Uzbekistan, Negeri Empat Musim dengan Cuaca Ekstrem oleh Prayitno Tri Laksono Dosen FKIP UNISMA Malang dan Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan

Uzbekistan adalah salah satu negara di dunia khususnya di wilayah Asia Tengah yang memiliki empat musim.

Tidak banyak informasi tentang negara ini di dunia maya, termasuk informasi tentang musim yang ada di sana. Mungkin karena terlalu tertutupnya di masa lalu, banyak orang asing yang sulit dan tidak mudah untuk masuk ke negara ini walaupun hanya untuk tujuan berwisata. Layaknya saya, sebelum mulai bertugas di Uzbekistan dari Agustus 2017, saya pun tidak banyak tahu menahu tentang negara ini.

Ketika mendapat kabar bahwa saya harus mengemban tugas lagi dari PPSDK ke Uzbekistan di tahun 2017 lalu, saya langsung mencari tahu segala informasi tentang negara ini. Satu-satunya informasi yang paling sering dibahas di dunia maya tentang Uzbekistan adalah keberadaan kompleks makam Imam Al-Bukhari di Kota Samarkand, 4 jam dari Ibu Kota Tashkent. Selain itu, tidak banyak yang diinformasikan oleh masyarakat di dunia maya. Termasuk informasi mengenai musim dan cuaca di Uzbekistan, saya berpikir negara ini akan sama dengan negara-negara di Timur Tengah lainnya, hanya ada musim panas dan gersang.

Sebelum saya mendalami informasi lebih lanjut mengenai musim di sini, saya masih merasa bingung dengan wilayah teritorial Uzbekistan.

Banyak yang bilang bahwa Uzbekistan adalah bagian dari wilayah Eropa Timur, tetapi juga tidak sedikit orang yang bilang bahwa negara ini adalah wilayah dari Asia Tengah. Saya bisa meyakinkan diri bahwa Uzbekisan adalah bagian dari wilayah Asia Tengah, setelah saya datang di sini dan bertanya langsung kepada penduduk asli. Jadi, sebelum dan saat akan saya berangkat ke Uzbekistan, saya masih ragu tentang wilayah teritorial negara ini ada di mana.

Karena saya bertugas selama satu tahun di Uzbekistan, saya harus meyiapkan informasi banyak mengenai musim dan cuaca di sini. Ternyata, Uzbekistan memiliki empat musim berbeda seperti di Jepang dan Korea. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman saya tinggal selama setahun di sini, saya bisa menyimpulkan cuaca di Uzbekistan dibagi menjadi dua saja, yaitu 7 bulan bercuaca dingin dan 5 bulan bercuaca sedang hingga sangat panas.

Pertama kali datang ke Uzbekistan saya langsung disambut dengan cuaca panas karena masih masuk di akhir musim panas dan awal musim gugur. Suhu saat itu bisa mencapai 35—38°C. Musim panas berakhir di akhir September dengan ditandai dengan suhu saat itu langsung turun drastis sekitar 10—15°C. Padahal, sehari sebelumnya suhu masih di atas 25–30°C. Hal ini yang membuat ketahanan tubuh saya juga langsung mengalami gangguan alias sakit.

Awal gugur pun, suhu di Uzbekistan masih belum stabil. Dalam satu hari bisa terjadi cuaca dingin sekali saat pagi hari, kemudian meloncak panas di siang hari, dan turun hujan deras di sore hingga malam hari. Suhu rerata selama musim gugur dari September hingga Desember awal adalah 9–13°C saja. Bagi orang Indonesia seperti saya yang terbiasa dengan iklim tropis, hal ini menyebabkan ketidaknyamanan dan mudah sakit karena tubuh harus beradaptasi dengan cuaca yang ekstrem.

Sempat, dua bulan pertama saat memasuki cuaca dingin, saya mengalami alergi kulit yang parah dan berlangsung selama 3 bulan.

Hampir di seluruh badan terdapat bintik merah dan gatal sekali hingga pada akhirnya harus diobati dengan cara injeksi selama 10 hari di klinik kampus. Pengalaman ini luar biasa berkesan sekaligus sempat membuat saya berputus asa dengan cuaca ekstrem di Uzbekistan. Saat itu saya sudah ingin pulang saja karena tidak bisa menikmati hidup dengan cuaca yang sangat ekstrem di Uzbekistan dengan suhu yang begitu dingin. Akan tetapi, masalah alergi suhu dingin akhirnya teratasi dan semunya berjalan normal setelah 3 bulan dilalui.

