepenggal kisah dari kehidupan saya, yang tidak terlupakan. Singkat cerita saya adalah alumni mahasiswa Double Degree di Burapha University, Thailand. Rasa senang, kaget, cemas, dan gembira bercampur aduk menjadi satu, ketika saya menginjakkan kaki saya […]
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Screen-Shot-2020-05-31-at-08.46.09.png378434OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-31 08:47:202020-05-31 08:47:53Kuliah Lapangan di Negeri Gajah Putih Oleh Retno Wulan Sekarsari Dosen FIA UNISMA Malang
Belajar ke luar negeri adalah suatu keniscayaan bagi anak bangsa yang ingin keluar dari zona nyaman (comfort zone). Namun dibalik itu semua, prestasi demi prestasi akan bisa diraih bila kita serius berikhtiyar mencapai cita-cita. Apalah saya yang mencoba peruntungan mengikuti kompetisi meraih beasiswa S3 luar negeri yang diadakan oleh pemerintah Indonesia (BPPLN DIKTI). Tiga kali diwawancara baru diterima, 3 batchinterview saya jalani dalam setahun! Dan batch yang nyaris terakhir saya lolos wawancara. Alhamdulillah.
Bukannya saya tidak mampu meraih beasiswa dari luar negeri, namun kebanggaan menjadi anak bangsa yang studi dibiayai oleh pemerintahnya sendiri adalah asa yang ingin saya capai. Menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu membiayai bangsa sendiri untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Selain itu, kepercayaan diri juga meningkat manakala kita belajar membawa nama baik bangsa. Tidak berhutang balas budi pada negara lain. Tahun 2014 saya diterima di tiga perguruan tinggi di Taiwan melalui letter of acceptance (LoA) yang ditujukan kepada saya: National Pingtung University of Science and Technology (NPUST), National Sun-Yat Sen University (NSYSU) plus beasiswanya dan Kaohsiung Medical University (KMU). Namun pilihan hati jatuh pada KMU karena saya seorang dokter. Linearitas penting untuk jenjang karir dosen.
Tiba saatnya di independent day of Taiwan ROC, 10 Oktober 2014, saya bertekad berangkat membawa ketiga anak saya ke Kaohsiung, kota terbesar kedua di Taiwan. Oh ya, saya bisa membawa serta anak-anak karena suami saya setahun lebih dulu berangkat studi di sana. Dan mereka berangkat melalui visa suami saya yang telah tinggal setahun disana. Alhamdulillah
Dari sejak pertama menginjak tanah Kaohsiung, kebingungan demi kebingungan selalui kami hadapi karena perbedaan segalanya. Culture shock! Iya, kami mengalaminya. Gangguan psikosomatis! Tentu, hampir setiap hari kami rasakan. Tapi kami tetap satu tujuan, LULUS KULIAH S3! Beruntungnya saya dipertemukan dengan 2 profesor pembimbing (adviser): Prof Ying-Fu Chen, seorang dokter ahli bedah thorak dan kardiovaskuler dan Prof Jwu-Lai Yeh, seorang ahli farmasi. Keduanya bagaikan malaikat yang sangat baik hati dan pengertian dengan saya dengan segala keterbatasan ilmu dan aspek finansial yang saya miliki. Tahun pertama studi S3 berorientasi menyelesaikan mata kuliah dan tugas-tugas dosen. Oh ya, di Taiwan menganut pendidikan klasikal, dimana kita tetap masuk kelas dan menempuh sejumlah mata kuliah sebagai syarat lulus. Misunderstanding! Iya, selalu ada kesalahpahaman instruksi dosen dan pegawai kampus dengan mahasiswa Internasional. Maklum karena kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris yang bukan bahasa nasional baik untuk mereka ataupun kami. Lama kelamaan kami memahami apa maksud mereka dengan Englishpronounciation yang khas. Tahun kedua, saya fokus pada penelitian yang menggunakan hewan coba. Lagi-lagi, saya mengalami kesulitan karena biasa pegang pasien orang dan sekarang pegang hewan coba. Beruntung saya didampingi asisten laboratorium yang sabar dan telaten mengajari saya melakukan penelitian laboratorium biomedik. Alhamdulillah
