kui.unisma.ac.id, 23 Juni 2020. Unisma Malangbekerjasama dengan Tim Satuan Tugas (Satgas) Peduli Covid-19 Nahdlatul Ulama (NU) Malang Raya melakukan uji rapid test yang diperuntukkan untuk Pimpinan di lingkungan Universitas Islam Malang, Jumat (19/6).
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-Image-2020-06-15-at-4.18.30-PM.jpeg1122793OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-15 17:23:462020-06-15 18:34:47Gratis Nasional Webinar (Online Talk) Free E-Certificate Untuk Umum: Kerja Sama Ekonomi dan Pendidikan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Keynote Speaker Direktur Amerika Utara dan Tengah Kementerian Luar Negeri RI. (Rabu, 17 Juni 2020 pukul 09.30-12.00 WIB)
Gratis Untuk Umum: Internasional Webinar (E-Certificate by Request). Keynote Speaker Yang Mulia Dr. Zuhair S.M Alshun, Duta Besar Palestina untuk Indonesia
Tema: Peluang Kerja Sama antara Indonesia dan Palestina
Apabila Peserta memerlukan E-Certificate. Peserta Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu sebelum mengisi Formulir Melalui Link Berikut: https://bit.ly/3f79xjQ
*Bukti Kehadiran dengan mencantumkan nama di komentar chat live streaming facebook OIA UNISMA Malang atau melalui YoTube atau di bukti kehadiran pada zoom meeting.
Hari, Tanggal: Senin, 15 Juni 2020
Waktu: Pukul 13.00-14.30 Waktu Indonesia (WIB)
Waktu: Pukul 09.00-10.30 Waktu Palestina
Narasumber:
1. H.E Dr. Zuhair S.M Alshun (Duta Besar Palestina untuk Indonesia)
2. Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si(Rektor UNISMA Malang; Ketua Forum Rektor Perguruan Tinggi NU)
Host:Dr. Imam Wahyudi Karimullah, MA (Kepala Kantor Urusan Internasional UNISMA Malang)
Co-Host: Muhammad Afifullah, B.Sh., M.Ed., Ph.D(Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA Malang)
Kegiatan ini bersifat gratis/tidak dipungut biaya dan ditayangkan secara langsung (Live Streaming) melalui:
E-Certificate by Request: Pemesanan Pembuatan E-Sertifikat Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu sebelum mengisi formulir melalui link berikut: https://bit.ly/3f79xjQ
Peserta Yang Memerlukan E-Sertifikat dikenakan Biaya Pembuatan E-Sertifikat. Biaya sertifikat untuk siswa/mahasiswa adalah Rp. 10.000/orang/sertifikat. Biaya Pembuatan Sertifikat untuk guru/dosen/pegawai (non-mahasiswa) adalah Rp. 25.000/orang/sertifikat. Pada Sertifikat akan dicantumkan nama lengkap beserta gelar berdasarkan input data dari online form yang diisin oleh peserta. Pemesanan E-sertifikat: https://bit.ly/3f79xjQ
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-Image-2020-06-14-at-1.38.21-PM.jpeg1122793OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-14 13:40:262020-06-14 13:40:29Gratis Untuk Umum Internasional Webinar (E-Certificate by Request). Keynote Speaker Yang Mulia Dr. Zuhair S.M Alshun, Duta Besar Palestina untuk Indonesia. Peluang Kerja Sama antara Indonesia dan Palestina (Senin, 15 Juni 2020 pukul 13.00-14.30 WIB)
Republic of china atau yang lebih dikenal sebagai Taiwan merupakan negara yang bersebelahan dengan negara Republik Rakyat Cina (RRC). Secara bahasa ada perbedaan di antara keduanya, yaitu Taiwan menggunakan Bahasa Mandarin Tradisional sedangkan RRC menggunakan Bahasa Mandarin yang disederhanakan (simplified). Taiwan dijuluki sebagai Negara Formosa yang memiliki arti pulau yang indah, yang terletak antara Laut China dan Samudra Pasifik.
Taiwan dikenal dengan julukan Negeri Formosa. Sampai saat ini Taiwan adalah negara dengan penanganan wabah COVID-19 terbaik sedunia. Sistem Pendidikannya berdasarkan pada penelitian banyak diterapkan hampir di seluruh universitas di Taiwan. Sehingga pelajar di Taiwan sudah terbiasa dengan penelitian yang sangat didukung oleh pemerintah, baik secara fasilitas maupun pembiayaan.
Penelitian dan Pendidikan di Taiwan tidak hanya didukung oleh pemerintah, namun juga oleh beberapa perusahaan baik negeri maupun swasta. Sehingga, kerjasama antara institusi, pemerintah, dan perusahaan sudah terintegrasi dengan baik. Kerjasama ini sangat menguntungkan bagi beberapa pihak yang terlibat untuk menciptakan teknologi dan sistem pendidikan yang maju. Salah satu bentuk kerjasama tersebut adalah penyediaan beasiswa terutama untuk mahasiswa asing.