Setelah musim gugur usai, pada awal Desember tepat di tanggal 1 Desember saat itu turun hujan salju sangat lebat. Inilah pengalaman terindah dan takkan pernah terlupakan dalam hidup saya. Pertama kali saya melihat dan menyentuh salju adalah di sini, saat musim dingin tahun lalu. Sebelumnya saya tidak pernah berpikir bahwa di Uzbekistan akan turun salju sederas dan seindah ini. Banyak sekali tempat-tempat di sudut kampus maupun di kota yang terselimuti oleh salju dan terlihat cantik sekali. Namun, lagi-lagi suhu turun drastis ke angka -7°C saat pertama kali turun salju.

Musim dingin di Uzbekistan ternyata lebih lama jika dibandingkan dengan nagara lain di Asia Timur. Suhunya pun lebih ekstrem bisa mencapai -17°C saat bulan Februari lalu. Setelah musim salju berlalu, tibalah musim yang paling dinanti oleh semua masyarakat Uzbekistan, yaitu musim semi. Banyak orang mengidolakan musim ini karena begitu banyak bunga-bunga bermekaran, daun-daun muda bertumbuhan, dan buah-buah segar mulai bermunculan. Musim semi di sini berlangsung dari Maret hinga Mei saja. Namun, selama musim semi ternyata suhu masih dingin, belum hangat. Suhu rata-rata saat musim semi masih pada kisaran 8—14°C saja. 

Bunga-bunga dari pohon aprikot, chery, dan lainnya bermekaran selama seminggu hingga dua mingguan saja. Momen inilah yang juga saya nanti setelah sekian bulan mengalami musim salju dan beku. Harga buah saat musim semi jauh lebih murah dibandingan dengan harga buah di Indonesia. Contohnya, harga sekilo strawberry di sini hanya sekitar Rp 8.000 saja. Itu pun jenis strawberry yang paling bagus dan besar. Jadi, musim terindah dan terfavorit bagi saya selama tinggal di Uzbekistan adalah musim semi.

  1. Penulis Prayitno Tri Laksono, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNISMA Malang, Pengajar BIPA PPSDK di Uzbekistan State World Languages University
  2. Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  3. Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  4. Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  5. Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Webinar Info Session untuk Umum (Free E-Certificate by Request) “Beasiswa S1 dan S2 di Taiwan” Keynote Speaker: Ibu Primasari Wardhani, M.Sc., Manager, Indonesia Taiwan Education Center (TECSID) in Surabaya. Rabu 20 Januari 2021 Pukul 13.00 – 14.45 WIB

Gratis untuk Umum (Free E-Certificate by Request) Keynote Speaker: Ibu Primasari Wardhani, M.Sc. Manager, Indonesia Taiwan Education Center (TECSID) in Surabaya. Rabu 20 Januari 2021 Pukul 13.00 – 14.45 WIB.

Tema: “Beasiswa S1 dan S2 di Taiwan”

Live from:
Zoom Meeting ID: 5527342948
Passcode: UNISMA

https://us02web.zoom.us/j/5527342948?pwd=bmsxdVZCa2NUWWlVUk41RDBsZm1FUT09
Youtube: Humas UNISMA Official

Gratis untuk Umum
Request Free E-Certificate:
http://bit.ly/3oFzBaW

Free untuk Umum

*Bukti Kehadiran dengan mencantumkan nama di komentar chat Zoom atau di kolom komentar melalui YoTube Humas UNISMA Official

Hari dan Tanggal: Rabu, 20 Januari 2021

Waktu: Pukul 13.00-14.45 WIB

Welcoming Speech:

Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si (Rektor UNISMA Malang; Ketua Forum Rektor Perguruan Tinggi NU)

Keynote Speaker:

Ibu Primasari Wardhani, M.Sc (Manager Indonesia Taiwan Education Center (TECSID) in Surabaya)

Host: 

Dr. Imam Wahyudi Karimullah, MA (Kepala Kantor Urusan Internasional UNISMA Malang)

Kegiatan ini bersifat gratis / tidak dipungut biaya dan ditayangkan secara langsung melalui Zoom Meeting Zoom Meeting ID: 5527342948 Passcode: UNISMA dan (Live streaming) Youtube: Humas UNISMA Official

Gratis E-Certificate by Request: Pemesanan Pembuatan E-Sertifikat Wajib Log in Ke Gmail terlebih dahulu sebelum mengisi formulir melalui link: http://bit.ly/3oFzBaW

Ayo Kuliah di UNISMA Malang!