Tahun ketiga adalah tahun publikasi. Fear (takut) adalah perasaan yang pertama saya rasakan untuk mencoba menulis artikel jurnal dan men-submit hasil penelitian kami. Syarat lulus mengharuskan untuk publikasi di dua jurnal internasional ber-impact factor (IF) lebih dari 2 atau satu jurnal dengan IF lebih dari 5 dan satu jurnal berindeks science citation index (SCI). Bukan syarat yang ringan tentunya, beberapa pertimbangan seperti ketepatan memilih jurnal sesuai topik penelitian, artikel yang ditulis bagus, manajemen jurnal yang cepat merespon author dan biaya publikasi yang affordable harus dipikirkan dengan baik. Dan Alhamdulillah, adviser menjamin seluruh biaya penelitian dan publikasi anak-anak bimbing beliau. Satu hal yang didambakan mahasiswa yang menempuh studi S3, dukungan finansial dari pembimbing. September 2017 saya berhasil melakukan publikasi pertama pada jurnal dengan IF 5,068. Tahun selanjutnya, fokus untuk publikasi kedua sambil menulis beberapa artikel jurnal penelitian. Tahun 2018 di hari yang sama di bulan Agustus, 2 artikel saya diterima di jurnal internasional dengan IF 3 dan 8. Sungguh luar biasa, di luar dugaan saya ketagihan publikasi. Namun, saatnya untuk kembali ke tanah air karena 4 tahun sudah saya menjalani studi di KMU. Anak-anak kami pun sudah jenuh ingin kembali ke Indonesia. Pada 22 Oktober 2018 adalah hari ujian disertasi. Tanpa selebrasi, suguhan hanya secangkir kopi dan 2 potong roti, 5 profesor penguji yang sangat humble menguji disertasi saya. Alhamdulillah, hari itu pula saya berhak mendapat gelar PhD dan saatnya kembali ke Fakultas Kedokteran UNISMA Malang. Studi di Taiwan memang tidak mudah, dengan tekad ikhtiyar dan tawakkal, serta optimis berhasil siapa saja bisa melakukannya. InsyaALLAH.
Comfort zone is a situation in which you feel comfortable and in which your ability and determination are not being tested (https://dictionary.cambridge.org).
Culture shock means a feeling of confusion felt by someone visiting a country or place that they do not know (https://dictionary.cambridge.org).
Gangguan psikosomatis adalah istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menggambarkan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan. Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma) https://hellosehat.com.
Thorax adalah bagian tubuh hewan yang terletak antara kepala dan abdomen https://id.wikipedia.org/wiki/Toraks.
Penulis dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D adalah Wakil Dekan 1 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA).
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Bagi saya pribadi, bisa melanjutkan jenjang studi melalui program Double Degree di luar negri rasanya seperti mimpi. Saya akan membagikan sepenggal kisah dari kehidupan saya, yang tidak terlupakan.
Singkat cerita saya adalah alumni mahasiswa Double Degree di Burapha University, Thailand. Rasa senang, kaget, cemas, dan gembira bercampur aduk menjadi satu, ketika saya menginjakkan kaki saya di Thailand.
Waktu itu, saya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja, saya belajar dan terus belajar. Bayangkan, betapa stresnya saya karena semua materi mata kuliah, diskusi, presentasi serta penjelasan dari dosen semua dalam bahasa Inggris. Setiap malam, saya berusaha belajar secara otodidak sampai tengah malam. Dan akhirnya ke’stres’an pun berlalu. Saya bisa melewatinya dengan baik.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, akhirnya saya terbang ke Thailand bersama teman-teman dari Indonesia. Waktu itu, kami hanya berlima. Kami dikirim ke BuraphaUniversity, dan diterima pada Batch III di Faculty Political Science and Law.
Kehidupan perkuliahan di Thailand sangat menarik sekali dan sangat menyenangkan. Di Burapha University terutama pada fakultas dan jurusan saya mahasiswa bebas melakukan eksperimen. Hampir setiap mahasiswa di setiap mata kuliah mendapatkan tugas sebuah project. Project ini bebas dikakukan secara mandiri, berkelompok dengan teman sekelas, atau berkelompok dengan mahasiswa lokal (Thailand). Output dari project tersebut minimal adalah sebuah konsep pemikiran besar yang menghasilkan problem solving yang bisa diterapkan secara nyata. Sistem penilaian yang diberikan oleh dosen bukan hanya didasarkan hasil akhir, tapi beliau-beliau juga melihat seberapa besar effort kami dalam proses menyelesaikan tugas tersebut.