Taiwan merupakan destinasi wisata terbaik untuk kategori wisata ramah muslim menurut Crescent Rating (indeks wisata muslim global) tahun 2019. Terdapat banyak masjid yang bisa dikunjungi untuk menunaikan shalat selama perjalanan. Taipei Grand Mosque menjadi saksi perkembangan Islam di Taiwan yang terletak di Kota Taipei. Beberapa masjid lainnya tersebar di berbagai penjuru Taiwan, misalnya Kaohsiung Mosque, Taipei Cultural Mosque, Taichung Mosque, hingga Longgang Mosque. Begitu juga dengan pusat perbelanjaan besar yang juga menyediakan ruang bagi umat muslim yang ingin sholat. Jadi walaupun sebagian besar warga Taiwan menganut paham Ateis, mereka memiliki jiwa toleransi yang sangat tinggi. Seperti penyediaan mushola di kampus tempat kami muslim belajar serta kelonggaran waktu untuk beribadah. Selain itu, penduduk asli Taiwan mengerti akan kebutuhan kami tentang makanan halal seperti penyediaan restoran halal di beberapa kampus.
Ada yang unik terkait penjualan makanan di Taiwan, hal unik tersebut adalah di setiap daerah memiliki satu atau lebih pasar malam yang menjual makanan lokal khas Taiwan. Shilin Night Market adalah pasar malam terbesar di Taiwan dengan deretan stan makanan. Makanan fenomenal di Taiwan yaitu Stinky Tofu, makanan tahu goreng dicampur dengan fermentasi sayuran sehingga menghasilkan bau tidak sedap, namun makanan yang paling banyak digemari. Salah satu fenomena budaya Taiwan yang telah menyebar ke seluruh dunia adalah Taiwan street food seperti Bubble Tea atau Boba Tea beraneka rasa. Diciptakan pertama kali oleh Chun Shui Tang di sebuah kedai teh di Taichung, Bubble Tea adalah minuman susu, teh, dan bola-bola tapioca yang kenyal.
Taiwan adalah negara modern, bebas, demokratis dengan rakyatknya yang pekerja keras, ramah dan menyenangkan. Modern dan Kuno, baru dan tradisional terjalin bersama yang mampu menciptakan masyarakat yang dinamis dan menarik.
Penulis Efendi Wirateruna, ST., M.Sc adalah Dosen Fakultas Teknik UNISMA Malang, alumni National Sun Yat-sen University (NSYSU) yang terletak di kota Kaohsiung, kota terbesar kedua setelah Taipei.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/IMG_5122-1.jpg6671000OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-10 13:28:582020-06-10 13:29:01Pendidikan dan Budaya Taiwan Oleh Efendi Wirateruna Dosen Fakultas Teknik UNISMA Malang
Pada 12 Januari 2017 sampai 21 Februari 2017 lalu, saya dan kedua rekan saya, Kak Nur Lailatun Ni’mah, yang merupakan kakak tingkat saya, sekarang sudah bergelar dr. Ella dan menjadi asisten penelitian di RSCM Jakarta, beserta teman satu angkatan saya Tazkia Azmi Salima, yang sekarang bersama dengan saya sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran di RSUD Blambangan Banyuwangi. Didampingi oleh pembimbing kami dr. Rahma Triliana M.Kes, Ph.D, yang sekarang beliau adalah Dekan FK UNISMA Malang, kami bertiga setelah melalui seleksi dan bimbingan, diberikan amanah untuk menjalani penelitian di SA Pathology Adelaide di laboratorium Endocrine Bone Research. Penelitian tersebut menjadi penelitian yang kami gunakan untuk Tugas Akhir kami dalam mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. Sesampainya kami di SA Pathology di hari pertama, kami disambut oleh kedua supervisor kami, yaitu Associate Professor Paul H. Anderson yang akan membimbing saya dan Kak Nur Lailatun Ni’mah, beserta Associate Professor Matt Prideaux yang akan membimbing Tazkia Azmi Salima. Di hari pertama kami diberikan gambaran akan penelitian yang akan kami jalani, mulai dari konsep dasar hingga tata cara interpretasi data.
Kedua supervisor kami selama penelitian di SA Pathology Adelaide, Paul H. Anderson (kiri) dan Matt Prideaux (kanan)
Selain dibimbing oleh kedua supervisor kami, di laboratorium Endocrine Bone Research kami juga dibantu oleh anggota laboratorium. Salah satu anggota tersebut adalah Kate Barrat, yang memberikan kami penjelasan lengkap mengenai mencit mulai dari pemeliharaan hingga pengambilan sampel, Kate juga banyak memberikan rekomendasi tempat wisata kepada kami. Anggota lainnya adalah Rebecca Sawyer, beliau adalah yang meminjamkan kompuer kerjanya untuk kami gunakan dalam pengolahan data mikroarsitektur tulang mencit. Anggota lainnya ada Yolandi Starczak dan Deepti Sharma yang juga selalu membantu kami jika kami mengalami kesulitan dalam penelitian.
Anggota laboratorium Endocrine Bone Research: Kate Barrat (kiri atas), Rebecca Sawyer (kanan atas), Yolandi Starczak (kiri bawah) dan Deepti Sharma (kanan bawah)
Dalam penelitian kami mendapat banyak pembelajaran. Kami melakukan pengambilan data ekspresi gen mulai dari ekstraksi mRNA hingga diproses dengan PCR. Kami juga mengambil data mikroarsitektur tulang mulai dari preparasi tulang, penggunaan Micro CT, hingga diproses menggunakan software, semua kami lakukan sendiri, tentu saja dengan banyak sekali bimbingan dari pembimbing kami dr. Rahma Triliana, M.Kes, Ph.D, supervisor kami, beserta anggota laboratorium lain.