UNISMA Malang:

  • Dari NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia
  • Terakreditasi BAN-PT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  • Memiliki mahasiswa, mitra, dan alumni dari 33 negara, seluruh wilayah Indonesia, dan dari berbagai suku dan agama.
  • Menerima Penghargaan the Best Performing University of the Year
  • Peringkat Nomor 1 Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama se-Indonesia dari Total lebih dari 250 Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama di Indonesia
  • 10 kampus terbaik di Jawa Timur dari lebih dari 300 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Jawa Timur
  • Ditunjuk Kemenristek RI sebagai Lembaga Penelitian Klaster Utama, dengan anggaran penelitian Rp. 15 miliar per tahun.
  • Peringkat 44 Perguruan Tinggi Terbaik Se-Indonesia dari Total 4.670 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia

Mari bergabung bersama kami di UNISMA Malang! http://pmb.unisma.ac.id/

Pilihan Program Studi di UNISMA Malang: http://pmb.unisma.ac.id/

  • Prodi Administrasi Bisnis
  • Prodi Administrasi Publik
  • Prodi Agribisnis
  • Prodi Agroteknologi
  • Prodi Ahwal Al Syakhsyiyah
  • Prodi Akuntansi
  • Prodi Biologi
  • Prodi Farmasi
  • Prodi Ilmu Hukum
  • Prodi Ilmu Peternakan
  • Prodi Manajemen
  • Prodi Pendidikan Agama
  • Prodi Pendidikan Bahasa Arab
  • Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
  • Prodi Pendidikan Dokter
  • Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI)
  • Prodi Pendidikan Guru Roudlotul Athfal (PGRA)
  • Prodi Pendidikan Matematika
  • Prodi Perbankan Syari’ah
  • Prodi Teknik Elektro
  • Prodi Teknik Mesin
  • Prodi Teknik Sipil
  • Profesi Dokter
  • Magister Pendidikan Agama Islam
  • Magister Hukum Keluarga Islam
  • Magister Manajemen
  • Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
  • Magister Pendidikan Bahasa Inggris
  • Magister Ilmu Administrasi
  • Magister Kenotariatan
  • Magister Peternakan
  • Program Doktor Pendidikan Islam Multikultural

Belajar Bahasa Rusia dan Mimpi Studi Lanjut ke Luar Negeri oleh Ima Kumalasari, Mahasiswi Program Studi Administrasi Publik, FIA UNISMA Malang Peserta Program Kredit Transfer Internasional

Program Kredit Transfer Internasional 2020 ini sangat bermanfaat untuk saya pribadi maupun fakultas saya. Saya bisa merasakan bagaimana sistem perkuliahan di Moscow University, Samarra, Russia. Pengalaman yang sangat berharga untuk saya bisa menyesuaikan diri dengan perkuliahan di Luar Negeri, selain itu juga menambah relasi kerja sama antara fakultas dengan Universitas di Russia. Saya dan teman-teman mempelajari bagaimana budaya Russia yang berkembang disana jika dibandingkan dengan Indonesia tentu budaya kita memiliki keunikannya tersendiri. Terlepas dari hal tersebut Bahasa Russia yang kami pelajari juga sangat menarik, karena dalam mata kuliah tersebut kita diajarkan mulai dari awal bagaimana Bahasa Russia yang terkenal susah dipelajari akhirnya membuat saya bisa membaca tulisan Russia.