Dosen-dosen Thailand sangat ramah dan penyayang. Beliau-beliau tidak pernah menolak apabila kami meminta konsultasi dan bimbingan, walau di luar mata kuliah yang diampu. Hal yang paling menyenangkan ketika menempuh S2 di Thailand adalah “kelas lapangan”. Setiap hari Sabtu pagi, kelas S2 Internasional selalu digabung dengan kelas S2 lokal mahasiswa Thailand untuk melakukan kunjungan lapangan di berbagai pelosok tempat di Thailand. Kelas Lapangan dimulai pukul 06.00 dan berakhir pukul. 18.00, dan kadang juga selesai sampai pukul 21.00. Dalam kelas lapangan tersebut kami didampingi oleh dosen kelas Internasional, yang bertugas menerjemahkan bahasa lokal Thailand kepada kami. Dalam kelas lapangan tersebut ada sembilan orang mahasiswa Indonesia, tiga orang mahasiswa Kamboja, dua orang mahasiswa Vietnam, tiga orang mahasiswa Taiwan dan selebihnya mahasiswa lokal Thailand.
Kelas lapangan adalah kelas yang sangat menambah wawasan mahasiswa terutama tentang sosial, budaya dan inovasi dari masyarakat dan pemerintah Thailand. Hampir seluruh mahasiswa selalu excited dalam mengikuti kelas lapangan, karena selalu membuat kami haus belajar tentang hal-hal baru yang ada di negara tersebut. Terkadang saking excitednya, kami tidak merasa berada dalam grup kelas, tapi seperti rombongan tour yang menyenangkan. Pada hari Senin pagi, tugas kelas lapangan selalu dikumpulkan tepat waktu. Tugas dibuat sesuai apa yang kami pahami dalam ulasan pemateri ketika kelas berlangsung. Tidak terasa 1,5 tahun berlalu begitu cepat dan akhirnya saya harus kembali ke Indonesia.
Alhamdulillah saya lulus dari BuraphaUniversity dengan “nilai sempurna”, yaitu dengan IPK 4,00. Dari kelas Double Degree saya mendapatkan banyak pengalaman dari reasearch and develoment, serta dua gelar yaitu Master Administrasi Publik (M.AP) dan Master of Political Science (M.Pol.Sc). Pengalaman selama menempuh study S2 Double Degree tersebut juga mempengaruhi cara mengajar saya dikelas dengan selalu mengembanganresearch and development, beserta dengan project.
Bagi seluruh teman-teman yang membaca tulisan ini, yakinlah bahwa “tidak ada mimpi yang terlalu tinggi” karena di tangan Tuhan YME semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin!! Tetap semangat.
Foto Bangkok Post: Mae Moh Power Plant: Pemandangan indah yang awalnya hanya berupa lubang-lubang besar bekas tambang. Pemerintah kota setempat menyulapnya menjadi sebuah tempat wisata edukasi yang sangat indah dan menarik. Recoverylubang bekas tambang yang parah mengandalkan serabut kelapa dengan diimbangi inovasi dan maintenance dari berbagai aspek.Foto: simandan.com: Foto Angsila Mahasiswa diperkenalkan dengan toleransi yang tinggi dari masyarakat Angsila melalui tempat ibadah yang bersebelahan. Budha-Thailand, Kong Huchu – Cina, dan Muslim – Thailand Melayu (yang foto tempat ibadahnya ada di belakang kuil). Tersentralnya tempat ibadah ini merupakan daya tarik untuk wisatawan dan mahasiswa asing dalam mempelajariculture dan aspek sosial masyarakt Thailand.Foto Trip Savvy.com: kelas lapangan di Ayyuthaya. Mahasiswa diperkenalkan dengan kisah kerajaan Thailand di masa lampau. Mahasiswa mempelajari tentang sejarah kerajaan Thailand sebelum ibu kota kerajaan Siam dipindah ke Bangkok, kehidupan sosial budaya, serta perubahan bentuk baik pemerintahan dan administrative setelah Ayyuthaya jatuh
Penulis Retno Wulan Sekarsari, SAP, MAP, M.Pol.Sc adalah Wakil Dekan 2 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang (UNISMA Malang).
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Screen-Shot-2020-05-31-at-08.46.09.png378434OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-05-31 08:47:202020-05-31 08:47:53Kuliah Lapangan di Negeri Gajah Putih Oleh Retno Wulan Sekarsari Dosen FIA UNISMA Malang