Pengambilan data ekspresi gen dan mikroarsitektur tulang
SA Pathology Adelaide memberikan rasa nyaman pada kami dalam melakukan pembelajaran dan penelitian. Disana dilengkapi dengan mushola, walaupun kecil, tetapi cukup nyaman. Mushola tersebut dilengkapi dengan tempat wudhu dan tanda apakah sedang digunakan laki-laki atau perempuan. Di SA Pathology juga terdapat dapur yang bisa kami gunakan saat istirahat. Ruang kantor dalam laboratorium Endocrine Bone Research juga sangat nyaman. Kami biasa datang dari pukul 07.30 pagi hingga maksimal pukul 20.00 malam waktu setempat. Kami datang saat musim panas, sehingga pukul 20.00, terkadang langit masih terang sehingga tidak terasa kami menghabiskan waktu bekerja di laboratorium. Selama melakukan penelitian, kami juga diharuskan untuk mengisi seluruh kegiatan kami dalam buku catatan laboratorium, sehingga semua yang kami lakukan dapat terencana dengan baik.
Suasana di SA Pathology Adelaide
Dalam satu setengah bulan kegiatan kami di Adelaide, selain kegiatan penelitian di laboratorium, kami juga diberikan kesempatan untuk berjalan-jalan di beberapa kawasan wisata di Australia Selatan. Beberapa kawasan wisata yang sempat kami kunjungi yaitu Carrick Hill, Belair National Park, Botanical Garden, Cleland Wildlife Park, kota kecil Hahndorf, Monarto Zoo, Mount Lofty Summit, Port Adelaide Cruise, dan banyak tempat menakjubkan lainnya. Banyak sekali pengalaman dan bertambahnya rasa syukur yang kami dapatkan dalam mengunjungi tempat-tempat indah tersebut. Kami beserta pembimbing kami dr. Rahma Triliana, M.Kes, Ph.D mengunjungi Mount Lofty Summit bersama dengan supervisor kami Associate Professor Paul H. Anderson dan salah satu anggota laboratorium kami, Kate Barrat. Kami juga bersilaturahim dengan Associate Professor Mike Perkins beserta keluarga, salah satu pemateri di Temu Ilmiah Nasional dari BAPIN-ISMKI tahun 2016 lalu yang kebetulan dilaksanakan di FK Unisma. Kami diberikan kesempatan untuk makan malam bersama di rumah beliau, juga diberikan kesempatan untuk berjalan-jalan bersama beliau dan keluarga ke Monarto Zoo.
Atas: Kunjungan ke Mount Lofty Summit (kiri), makan malam dengan Associate Professor Mike Perkins sekeluarga (kanan) Bawah: Kunjungan bersama Associate Professor Mike Perkins sekeluarga ke Monarto Zoo
Waktu luang seperti saat pulang dari laboratorium, atau saat akhir pekan, menjadi lebih menyenangkan bagi kami karena kesempatan mengunjungi tempat-tempat menakjubkan di Adelaide. Adelaide juga dikenal sebagai kota yang dipenuhi dengan banyak pantai yang indah, kami diberi kesempatan mengunjungi empat pantai di Adelaide, yaitu Glenelg Beach, Hallet Cove Beach, Largs Bay Beach, dan Semaphore Beach. Kami juga mengunjungi tempat-tempat yang bisa menambah pengetahuan umum kami, seperti Art Gallery of SA, SA Museum, Immigration Museum, dan beberapa perpustakaan di Adelaide. Saat kami berkunjung disana Adelaide juga sedang mengadakan beberapa acara dan sempat kami kunjungi seperti Chinesse Festival, Fringe Festival, dan parade saat Australia Day yang membuat kami lebih terbuka tentang budaya suku Aborigin. Beberapa universitas di Adelaide juga menjadi tempat pilihan menapak jenjang perkuliahan yang terkenal di Australia bahkan dunia. Kami bersyukur diberi kesempatan mengunjungi beberapa uiversitas di Adelaide yaitu Flinders University, University of Adelaide dan University of South Australia.
Atas: Kunjungan ke Carrick Hill (kiri) dan kunjungan ke Cleland Wildlife Park (kanan) Bawah: Kunjungan ke Semaphore Beach (kiri) dan kunjungan ke Belair National Park (kanan)
Pengalaman yang saya tuliskan disini mungkin tidak bisa mewakili bahkan hanya setetes dari banyak hal yang telah kami dapatkan dalam program ini, mulai dari ilmu pengetahuan di bidang penelitian, kedokteran, ilmu pengetahuan umum, norma dan etika dalam bersosialisasi, hingga kesempatan menjamah tempat-tempat menakjubkan yang dulu mungkin hanya bisa kami kagumi melalui laman internet atau buku. Kami berharap agar tulisan ini bisa memotivasi siapa saja untuk bisa terus berkarya agar bisa meraih pengalaman lebih dari apa yang telah kami dapatkan. Kami juga berterima kasih kepada pembimbing kami dan semua pihak FK Unisma yang telah memberikan kesempatan ini, semoga selalu melahirkan generasi yang unggul dalam iman dan ilmu pengetahuan.