Selain itu menariknya lagi, Bahasa Russia memiliki tingkatan yang berbeda bagaimana menyebut benda dikategorikan laki-laki dan perempuan, kemudian bagaimana penekanan bunyi pada kalimat dengan Bahasa Russia dapat membuat kalimat tersebut menjadi tiga arti yang berbeda dengan kalimat  yang sama. Tentunya sangat menarik, Sopan santun dalam berbahasa juga sangat ditonjolkan dalam Bahasa Russia, contoh pada kata здрастуйте (Zdrastuitye) yang berarti Halo digunakan untuk menyapa orang yang lebih tua (Sebagai bentuk kata yang formal dan sopan), sama halnya dengan Bahasa jawa yang memiliki beberapa tingkatan kesopanan dalam berbicara, kemudian Bahasa Russia Privyet yang berarti halo digunakan untuk menyapa antara sesama teman yang sebaya.

Tidak hanya itu interaksi antara kami mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Russia juga terjalain dengan baik, hingga saat ini saya berteman baik dan berkomunikasi aktif dengan teman-teman baru saya dari Russia. Dosen dan Proffesor di sana juga sangat baik dan sejauh ini saya tidak merasakan ada kendala dari Bahasa yang kami gunakan. Pengalaman tersebut sangat berarti untuk saya, juga semakin membulatkan tekad saya untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang selanjutnya ke Perguruan Tinggi di Luar Negeri. Terimakasih Kantor Urusan Internasional UNISMA Malang, Terimakasih Universitas Islam Malang dan Terimakasih Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas kesempatan bagi saya mengenyam pendidikan di Luar Negeri sebagai dasar bagi saya untuk meneruskan pendidikan saya.

  • Penulis Ima Kumalasari, Mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi, Program Studi Administrasi Publik, Peserta Program Kredit Transfer Luar Negeri Moscow Citiy University, Samara Rusia.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Lessons Learned Program Kredit Transfer Internasional di Rusia oleh Frida Alifah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNISMA Malang

Menjadi bagian dari peserta Kredit Transfer Internasional ke Moscow City University Samara – Rusia  merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya setelah melewati beberapa tahapan – tahapannya. Banyak hal – hal baru yang dapat saya petik dari kegiatan ini. Terlebih, saya tidak perlu khawatir lagi dengan biaya kuliah di luar negeri yang terbilang mahal karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan Universitas Islam Malang memberi dana hibah untuk menunjang kegiatan belajar secara daring kepada mahasiswa/i yang mengikuti program Kredit Transfer Internasional ini.

Sekitar kurang lebih 5 bulan berjalan, pelaksanaan program Kredit Transfer Internasional berjalan sangat lancar. Di awali dengan proses seleksi yang sangat menantang hingga akhirnya terpilih 7 orang mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Islam Malang yang berkesempatan untuk melaksanakan program Kredit Transfer Internasional ke Moscow City University Samara – Rusia. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, program Kredit Transfer Internasional dilaksanakan secara online atau dalam jaringan. Meski begitu, kegiatan perkuliahan berjalan sangat efektif. Dalam proses perkuliahan, pihak Moscow City University – Samara Branch, Prof. Elchin, menetapkan untuk menggunakan aplikasi Microsoft Teams. Hal ini tentu sangat menarik karena saya dapat belajar apa yang sebelumnya tidak saya ketatahui. Selain itu, saya memperoleh banyak manfaat dari program Kredit Transfer Internasional dan kegiatan selama perkuliahan:

  • Belajar bahasa Rusia

Ketika mengikuti perkuliahan di luar negeri, minimal harus mengetahui beberapa kosakata dasar dan kalimat dasar dalam bahasa negara tujuan. Pada perkuliahan Basic Russian Language setiap minggunya, setiap mahasiswa dari Indonesia dilatih sedikit demi sedikit kosakata dan pelafalan dalam bahasa Rusia.

  • Belajar tentang budaya Rusia

Dalam mata kuliah Interference in Language and Culture, saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang budaya-budaya di Rusia hingga cerita sejarah dari Rusia.

  • Mendapatkan relasi

Dosen dan mahasiswa dari Moscow City University menyambut kami sangat baik. Hingga akhirnya, seringkali saya melakukan komunikasi diluar jam kelas untuk sekedar berbagi pengalaman, pengetahuan dan cerita menarik dari daerah masing-masing.