Penulis Alifiani Kartika Putri adalah Mahasiswi Fakultas Kedokteran UNISMA Malang peserta Research Attachment Program di SA Pathology Adelaide, Australia
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/Screen-Shot-2020-06-10-at-13.15.42.png623471OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-10 13:17:002020-06-10 13:17:04Research Attachment Program di SA Pathology Adelaide, Australia Selatan oleh Alifiani Kartika Putri Mahasiswi Fakultas Kedokteran UNISMA Malang
Untuk Umum (siswa/calon mahasiswa/guru/mahasiswa/dosen/orangtua/calon orangtua)
Tema: Kuliah Lancar, Aktifis OK, Skripsi Selesai: Kiat Sukses Raih Prestasi Internasional
LIVE ZOOM (First Come First Sign in) MEETING ID: 9899872298
Password Zoom Meeting: sukses#
E-Sertifikat by Request (Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu sebelum mengisi Formulir) Melalui Link Berikut: https://bit.ly/2Y5u2Xc
Hari, Tanggal: Sabtu, 13 Juni 2020
Waktu: Pukul 13.00-14.30 WIB
Narasumber:
1. M. Iqbal Darmawan, Grand Winner ASEAN Youth Ambassador 2019
2. Hainona Izza Golia, Pengajar Internasional di India; Alumni UNISMA Malang
3. Wahyu Nuril Qolbi,Peraih Summa Cumlaude, Universitas Negeri Malang
Host:Dr. Imam Wahyudi Karimullah, MA (Kepala Kantor Urusan Internasional UNISMA Malang)
Kegiatan ini untuk umum dan melalui Zoom MEETING ID: 9899872298 (password dikirimkan setelah registrasi)
Registrasi & E-Certificate (Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu) melalui link berikut: https://bit.ly/2Y5u2Xc
Biaya Registrasi dan Pembuatan E-Sertifikat adalah Rp. 10.000/orang/sertifikat. Pada Sertifikat akan dicantumkan nama lengkap beserta gelar berdasarkan input data dari online form yang diisi oleh peserta melalui: https://bit.ly/2Y5u2Xc
Internasional Webinar (E-Certificate by Request). Dilanjutkan Pendaftaran Tanda Tangan MoU/MoA Daring antara University Malaysia Kelantan (UMK) dan Lembaga Pendidikan/Non-Pendidikan di Indonesia
Tema: Merajut Kerja Sama Internasional Pasca Covid-19
LIVE ZOOM (Terbatas untuk 1000 (seribu) Orang First Come First Sign in) MEETING ID: 9899872298
Pendaftaran Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dan Memorandum of Agreement (MoA) di bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia dan online learning (webinar) dengan UMK Malaysia (untuk Rektor/Ketua/Direktur/Dekan/Ketua Program Studi/Ketua/Unit/Lembaga/kepala sekolah/madrasah/pondok pesantren/pimpinan lembaga pendidikan/non-pendidikan). Daftar MoU/MoA Daring (sign in terlebih dahulu melalui gmail.com): Klik link berikut: https://bit.ly/sign-mou
(Password akan dikirimkan melalui email peserta sehari sebelum acara dimulai serta diumumkan 30 menit sebelum acara dimulai di Facebook OIA UNISMA Malang)
Free untuk Umum
Apabila Peserta memerlukan E-Certificate. Peserta Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu sebelum mengisi Formulir Melalui Link Berikut: https://bit.ly/umk99
*Bukti Kehadiran dengan mencantumkan nama di komentar chat live streaming facebook OIA UNISMA Malang atau di bukti kehadiran pada zoom meeting.
Hari, Tanggal: Selasa, 9 Juni 2020
Waktu: Pukul 13.00-14.30 Waktu Indonesia (WIB)
Waktu: Pukul 14.00-15.30 Waktu Malaysia
Narasumber:
1. Prof. Dato’ Ts. Dr. Noor Azizi bin Ismail (Rektor University Malaysia Kelantan, Malaysia)
2. Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si (Rektor UNISMA Malang; Ketua Forum Rektor Perguruan Tinggi NU)
3. Prof. Dr. Mohd Rafi Bin Yacoob (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama University Malaysia Kelantan, Malaysia)
4. Prof. Junaidi, M.Pd., Ph.D(Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama UNISMA Malang)
Host:Dr. Imam Wahyudi Karimullah, MA (Kepala Kantor Urusan Internasional UNISMA Malang)
Kegiatan ini bersifat gratis/tidak dipungut biaya dan ditayangkan secara langsung (Live Streaming) melalui:
E-Certificate by Request: Pemesanan Pembuatan E-Sertifikat Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu sebelum mengisi formulir melalui link berikut: https://bit.ly/umk99
Peserta Yang Memerlukan E-Sertifikat dikenakan Biaya Pembuatan E-Sertifikat. Biaya sertifikat untuk siswa/mahasiswa adalah Rp. 10.000/orang/sertifikat. Biaya Pembuatan Sertifikat untuk guru/dosen/pegawai (non-mahasiswa) adalah Rp. 25.000/orang/sertifikat. Pada Sertifikat akan dicantumkan nama lengkap beserta gelar berdasarkan input data dari online form yang diisin oleh peserta. Pemesanan E-sertifikat:https://bit.ly/umk99
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-Image-2020-06-03-at-10.30.40-PM.jpeg1122793OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-03 23:26:022020-06-03 23:30:20Gratis Untuk Umum Internasional Webinar (E-Certificate by Request). Dilanjutkan Pendaftaran Tanda Tangan MoU/MoA Daring antara University Malaysia Kelantan (UMK) dan Lembaga Pendidikan/Non-Pendidikan di Indonesia (Selasa, 9 Juni 2020 pukul 13.00-14.30 WIB)
Teachers do the right thing. They are diligent, persistent, hospitable, idealistic, strong and patient. They are also honest, sincere and kind to others. They are wise, reasonable and knowledgeable – His Majesty King Bhumibol Adulyadej, Raja Thailand (1980:23)
Kala itu.
Udara pagi merasuk ke dalam apartement saya. Rasanya hari ini tidak seperti biasa. Senang dan bahagia yang lebih daripada hari biasa. Saya siap membagi kesenangan tersebut dan bergegas menyiapkan diri untuk ke kampus mengikuti sebuah upacara yang saya nanti-nanti. Upacara spesial yang mana guru dan mahasiswa baru sangat tunggu.
Tepat pukul sembilan pagi, upacara dimulai. Hawa sakral dan kidmat menyelimuti aula pertemuan universitas. Cat putih tembok aula seakan mendukung suasana kala itu. Suci dan murni. Setiap kelompok mahasiswa baru dengan pakaian senada warna putih dengan bawahan hitam tiap-tiap jurusan berkumpul di aula yang luas tersebut. Rektor, pimpinan universitas, guru dan tak lupa pegawai universitas menyambut mahasiswa baru dengan senyum terbaik penuh dengan aura keteduhan. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka. Mereka kemudian berdiri dan salah satu mahasiswa memimpin memanjatkan doa.
Alunan lagu menderu mendayu mengisi ruangan kala itu. Lagu ‘Wai Khrun’ yang menceritakan tentang pentingnya guru dalam kehidupan. Tanpa tahu arti di tiap liriknya, lagu tersebut nyatanya telah berhasil membuat saya merinding dan terharu. Sungguh syahdu.
Saat itu, saya duduk di kursi barisan kedua bersama dengan para rector, pimpinan universitas, dan guru. Kami duduk di atas panggung, sebuah posisi yang lebih tinggi daripada tempat duduk para mahasiswa. Karpet berwarna merah menyala menajdi saksi apa yang terjadi di atas panggung kala itu. Satu persatu siswa dari tiap-tiap kelompok berjalan ke atas panggung. Tiap-tiap mahasiswa membawa rangkaian bunga indah di tanganya senada dengan senyum yang mengisi setiap wajah yang hadir dalam upacara waktu itu. Tapi, ada satu rangkaian bunga dalam barisan tersebut yang menjulang tinggi karena berukuran lebih besar dibandingkan rangkaian bunga yang lain. Sangat menyenangkan menikmati upacara ini.
Sampainya di bibir panggung, ada hal yang menarik yang saya amati. Tiap-tiap siswa berjalan dengan lutut mereka pada posisi yang lebih rendah daripada mereka yang duduk di atas panggung hingga membentuk barisan rapi di depan guru mereka. Seakan dalam satu aba-aba, barisan tersebut duduk berlutut rapi tanpa cela dengan kepala tertuntuk kidmat di hadapan kami.
Mata saya tetap tertuju pada apa yang siswa lakukan kala itu. Bersama-sama rangkaian bunga yang siswa bawa dihanturkan kepada kami. Semua seperti dalam satu komando. Kemudian, barisan rapi siswa melakukan posisi sujud yang membuat posisi mereka sejajar dengan kaki kami. Mereka meletakkan kepala dan badan mereka membungkuk lurus ke tanah. Ternyata, ini adalah simbol transfer ilmu dari guru kepada siswa. Sebuah budaya dari Thailand sebagai cara untuk menunjukkan rasa hormat. Layaknya ujaran kalimat dari siswa yang mengaku, ‘Kami siswa tidak pernah “lebih tinggi” daripada guru’. Hati saya berdegup kencang mendapatkan perlakuan demikian.
Setelah itu, siswa bangkit dari sujud mereka tapi masih dalam posisi duduk bersimpuh dihadapan kami. Kami mengencangkan dasi (bagi laki-laki) atau memasang pin lambang sekolah (bagi perempuan) sambil teriring doa agar kesuksesan, keberuntungan, dan keberhasilan selalu bersama mereka baik selama mereka belajar di universitas maupun kelak di masa depan.
Panggung kala itu seperti sebuah taman. Bunga-bunga yang sangat cantik mewarna menghiasi panggung kami. Bunga-bunga tersebut memiliki makna yang dalam. Rangkaian bunga melambangkan kecerdasan yang tajam, tekad dan kemampuan untuk belajar, kedisiplinan serta penghormatan terhadap guru dan kerendahan hati. Rangkaian itu merupakan simbol rangkaian doa para siswa.
Upacara pagi itu ditutup dengan sesi foto bersama hadirin yang ada di aula pertemuan waktu itu. Kenangan ini selalu bersama saya selamanya. Bagi saya mengajar di negara gajah putih ini merupakan salah satu pengalaman dalam hidup terutama pengalaman baru. Tentang bagaimana hormat-menghormati antara guru dan siswanya sangat dijunjung tinggi. Sebuah penghormatan kepada guru yang tiada tara menurut saya.