Di sisi lain, terdapat beberapa perbedaan yang kontras yang saya rasakan antara perkuliahan di Rusia dan Indonesia. Contohnya:

  • Perbedaan budaya

Universitas Islam Malang, tempat saya menempuh pendidikan, yang menjunjung tinggi nilai ASWAJA (Ahlussunnah wal jama’ah) dan nilai-nilai Nahdatul Ulama. Budaya yang sangat melekat dengan Universitas Islam Malang yaitu pembacaan doa sebelum dan sesudah proses perkuliahan dan diiringi dengan pembacaan sholawat Nuril Anwar. Perbedaan yang sangat saya rasakan ketika melaksanakan perkuliahan di Rusia adalah tidak adanya pembacaan doa awal dan akhir perkulihan. Dari perbedaan itulah yang memperkuat nilai toleransi antar mahasiswa dan dosen pengajar.

  • Perbedaan zona waktu

Proses perkuliahan setiap minggunya dilaksanakan dengan perbedaan waktu sekitar kurang lebih 3 – 4 jam perbedaan waktu antara Indonesia bagian barat dengan Samara, Rusia. Namun hal ini tidak menjadi hambatan bagi saya.

  • Perbedaan bahasa

Hal yang sudah pasti sangat kontras adalah perbedaan bahasa. Mempelajari bahasa Rusia dalam waktu relatif singkat menurut saya adalah tantangan. Terdapat banyak alfabet dan kosakata yang tidak mudah untuk di lafalkan. Sebagai mahasiswi yang berkesempatan belajar di Moscow City University, saya harus selalu belajar untuk memahami bahasa Rusia.

  • Penulis Frida Alifah, Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Peserta Program Kredit Transfer Internasional ke Moscow City University, Samara, Rusia
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Kemerdekaan Belajar di Kelas Rusia Oleh Normalasari Mahasiswi Akuntansi FEB UNISMA Malang Peserta Program Kredit Transfer Internasional

Saya sangat senang sekali ketika dinyatakan lolos Program Hibah Transfer Kredit Internasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, selama 1 semester di Moscow City University, Samara Russia bersama  6 mahasiswa UNISMA Malang lainnya. Selama mengikuti program Transfer Kredit Internasional ini, banyak sekali pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan seperti halnya sistem pembelajaran yang diterapkan. Sistem pembelajaran di Moscow City University sedikit berbeda dengan sistem yang diterapkan di Universitas Islam Malang. Moscow City University memberikan time-table yang meliputi informasi mengenai dosen pengampu, tanggal pembelajaran, estimasi waktu, dan tema yang akan dibahas di setiap pertemuan sehingga dapat memudahkan mahasiswa untuk mempersiapkan materi sebelum kelas dimulai.

Dosen lebih banyak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memanage kelas sendiri. Misalkan dalam mata kuliah Interference in Language and Cultures dosen pengampu membuka kelas dengan tema sesuai time-table kemudian perkuliahan dijalankan oleh mahasiswa sesuai dengan kesepakatan kelas. Tidak ada batasan dalam menjelaskan tema terkait, mahasiswa dapat melakukan presentasi individu, presentasi secara berkelompok, menunjukkan video, sharing dan lainnya. Mahasiswa juga dapat mengganti cara penyampaian materi setiap minggunya. Menurut saya, sistem pembelajaran seperti ini sangat fresh dan membuat mahasiswa lebih kreatif dalam mengemas sebuah materi perkuliahan agar mudah dipahami oleh mahasiswa lainnya.

Selain perkuliahan setiap minggunya, pihak Moscow City University juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa UNISMA untuk terlibat dalam MCU conference. Saya sangat beruntung karena menjadi salah seorang yang mendapatkan kesempatan luar biasa tersebut, menjadi speaker di MCU conference – “Science Juice 2020”. Saya membawakan tema Linguoculture in The Modern World dengan sub tema The Impact of International Language on Modern Language in Indonesia. Sebuah pengalaman yang mengejutkan terjadi saat konferensi berlangsung dimana kesempatan speaker berbicara ditentukan secara acak. Saya ditunjuk menjadi speaker pertama yang membuat saya sedikit kaget. Namun, hal tersebut memberikan pembelajaran kepada kami semua agar selalu siap setiap saat jika mendapatkan tugas dan ternyata hal seperti itu sudah biasa di kalangan mahasiswa Rusia.