Terkadang saat saya mengajar bertemu dengan mahasiswa dengan berbagai karakter dan latar belakang yang beragam membuat rasa sabar dalam diri teruji. Akan tetapi, sapa senyum dan terima kasih yang mereka ucapkan membuat saya teringat pengalaman saya ketika upacara Wai Khrun dan membawa saya menepis rasa yang kurang pantas dalam diri dan membesarkan diri. Apakah saya sudah benar-benar menjadi guru yang terbaik untuk mahasiswa saya. Apakah saya sudah menjadi teladan yang baik buat mereka. Apakah saya pantas menerima penghormatan yang sedimikian rupa. Ragam pertanyaan yang selalu saya tanyakan dalam diri guna melecut diri ini untuk selalu memberikan yang terbaik untuk mahasiswa saya.
Itulah sepenggal kisah perjalanan mengajar saya di Rajamangala University of Technology Krungtep (UTK), Bangkok, Thailand. Secuil kisah tersebut menggambarkan betapa ‘Wai’ (dalam Bahasa Thai artinya menyapa) dimaknai lebih daripada sekadar menyapa, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada guru. Selain terkenal akan keelokan negarannya, tak heran jika Thailand juga populer sebagai salah satu negara yang sangat menghormati guru.
Siswa sedang memberikan penghormatan kepada guru (dok. pribadi penulis)
Guru sedang mengaitkan dasi ke siswa seraya berdoa untuk mereka (dok. pribadi penulis) Rangkaian bunga untuk upacara Wai Khru (dok. pribadi penulis) Foto bersama rektor dan pimpinan universitas dengan latar belakang mahasiswa baru yang sedang mengikuti upacara Wai Khru (dok. pribadi penulis)Foto bersama guru (dok. pribadi penulis)
Penulis Elva Riezky Maharani, M.Pd. adalah Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Ketua Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) Universitas Islam Malang (UNISMA Malang) serta Pengajar BIPA Program PPSDK di Rajamangala University of Technology Krungthep Bangkok.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-Image-2020-06-03-at-10.44.07-AM.jpeg851851OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-03 10:49:422020-06-03 11:35:01Wai Khru: Secuil Cerita dari Negeri Gajah Putih Oleh Elva Riezky Maharany Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA Malang, Pengajar BIPA Program PPSDK di Rajamangala University of Technology Krungthep Bangkok
Menjadi salah satu delegasi mahasiswa pertukaran pelajar dalam program Transfer Kredit Luar Negeri 2019 yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti di National Dong Hwa University, Taiwan merupakan pencapaian terbaik dalam hidup saya. Terlepas dari semua perjuangan dari proses seleksi hingga menyelesaikan semua persyaratan saat pra-keberangkatan, semuanya terbayar tuntas saat saya akhirnya memijakkan kaki dan melanjutkan studi selama satu semester di Negara yang memiliki julukan The Heart of Asia, The Country of Asus, sekaligus The Country of Boba. Saya amat bersyukur dapat menghabiskan masa satu semester kuliah ini ditemani panasnya summer dan dinginnya winter selama di Taiwan.
National Dong Hwa University (NDHU) terletak di Kota Hualien, yang dapat ditempuh sekitar 2-3 jam dari Kota Taipei, merupakan kampus top-10 di Taiwan dengan luas kampus lebih dari 300 hektar. Awalnya tak mudah bagi saya bisa melakukan aktifitas sehari hari selama kuliah di kampus yang dinobatkan sebagai salah satu kampus terluas di Taiwan ini. Karena jarak dari pintu depan ke pintu belakang kampus saja dapat ditempuh 7-10 menit menggunakan motor. Bersyukur saya dapat tinggal di dormitory 5 di kampus ini walaupun jarak dari dorm ke gedung fakultas tetap jauh, hampir 1 kilometer. Saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di College of Humanities and Social Sciences atau biasa disebut Fakultas Sosial dan Humaniora lebih spesifiknya di Department of English selama Fall Semester di kampus ini.
Minggu pertama selama masa perkuliahan ternyata tidak semudah yang saya lihat di vlog para mahasiswa international yang mereka unggah di YouTube. Belum usai berkelut dengan cross culture dan language barrier, sistem akademik pun seakan akan terasa momok tersulit di minggu pertama selama kuliah. Mulai dari sistem course selection atau yang kita kenal dengan KRS, pemilihan mata kuliah yang tepat dan sesuai dengan jurusan kita di home university, izin dari beberapa professor (karena tidak semua dosen mau mengajar full berbahasa inggris), dan mewajibkan mahasiswa nternasional untuk mengambil mata kuliah Fundamental Chinese atau Bahasa Mandarin Dasar.
Dilema bagi saya karena harus segera memilih mata kuliah yang sesuai dengan jurusan namun juga harus bisa saya pastikan untuk mendapat nilai memuaskan selama melaksanakan proses perkuliahan. Menjadi mahasiswa pertukaran pelajar bukan hanya tentang jalan-jalan diluar negeri saja, namun beban moral untuk pulang kembali ke Indonesia membawa GPA yang baik agar membanggakan kampus dan keluarga juga merupakan kemelut yang selalu terngiang di kepala selama saya menghabiskan masa studi disana. Saat dinyatakan terpilih sebagai salah satu mahasiswa yang akan melaksanakan program transfer kredit ini, saat itu pula saya harus bersiap sebaik mungkin agar menjadi jembatan kerjasama yang baik antara NDHU dan UNISMA serta menjaga nama baik negara saya, Indonesia.
Minggu pertama perkuliahan saya habiskan untuk membangun komunikasi yang baik antara OIA UNISMA dan NDHU, Fakultas UNISMA dan NDHU, maupun senior PPI di NDHU agar bisa membantu untuk menyelesaikan proses administrasi perkuliahan, rekomendasi mata kuliah yang dapat saya ambil, hingga rekomendasi professor yang mana yang kiranya mau menerima saya sebagai mahasiswa internasional satu satunya di dalam kelas. Ditolak oleh empat professor sempat meruntuhkan hati saya pada saat itu. Lalu apakah saya menyerah saat itu juga dan memutuskan untuk pulang saja ke Indonesia? Tidak. Saya menghabiskan satu hari full hanya bermodal smartphone yang berisi lengkap soft file berkas penting untuk lanjut berkomunikasi dengan professor lain. Dan keesokan harinya bermula dari satu dosen yang mengACC request saya melalui surel, hingga bertambah menjadi tiga hingga enam dosen akhirnya menerima saya untuk bergabung dan mengikuti proses perkuliahan selama satu semester.
Menghabiskan masa belajar selama satu semester rasanya akan sangat membosankan dan tidak asik jika hanya dihabiskan dengan kegiatan belajar, tidur, dan kuliah saja. Jiwa aktifis dan volunteer di dalam diri saya sangat meronta ronta seakan akan di minggu ketiga inilah saatnya saya mulai mencari kegiatan diluar perkuliahan. Bermula dari aktif mengikuti kegiatan PPI NDHU saat acara Cultural Night, hingga kegiatan volunteering dalam acara Taiwan International Cooperation Alliance, TICA CUP oleh ICDF 2019 yang diikuti oleh mahasiswa international dari seluruh universitas di Taiwan, dan kebetulan sekali tuan rumah acara tahunan ini adalah NDHU. Seleksi administrasi dan wawancarapun saya lewati hingga akhirnya saya bisa mengerahkan kemampuan leadership dan communication skill pada hari H pelaksanaan acara ini. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dalam acara besar ini karena dengan begitu saya bisa memperluas international networking dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia.
Tidak hanya kegiatan sosial yang saya ikuti selama menyelesaikan studi di NDHU. Kegiatan spiritual seperti mengikuti kajian setiap kamis malam, sholat berjamaah dzuhur ashar dan maghrib, hingga membantu menyiapkan acara makan bersama yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan atau disingkat FORMMIT NDHU pun saya ikuti dengan rutin. Menjadi muslim sebagai kaum minoritas di Taiwan memanglah tidak mudah, namun dengan berbekal jiwa Aswaja yang diajarkan selama saya kuliah di UNISMA tetap saya genggam erat agar senantiasa dapat berbaur secara harmoni dan penuh toleransi dengan sesama. Hidup di negara yang mayoritas mengkonsumsi daging babi merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sangat susah sekali rasanya untuk menemukan ragam makanan halal di toko, pasar, maupun supermarket. Terkadang harus menunggu pedagang muslim yang menjual makanan dan daging halal dari MUI selama dua minggu satukali. Selebihnya harus mampu menjadi vegetarian selama satu semester disana.
Penulis Oleh Putri Putri Saniatul Iklima adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISMA Malang Peserta Credit Transfer ke National Dong Hwa University, Taiwan.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Webp.net-resizeimage-10.jpg4611000OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-03 10:18:172020-06-03 10:18:23Credit Transfer ke Taiwan, Siapa Takut? Oleh Putri Saniatul Iklima Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UNISMA Malang
Ada pepatah mengatakan “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, hal ini mendorong tim dosen dari Fakultas Kedokteran UNISMA untuk belajar pengobatan tradisional ke negeri tirai bambu yang terkenal seantero dunia dengan Traditional Chinese Medicine (TCM) nya. Kebetulan pula, Fakultas Kedokteran UNISMA memiliki visi dan misi pengembangan Keanekaragaman hayati untuk penunjang pengobatan, hal ini yang menjadi alasan kuat bagi kami untuk memilih topik pengobatan tradisional di Cina. Selain untuk menambah wawasan keilmuan sebagai pengajar, kami juga ingin membandingkan pengobatan tradisional di Indonesia. Kami berangkat ke negara yang terkenal dengan ikon Beruang Panda ini, sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan Non Degree Training Overseas (NDTO) melalui program hibah HAPEQ Fakultas Kedokteran UNISMA yang didanai Kemenristek Dikti tahun anggaran 2013. Penulis memutuskan Guang’anmen Hospital China Academy of Chinese MedicalScience di Beijing, China, sebagai tempat NDTO berdasarkan referensi dari rekan Kemenkes dan reputasi dari institusi ini yang sudah tidak diragukan lagi. Terbukti hingga saat ini masih terbina networking yang baik dan saling menguntungkan antara keduabelah pihak. Bahkan, setiap tahun mereka mengundang kami untuk menghadiri kegiatan ilmiah yang diselenggarakan di sana.