Pengetahuan mengenai bahasa dan budaya di Rusia yang kami dapatkan juga sangat menarik. Bahasa Rusia cukup sulit dipelajari, hal tersebut juga diakui oleh dosen pengampu Basic Russian Language and Culture. Mulai dari susunan kalimat, perubahan kata di setiap kalimat dengan penggunaan yang berbeda, dan intonasi berbicara sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Rusia tidak memerlukan Question Words jika ingin bertanya, cukup mengganti intonasi berbicara lebih tinggi. Teman-teman Rusia juga ramah dan sangat menghargai segala sesuatu yang dilakukan orang lain. Saya pernah berkunjung ke kebun buah kemudian menunjukkan beberapa foto kepada mereka dan respon mereka sangat hangat, takjub, tertarik bahkan membalas dengan mengirimkan video serta foto mengenai kondisi di negara mereka.

Kami juga bertukar informasi lainnya seperti makanan dimana orang Rusia suka makan roti dan sayur. Sedangkan, kami orang Indonesia lebih suka nasi dan daging-dagingan. Sangat menyenangkan dapat berkomunikasi secara langsung dengan penduduk Rusia dengan segala keunikannya.

  • Penulis Normalasari, Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi Peserta Program Kredit Transfer Luar Negeri Moscow Citiy University, Samara Rusia.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

It’s Been Such an Amazing Experience: Diskusi di Luar Kelas Bersama Mahasiswa Rusia oleh Nadian Azizi, Mahasiswa Akuntansi FEB UNISMA Malang Peserta Program Kredit Transfer Internasional

Tahun ini adalah tahun paling berharga dan sangat berarti untuk saya, karena saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti progam Kredit Transfer Internasional di Luar Negeri melalui pendanaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kantor Urusan Internasional UNISMA Malang sangat berperan penting dalam hal ini, karena sangat support bahkan membantu kami baik sebelum mengikuti progam (seleksi) maupun setelah saya dinyatakan lolos.

Sedikit cerita yang ingin saya sampaikan saat pertama kali mendengar ada progam kredit transfer, waktu itu saya sangat pesimis karena pesaing dari kampus saya sendiri juga banyak, sekitar 100 lebih pesaing. Dan Alhamdulillah saya bisa Lolos dan mendapatkan dana hibah bersama dengan 6 orang teman lainnya yaitu Imas Masyitoh, Normalasari, Nadian Azizi, Frida Alifah, Ary Hutama dan Ima Kumalasari. Kami ber-tujuh berkesempatan untuk melakukan program Transfer Kredit Internasional dengan salah satu perguruan tinggi di Rusia, yaitu Moscow City University, Samara Russia.

Diskusi Daring di Luar Jam Perkuliahan

It’s been such an amazing experience, yang saya dapatkan di progam tersebut, mulai dari aspek edukasi, maupun relasi, saya mendapatkan banyak benefit dan ilmu yang saya serap juga begitu banyak. Selain itu saya juga mendapat banyak teman khususnya di kampus tujuan kami, yaitu Moscow City University (MCU), Samara Russia. Mereka sangat ramah mengajari saya tentang materi yang diajarkan, baik di dalam kelas, bahkan di luar jam kelas mereka tetap antusias berdiskusi dengan saya. Begitu pula dengan dosen-dosen di sana sangat baik dan sangat sabar. Dalam pemberian tugaspun juga mantappp hehehe. Harapan saya di tahun depan, semoga alumni Kredit Transfer 2020 bisa Sit in langsung di kampus tujuan kami pada tahun 2021 setelah pandemi usai, karena pihak kampus Rusia juga sangat menunggu-nunggu kedatangan kami. Saya sangat sangat menginginkan bisa belajar langsung di Rusia, semoga bisa terlaksana di tahun depam, Amin Yra.

  • Penulis Nadian Azizi, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi Peserta Program Kredit Transfer Luar Negeri Moscow Citiy University, Samara Rusia.
  • Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi http://www.kui.unisma.ac.id
  • Popular Article atau Rubrik Opini http://www.kui.unisma.ac.id adalah terbuka untuk umum. Panjang naskah sekitar 500-600 kata (berbahasa Indoneisa atau bahasa Internasional). Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
  • Naskah dikirim ke alamat e-mail: kui@unisma.ac.id
  • Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.