Kegiatan Non Degree Training di Guan’anmen Hospital
Setelah melakukan korespondensi via email dan memperoleh Letter of Acceptance (LOA) dari host institution, kami bertiga, penulis, dr. HRM Hardadi Airlangga, Sp.PD dan dr. Hj. Farida Rusnianah, MARS, berangkat untuk berguru tentang Pengobatan Tradisional di Negeri Cina. Saat kami tiba pada awal maret 2014, di kota Beijing sedang end winter dengan kisaran suhu 5-10°C. Cuaca dingin tersebut tidak menyurutkan niat kami untuk belajar selama satu minggu di ibu kota negara Cina ini. Setelah diawali acara perkenalan dengan host institution coordinator yaitu Dr. Cui yongqiang, Ms. Bing Zhou dan Ms. Nanjihong, pada hari pertama kami diberikan materi pembelajaran teori TCM yaitu herbal medicines, accupuncture, chinese massage (tuina). Kemudian dilanjutkan berdiskusi dan tukar pengalaman dengan supervisor tentang traditional medicines di negara masing-masing. Pada penyampaian topik herbal medicines, ada bantuan penterjemah karena narasumber kurang menguasai Bahasa Inggris tapi hal ini tidak mempengaruhi pehamaan materi yang disampaikan.
Setelah mendapatkan dasar teori pada hari sebelumnya, pada hari kedua dan ketiga dilanjutkan dengan clinical session yaitu melakukan observasi penggunaan Traditional Chinese Medicines pada pasien di rumah sakit “Guang’anmen hospital” dibawah bimbingan supervisor. Pada kegiatan observasi kita mendapatkan pengalaman dari supervisor untuk melakukan diagnosa dan terapi dengan menggunakan metode herbs medicine, acupuncture dan chinese massage (tuina). Guang’anmen hospital ini memiliki jenis pelayanan kesehatan dengan 28 departemen klinik yang didukung 350 dokter, setiap hari hampir ada 9000 kunjungan pasien rawat jalan dan sekitar 80 % hanya mendapatkan terapi TCM. Sementara 650 pasien rawat inap mendapatkan terapi integrative yaitu mengkombinasi pengobatan konvensional (obat sintetik kimiawi) dan pengobatan alternative (herbal, acupuncture dan tuina) untuk optimalisasi terapi. Kegiatan clinical session ditutup diskusi dengan supervisor dari hasil kegiatan observasi kasus pasien di rumah sakit.
Ward Visite untuk terapi herbal per topical bersama Prof. Liu
Hari keempat, kegiatan field trip diawali dengan kunjungan ke “Tasly” industri obat tradisional china di kota Nanjing yang berjarak 100 km dari Beijing. Kami bersama supervisor naik bullet train (kereta super cepat China) dengan kecepatan 277 km per jam, tidak lama kami pun tiba di kota Nanjing. Kegiatan pembuatan obat traditional di industry obat tradisional “Tasly” telah menerapkan prinsip Good Agriculture Practice (GAP), Good Extraction Practice (GEP), Good Manufacturing Practice (GMP), Good Clinical Practice (GCP), Good Laboratory Practice (GLP) dan Good Supply Practice (GSP). Hal ini dilakukan untuk mendapatkan produk Obat Tradisional yang bermutu. Produk yang dihasilkan antara lain suplemen makanan, makanan dan minuman fungsional, kosmetika, perbekalan kesehatan rumah tangga dan produk perlindungan lingkungan.
Field Study di “Tasly Pharmaceutical Industries” di Nanjing
Hari ke lima, field trip kedua mengunjungi “Beijing Massage Hospital” (BMH) yaitu salah satu rumah sakit swasta di Beijing yang menyediakan pelayanan rawat jalan dan rawat inap dengan kekhususan herbs medicine, acupuncture dan chinese massage. Pasien yang datang berobat ke BMH diperiksa oleh seorang dokter umum kemudian dokter akan memberikan alternatif terapi sesuai kebutuhan pasien. BMH juga menyediakan pelayanan terapi Fumigation, Short & Microwave, Sinar laser dan Electrotheraphy. Di Cina, pengobatan konvensional dan TCM berjalan serta berkembang beriringan dan keduanya di cover pembiayaannya oleh Pemerintah melalui asuransi kesehatan. Hal ini berbeda dengan di negara kita, pengobatan menggunakan herbal tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan terkait alasan yang kompleks seperti pemahaman dokter tentang terapi herbal yang masih kurang, standarisasi dan uji klinik obat herbal yang masih sangat terbatas serta minimnya evidence base medicine untukterapi herbal sehingga pengobatan tradisonal seperti herbal belum diterima sepenuhnya oleh klinisi di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjadikan “Jamu” menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. Selanjutnya pada hari ke enam kami melakukan reporting atau pembuatan laporan kegiatan NDTO ini dan penyerahan cindera mata kepada host institution.
Pemberian tali asih dan cindera mataHost Institution
Penulis Dr. H. Yudi Purnomo, S.Si., M.Kes., Apt., adalah Ketua Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Malang (UNISMA Malang).
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
https://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Gambar-5.jpg677903OIA UNISMA Malanghttps://oia.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2024/10/Logo-KUI-2024-footer-300x77.pngOIA UNISMA Malang2020-06-03 10:04:582020-06-03 10:05:02Berguru Pengobatan Tradisional ke Negeri Tirai Bambu Oleh Dr. H. Yudi Purnomo, S.Si., M.Kes., Apt., Ketua Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran UNISMA Malang